Mohon tunggu...
Abdul Majid Hariadi
Abdul Majid Hariadi Mohon Tunggu...

Guru

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan dan Berkebudayaan

19 Maret 2019   10:57 Diperbarui: 19 Maret 2019   11:18 0 1 1 Mohon Tunggu...

Di peradaban yang mengagungkan rasionalitas, kecerdasan berpikir, dan teknologi yang nampak malah ironi dalam bersikap. Daya nalar semakin rendah dengan kemampuan verbal sangat pas-pasan sehingga tampak cenderung agresif. Kehidupan bermasyarakat marak dengan kultur mudah marah, gampang tersinggung, dan suka bertengkar.

Ekspresi kebangsaan dipenuhi dengan festival dan keriuhan permusuhan yang muaranya membunuh atau memusnahkan secara psikis dan sosial saudaranya sendiri. 

Menjadi puncak ketercapaian jika melihat saudara sebangsa dirundung berbagai hinaan, cacian, fitnah, dan direndahkan martabat kemanusiaannya. Masing-masing menuju pada cita-cita kekayaan dan kekuasaan sambil menginjak dan mengorbankan keharmonisan bangsa.

Saat ini kita telah mengalami proses degradasi dan defisit moral pada nilai keadaban dan kebudayaan bangsa. Kemesraan kolektif, keharmonisan, dan kebinekaan yang menjadi ciri kultural bangsa ini mulai lenyap. Yang ada adalah pertengkaran-pertengkaran dan keangkuhan komunal. Tidak hanya diliputi kegelapan sosial, bahkan secara teologi juga mengalami kegelapan spiritual.

Bangunan kebangsaan dipenuhi dengan ragam sindirian, ujaran kebencian, dan prasangkanya masing-masing. Toleransi didengungkan dengan cara memfitnah, mencaci maki, merendahkan, dan kekonyolan kebenaran menurutnya sendiri. Setiap orang berteriak nasionalisme sambil merusak rajutan kebangsaan.

Masyarakat Indonesia yang mengesampingkan fitrah kebinekaan sama halnya dengan menggambar duka dan membuat peta kehancurannya sendiri. Bangsa dengan iklim penuh intrik dan kehinaan akan melahirkan generasi yang rendah mutunya. Bangsa dengan kultur agresivitas dan kebencian akan melahirkan generasi pendendam. Bangsa dengan egosentrisme akan memisahkan generasi bangsa dari gravitasi kebinekaan. Sebaliknya bangsa yang dibangun dengan landasan jiwa madaniyah akan melahirkan generasi yang beradab.

Hal ini terbukti berimbas pada praksis pendidikan nasional. Relasi antara guru dan murid berada pada titik mengkhawatirkan. Jika di masa lampau kekerasan di sekolah pelaku utamanya diidentikkan dengan guru, saat ini mendekati perimbangan. 

Guru pun kerap menjadi korban kekerasan dari muridnya sendiri ataupun orangtua murid. Fenomena ini kemudian memunculkan akronim baru dari guru itu digugu dan ditiru menjadi guru itu digugat dan diburu.

Selama ini kita mengenal patologi sosial tawuran pelajar, jangan-jangan nantinya akan muncul patologi baru tawuran pelajar dan guru. Kekhawatiran ini muncul karena penyimpangan perilaku sosial dianggap sebagai kelumrahan. Murid berkelahi dengan pelajar lainnya adalah lumrah karena mereka juga melihat banyak perkelahian antar kampung. 

Mereka mumbully temannya adalah lumrah karena mereka melihat adegan di layar kaca dan media sosial bullying, caci maki, menghina dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Mereka tidak jujur dalam ujian adalah hal lumrah karena mereka melihat para pemimpin setiap hari berlaku tidak jujur dengan perilakunya yang korup.

Karena kelumrahan itulah mereka mencari pelampiasan akan apa yang mereka cari tidak ada di sekolah, rumah, dan masyarakat. Di sekolah, rumah, tempat ibadah, dan lingkungan, mereka merasa bosan dan  tidak menemukan sesuatu hal yang membuat mereka aktif berpikir positif dan kreatif. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2