Mohon tunggu...
Bang Doel
Bang Doel Mohon Tunggu... Penulis - Penulis tentang keperempuanan, pendidikan dan kaum marginal.

Laki-laki lulusan UIN sunan Gunung djati bandung yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Humanity

11 Januari 2023   09:22 Diperbarui: 11 Januari 2023   09:34 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Islam yang sering diidentikkan dengan "anggota tubuh" yang artinya semua orang islam adalah saudara hingga menunjukkan rasa empati dan simpati kala saudaranya mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Analogi lebih jelasnya adalah, ketika kaki atau anggota tubuh seseorang itu terasa sakit maka rasa sakit itu pun akan dirasakan oleh anggota tubuh yang klainnya. Sehingga rasa tidak enak melakukan sesuatu itu akan dialami pada diri orang sakit itu. Itulah islam dengan orang-orangnya yang dikenal dengan muslim dan muslimat.

Pada beberapa pekan ini dan lalu. Rohingya sebutan orang-orang yang beragama Islam mengalami kekrasasan baik secara fisik maupun psikis, membuat media masa dengan beramai-ramai memberitakan tragedi yang dialami oleh mereka. Inilah sebuah tragedy kemanusiaan yang harusnya dirasakan oleh orang muslim yang lainnya. Karena muslim satu dengan yang lainnya itu ibarat dengan anggota tubuh yang lainnya pada satu jasad yang sama. Rohingya atau etnis rohinya raikhane mynamar ini mendapatkan sikap dan prilaku yang tidak mengenakkan itu dikarenakan alasan utamnya adalah agama yang dianutnya. Rohingya adalah kita.

Maka sejenak mari kita memejamkan mata dan kita melihat dengan pandangan muslim kita mengenai orang-orang Rohingya dengan pandangan bahwa mereka sama sepertihalnya bagian dari tubuh, pikiran dan perasaan kita sendiri. Meraba bagian tubuh mana saja yang merasakan sakit adalah sebuah kewajaran yang itu bukan menjadi control dari otak kita, karena sudah pasti secara otomatis ketika tubuh atau anggota badan kita sakit kita akan memgangnya atau setidaknya berkata "au" tanda kesakitan itu dirasakan oleh kita. Maka kesakitan itu adalah kesakitan Rohingya yang mengalami kekerasan fisik dan psikis. Rohingya yang terbuang dari negerinya sendiri yang sudah berpuluh puluh tahun mereka menempati negeri itu, tercerabut dari akar budayanya hanya karena akar masalah keagamaan, dan dihilangkan kebangsaan dan kewarganegaraannya denganseenaknya para penguasa. Karena seharusnya negara itulah yang seharusnya melindungi, malah menghabisi Rohingya tanpa ampun dan kecuali.

Dilansir dari pernyataan sikap GP Ansor, hari ini 60 ribu lebih etnis Rohingya terancam nyawa, pergi melarikan diri dari daerah konflik. Ribuan korban lebih telah tewas di bunuh secara keji dan brutal, ribuan orang pula yang telah dihilangkan secara paksa. 64 persen pelaporan penyiksaan secara fisik dan mental pun masuk dalam catatan. 52 persen perempuan mengalami pemerkosaan dan atau pelecehan seksual lainnya yang mengerikan dialami oleh para kaum perempuan.

Fakta ini yang akan menjadi tragedi kemanusiaan terparah sepanjang sejarah di kawasan ASEAN. Hal inilah yang akan menjadi tuagas kita untuk membangkitkan solidaritas dengan cara santun. Bukan hanya menyebarkan foto palsu atau sekaligus merendahkan dan menghina pemerintah negara sendiri.

Dikutip dari catatan milik Dina Sulaeman tentang Rohingya bahwa etnis Rohingya mengalami penindasan yang dilakukan oleh rezim militer Myanmar, bukan umat Islam dibantai oleh kaum Budha Myanmar. Masih menurut Dina Sulaeman, isu agama memang sangat mudah di manfaatkan untuk membangkitkan kemarahan publik.


Sebagai orang awam ada benarnya jika menyerahkan persoalan Rohingya pada orang atau lembaga yang lebih kompeten dalam masalah ini, pemerintah atau lembaga yang telah ditunjuk menjadi mediator dan fasilitator contohnya. Keterbatasan akan akses dan pengetahuan yang kita miliki terhadap masalah itu memberi alasan tersendiri agar tak membuat tragedi kemanusiaan Rohingya semakin gaduh, karena itu tak membantu kondisi etnis Rohingya akan menjadi lebih baik menurut mereka. Seperti misal melakukan aksi di Candi Borobudur. Tak ada keterkaitan sama sekali sebetulnya, dan salah besar jika komunitas umat Budha di Indonesia jadi sasaran kemarahan akan adanya kasus dari Rhoingya. Rohingya adalah kita merupakan keabsahan baik dari segi Islam maupun atas dasar kemanusiaan, maka apa yang telah dilakukan rezim Myanmar terhadap etnis Rohingya telah melanggar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang sejatinya proses memanusiakan adalah kewajiban kita semua sebagai manusia, dan Konvensi tentang Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Karena banyak diantara korban dari mereka adalah perempuan dan anak-anak yang keduanya itu memiliki kelemahan dari segi kekuatan jasmani sehingga menjadi sasaran empuk untuk melakukan sebuah ketidak benaran dalam kemanusiaan ini. Terutama pada kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang mengerikan yang semakin hari bukannya semakin berkurang, justru semakin bertambah sehingga kasus seperti ini seakan-akan kasus yang biasa saja. Membayangkan seandainya para korban itu adalah anggota keluarga sendiri, ibu kita, saudara perempuan kita dan anak-anak perempuan kita merupakan sebuah cara yang rasional agar kita bisa bijak dalam meladeni dan memandang kasus seperti ini. Kenyataan bahwa banyak diantara korban adalah perempuan dan anak-anak maka ini menjadi tugas bagi lembaga donor, atau siapapun yang akan memberikan bantuan kemanusiaan agar memastikan dipenuhinya kebutuhan dasar perempuan dan anak-anak pun bisa melindungi atau setidaknya mengurangi kekerasan itu. Pertama, pembalut untuk perempuan yang mengalami menstruasi atau masa nifas, kedua susu dan makanan bayi. Mengapa penting?, agar tak melulu bantuan itu berupa makanan instan atau pakaian yang memang itu pun penting, tapia pa salah nya kita lebih membantu lagi secara khusus dalam ranah keumuman perempuan.

Selain itu pemulihan paska bencana yang menimpa perempuan dan anak-anak adalah suatu hal yang perlu dilakukan, sehingga kita paham betul bagaimana rasa trauma akibat konflik yang berkepanjangan tidak membuat mereka takut menatap masa depan karena apa yang dialami oleh mereka. Bahwa masih ada harapan dan kebahagiaan yang menantinya di masa depan untuk mereka perjuangkan, meski untuk sekedar bertahan hidup terasa sulit bagi mereka, namun membuat etnis Rohingya kembali menata hidupnya adalah tugas kita juga, mengembalikan kepercayaan dirinya yang hilang akibat perang, menjadi perjalanan panjang dan PR untuk kita semua agar kasus-kasus semacam ini tak terulang kembali dikemudian hari.

Langkah yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia sudah tepat sebetulnya, dan apa salahnya kita mengapresiasi kerja-kerja Presiden Jokowi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, beserta organisasi, partai politik atau lembaga swadaya masyarakat yang telah melakukan langkah strategis, membuka akses diplomasi dengan Pemerintah Myanmar, serta memberikan bantuan kemanusiaan sebagai bentuk kepeduliaan.

Solidaritas kita terhadap tragedi kemanusiaan etnis Rohinya hal yang penting. Maka dengan memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah Indonesia, menyampaikan informasi yang benar tentang Rohingya dan tidak menambahkan atau mengurangkan fakta yang ada adalah hal yang perlu kita lakukan, maraknya berita hoax di media online, membuat kita harus melakukan cek dan kroscek terlebih dahulu sebelum membagikannya, tidak melibatkan isu sektarian serta tetap menjaga keberagaman, toleransi antar umat beragama di Indonesia. Karena Rohingya adalah kita baik dari segi agama ataupun kemanisaan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun