Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Besar, ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Bukan Kutukan Sinophobia Italia Merona Akibat Corona, Ini Sebabnya

22 Maret 2020   12:30 Diperbarui: 22 Maret 2020   12:53 247 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukan Kutukan Sinophobia Italia Merona Akibat Corona, Ini Sebabnya
The military stands guard outside Milan's cathedral © Reuters via Ft.com edisi 28/2/2020

Sejak pertama sekali Covid-19 (corona) dikonfirmasi terjadi di Italia pada 31 Januari 2020, hingga kini 4.825 orang telah meninggal dunia. Angka ini mengalahkan jumlah kematian di China sebanyak 3.253  orang sejak pertama sekali menjangkiti China (di Wuhan) pada 31 Desember 2019.

Jika dirata-ratakan, sejak pertama sekali menyerang Italia (31/1/2020) hingga 20/3/2020) atau selama 80 hari, rata-rata kematian warga Italia akibat Covid-19 sebanyak 4.825 orang dibagi 80 hari adalah 60 orang. Sedangkan rata-rata warga China meninggal dalam sehari (sejak 31 Desember 2019 hingga cut of data WHO 19/3/2020) atau selama 110 hari adalah 3.253 dibagi 110 hari atau 30 orang per hari.

Sumber : Laporan WHO no 60 per 19/3/2020. Diedit oleh penulis
Sumber : Laporan WHO no 60 per 19/3/2020. Diedit oleh penulis
Ironisnya lagi, ketika di seluruh daratan China memperlihatkan tanda-tanda melemahnya serangan Corona melalui indikator jumlah kematian terkini dan penderita terkini, terjadi hal sebaliknya di Italia, inkubasi Corona semakin merona dan menggila rasanya.

Wilayah gubernuran Lombardy dan Veneto jadi kawasan serangan Corona paling banyak di Italia. Ke dua kawasan tersebut merupakan dua wilayah gubernuran terkaya di seluruh eropa dengan tingkat ekonomi sangat bagus, salah satunya adalah kota Milan. Beberapa kota lain paling menderita antara Lombardy dan Veneto adalah : Betenico, Smoglia, Fombo, San Fiorano, Maleo dan Castelgerundo dan lain-lain. Sumber : Ft.com.

Sejak maraknya virus Corona di Italia, warga China sering jadi sasaran sindiran warga Italia, dianggap sebagai sumber kegaduhan. Jeritan Luca Zaia, Gubernur Veneto adalah salah satu fakta telah munculnya atmosfir kebencian tehadap warga China di kalangan pejabat Italia.

Sinophobia juga telah muncul di kalangan warga Italia menyalahkan China karena kebiasaan mengkonsumsi tikus, kelelawar dan ular serta makanan hutan lainnya.

Sejumlah warga China dan  Korea juga Jepang telah mendapat perlakuan diskrimanasi meningkat tajam sejak bulan Februari di seluruh Italia. Selain itu perusakan terhadap  belasan toko - toko milik warga China terjadi di Brescia, Como dan Varesse. Sejumlah toko lainnya mengalami penurunan penjualan sangat tajam.

Monica Wang, 22 tahun yang menetap di kota Florence pernah menerima pesan di Instagram-nya dari seseorang tak dikenalnya, menulis "kalian orang Cina telah menghancurkan dunia.." dan ditambah kalimat-kalimat menghina penuh kebencian yang tak pantas ditulis dalam artikel ini. Itu adalah fakta betapa warga Italia telah terjangkit Sinophobia dalam atmosfir kebencian yang tinggi terhadap China. 

China berusaha fokus pada usaha mencegah penularan corona di negaranya daripada menjawab atau marah pada sejumlah negara yang menyalahkan mereka karena corona virus terlanjur dianggap berasal dari China (Wuhan). Meskipun beberapa pejabat China berusaha membela diri dari sisi ekonomi dan politik.

Tetapi apakah Italia mendapat "kutukan" dewa akibat terlalu ekstrim menerapkan sinophobia terhadap warga China, padahal di  negeri China sendiri ribuan warganya sendiri juga telah tewas akibat ganasnya Corona virus.

Tentu saja tidak. Banyaknya kasus dan jumlah kematian di Italia hingga melebihi catatan terburuk China bukan karena kutukan atau hukum karma warga China melainkan akibat kurang seriusnya warga Italia melakukan tindakan pencegahan sebaran Corona di negeri Sphagetti tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x