Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Besar, ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Sakaratul Maut atau Bukan, Indra Syafri Lakukan Ini untuk Redam "Viet Cong"

10 Desember 2019   14:16 Diperbarui: 10 Desember 2019   15:57 428 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sakaratul Maut atau Bukan, Indra Syafri Lakukan Ini untuk Redam "Viet Cong"
Kesebelasan Indonesia pada Sea Games 1991 dan 2019 di tempat yang sama, Stadion Rizal Memorial, Filipina. Gambar : Indosport.com dan Kompas.com

Menyikapi lakon babak final antara tim nasional Indonesia melawan Vietnam pelatih Indonesia  (Indra Syafri) berusaha tenang dan menenangkan para punggawa Garuda U23 asuhannya. Kepada pers hari ini Indra mengatakan "Ini hanya final SEA Games, kenapa harus stres? Kalau sakratulmaut tidak apa-apa kita stres," ujarnya memperlihatkan upaya mengusir stres yang datang dari bawah alam sadar.

Tidak salah Indra menyikapi hal tersebut karena ada berbagai cara orang (pelatih) meredam ketegangan pemainnya jelang partai puncak atau penentuan. Ada yang  memberikan"suntikan" pembinaan mental, ada yang mengedepankan sisi psikologis pemain ada juga yang melakukan penyegaran fisik pemain melalui aneka hiburan.

Stres tidak dapat dihindari apalagi ini adalah partai final untuk mengulangi sejarah 28 tahun silam ketika tim Indonesia meraih medali emas cabang sepak bola SEA Games 1991 juga di Filipina. Saat itu tim asuhan Anatoli Polosin, Vladimir Urin dan Danurwindo ini sukses membekuk Thailand lewat drama adu pinalti 4-3 (0-0).

Tentu kita tidak akan membuat Indra jadi banyak menyaring aneka informasi yang beredar harus bagaimana untuk menghadapi Vietnam karena semakin banyak menyaring informasi justru semakin membuat pelatih itu stres padahal sedang mengusir stres.

Akan tetapi sekadar menyuguhi informasi penting jelang perhelatan tersebut tidak salah kita berbagi informasi tentang apa yang perlu ditekankan pada pemain kita pada partai final ini.

Berbekal pada kekalahan Indonesia 0-1 dalam babak penyisihan melawan Vietnam pada 1 Desember 2019 lalu ada beberapa benang merah yang perlu diperbaiki kesebelasan Indonesia yaitu : TIDAK BERANI FIGHT satu lawan satu. Hal ini ditandai dengan :

  • Buru-buru melakukan passing kepada teman ketika bola baru dikuasai
  • Minim melakukan dribbling. Saat terima bola atau kuasai bola langsung dipepet (tekan) oleh pemain Vietnam karena mereka tahu pemain Indonesia tidak akan berani fight satu lawan satu atau man to man marking.
  • Overlapping yang mudah dibaca lawan. Ketika pemain Indonesia berusaha berlari dari arah belakang pemain Vietnam yang satu pemain Vietnam lain membaca arah tersebut sehingga dipepet kembali oleh pemain Vietnam lain.

Jadi kesimpulannya para pemain Indonesia harus berani fight man to man marking. Kemudian dribbling dalam permainan dekat. Atur irama tersebut hingga babak kedua berakhir.

Lima belas menit kemudian dalam masa perpanjangan waktu Indra Syafri harus perintahkan ubah tempo permainan dengan mengubah pola permaianan dari fight satu lawan satu tersebut menjadi pola umpan panjang ketika pemain Vietnam mulai kelelahan.

Jika pemain Vietnam tidak juga kelelahan maka usahakan nasib bisa ditentukan oleh adu pinalti. Biarkan nasib ditentukan di sana. Dan ini lebih terhormat daripada jadi korban Vietnam sebagaimana terlihat pada pertandingan penyisihan 1 Desember 2019 lalu dimana kelihatan sekali pemain kita dicekik dijepit dalam adu bodi yang tidak seimbang.

Saya kira pesan melalui tulisan yang singkat ini perlu dipertimbangkan oleh Indra dan kawan-kawan, siapa tahu bisa bermanfaat. 

Benar Indra, dalam sakaratul maut kita sudah tidak bisa titip apa-apa lagi cuma bisa mengantarkan dengan iringan doa atau bantu melafalkan ucapan yang mempermudah kepergian seseorang jelang ajal menjemput. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN