rahmad m.arsyad
rahmad m.arsyad

rakyat biasa yang pernah sekolah di Universitas Hasanuddin Makassar dan saat ini masih melanjutkan studi di kampus yang sama untuk jenjang magister.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Puti Guntur Soekarno dan Genealogi Politik Indonesia

11 Januari 2018   23:26 Diperbarui: 12 Januari 2018   15:45 1307 6 2
Puti Guntur Soekarno dan Genealogi Politik Indonesia
Puti Guntur Soekarnoputri (KOMPAS.com/Achmad Faizal)

Satu lagi, trah Soekarno muncul di pentas politik indonesia. Sosok, generasi ketiga dari genealogi sang Proklamator. Setelah era "Si Bung Besar" berakhir, kita kemudian mengenal kiprah anak-anaknya dalam pentas politik indonesia dari Megawati, Sukmawati sampai Rahmawati.

Putri-putri Presiden pertama itu, sedikit banyak telah memberikan warna bagi panggung politik negeri ini. Berbeda dengan putra-putra Soekarno, Guntur, Guruh dan Bayu, tampaknya putri- putri Soekarno lebih mewarisi darah dan bakat politik ayah mereka.

Kini, tampaknya sejarah politik generasi kedua Soekarno akan berulang pada generasi ketiga. Setelah Puan Maharani, publik negeri ini, mulai diperkenalkan dengan cucu Soekarno yang lain, yakni Puti Guntur. Cucu pertama, putra sang fajar dari putranya Guntur Soekarno.

Berbeda dengan Puan, selama ini Puti Guntur tidak sepopuler putri Megawati tersebut. Kecuali, mungkin bagi para pemilihnya dari Jawa Barat. Sejumlah catatan, menerangkan Puti merupakan anggota DPRRI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dapil X Jawa Barat sejak tahun 2009-2014, lalu terpilih kembali untuk priode 2014-2019.

Sosok Puti, memang selama ini tidak banyak terekspos media secara luas. Namun, semenjak beberapa hari terakhir, setelah nama Puti Guntur diputuskan sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Timur, berpasangan dengan Saifullah Yusuf. Nama Puti Guntur, mendadak menjadi perbincangan media dan publik.

Banyak yang bertanya, siapa sosok Puti Guntur Soekarno ? Mengapa akhirnya PDIP, menurunkan keponakan ketua umumnya tersebut, di arena pemilihan gubernur jawa timur. Sebuah panggung politik yang hampir pasti akan berlangsung panas dengan jumlah pemilih mencapai 29.765.243.

Puti, exit scenario yang manis.
Saya melihat dari layar Televisi, ketika Sekertaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menangis, lalu dengan emosi yang meledak dan suara bergetar menyampaikan ke awak media, "kami semua menangis, ibu ketua umum menangis, para Kiai menangis atas mundurnya Azwar Anas dari pilgub jatim sebagai pendamping Gus Ipul".

Membaca tangis Hasto, sebelum akhirnya keputusan menurunkan keponakan ketua umum PDIP yang juga mantan presiden kelima, membuat saya yakin bahwa PDIP sebenarnya punya harapan besar untuk memenangkan Pilgub Jawa Timur.

Karena, walau bagaimana pun Djawa tetaplah koentji! Selain Jawa Barat, maka Jawa Timur dan Jawa Tengah, merupakan daerah yang menjadi representasi lumbung suara politik nasional. Menang di Jawa, berarti memenangkan setengah dari kontestasi poltik nasional jelang pemilu tahun 2019.

PDIP serta partai-partai lain, punya kepentingan besar di Jawa Timur. Karena itu, tidak ada alasan harus memasang kader sendiri pada tiga daerah tersebut atau mengusung kandidat yang memiliki peluang terbesar untuk memenangkan pilkada.

Mereka yang ditunjuk menjadi kepala daerah adalah mereka yang harus siap, menjadi petugas partai. Mampu menjaga kepentingan politik jangka panjang untuk memenangkan partai, baik pemilu legislatif sampai pemilihan presiden tahun 2019 nanti.

Karena pemilihan gubernur di tiga Jawa tahun 2018 ini, memang adalah ujian awal sebelum memasuki tahun pemilu 2019. Sekaligus pemanasan mesin partai, ujian solidaritas kader-kader parpol, sekaligus juga merupakan gambaran pencapaian parpol jelang pemilihan presiden dan legislatif tahun 2019 mendatang.

Menurut saya, exit scenario yang dilakukan oleh PDIP kali ini adalah sebuah skenario yang manis. Karena PDIP mendapatkan dua keuntungan sekaligus dengan memajukan Puti Guntur, sebagai calon Wakil Gubernur bersama Gus Ipul.

Pertama, posisi elektabilitas Gus Ipul di Jawa Timur memang untuk saat ini masih tinggi. Kehadiran Puti Guntur, akan semakin mendongkrak elektabilitas mantan Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut secara signifikan. Karena, pasangan Gus Ipul-Puti Soekarno, bisa menarik dua garis kekuatan akar rumput di Jawa Timur secara bersamaan.

Baik basis kelompok Islam tradisional yang diwakili oleh pesantren Nahdlatul Ulama maupun kelompok nasionalis pendukung fanatik Soekarno yang memang lahir dan besar di Jawa Timur. Keduanya dalam hemat saya, akan bergabung menjadi gerbong yang besar.

Kedua, posisi parpol pengusung pasangan Gus Ipul dan Puti memang adalah representasi dua parpol penguasa legislatif DPRD Jawa Timur selama ini. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusai 20 kursi DPRD dan PDIP dengan jumlah kursi legislatif mencapai 19 kursi.

Jika digabungkan, peta kekuatan dua parpol ini adalah koalisi besar yang menguasai 39 kursi mayoritas legislatif DPRD Jawa Timur. Artinya, pasangan ini mengusai hampir 40% suara legislatif. Menyatunya dua figur tersebut dalam satu gerbong, maka hampir pasti daya tarik mesin politik pasangan ini, layaknya mesin turbo yang bisa berlari kencang.

Selain itu dalam jangka panjang, kehadiran puti soekarno di Jawa Timur adalah investasi politik bagi PDIP untuk menghadirkan figur baru regenerasi politik bagi PDIP, apalagi koalisi PDIP dan PKB memang adalah gabungan koalisi politik pemerintahan Jokowi.

Puti Guntur Soekarno dan genealogi politik Indonesia
Terlepas dari kalkulasi politik yang ada, serta pertimbangan menang dan kalah. Bagi saya, kemunculan tiba-tiba Puti Guntur Soekarno dalam arena politik sepenting Jawa Timur adalah cermin dari partai politik indonesia. Ketika pada akhirnya, sirkulasi elit politik tetap di dominasi oleh relasi keluarga para penguasa.

Menjelang tahun 2019, hampir seluruh ketua partai besar sudah mulai mempersiapkan regenerasi politik kedua dan ketiga mereka. Mulai dari SBY dengan Mas Agus, Megawati dengan Puan dan Puti, ataupun Surya Paloh yang mempersiapkan Prananda Surya Paloh.

Menjual nama besar keluarga, tokoh dan hubungan masa lalu atau yang sering disebut sebagai politik patronase memang masih saja penting dalam arena politik negeri ini. Ketika, nama dan sejarah, menjadi cara mendongkrak popularitas dan elektabilitas.

Bagi saya, tentu hal ini wajar dan biasa. Selama, partai politik tetap memberikan ruang bagi sirkulasi elit politik kita tetap terbuka, bagi kemungkinan untuk mereka yang berada diluar trah geneologi elit politik untuk bisa tetap tampil menjadi pemimpin.

Karena itulah guna partai politik, sebagai sarana rekrutmen kepemimpinan bukan sekadar sebagai jalan bagi-bagi warisan kekuasaan. Karena demokrasi adalah jalan dimana setiap orang punya hak dan kewajiban yang sama untuk memimpin di negeri ini.