Mohon tunggu...
Aafajar
Aafajar Mohon Tunggu... Guru PAUD

Pembelajar Yang Tidak Pernah Pintar (email : aafajaroke@gmail. com)

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Pelajaran Sebuah Rencana dari Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab

27 Mei 2019   14:10 Diperbarui: 27 Mei 2019   14:20 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pelajaran Sebuah Rencana  dari Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab
Gambar :Kissping.com dan Catatsn.Sijacky.blogspot.com

Manusia hanya bisa berfikir, berencana, dan berusaha dengan kemampuan "Computational Thinking" nya. Namun, tidak dapat menentukan hasil. Terlebih menentukan jalan hidup seseorang. 

Seorang yang terlihat baik, berbuat baik, tidak bisa dipastikan masa depan dan akhir kehidupannya tetap baik. Begitu juga sebaliknya, seorang yang terlihat jahat, bengis, kasar, dan senantiasa bermaksiat, tidak ada yang tahu akhir kehidupanya tetap pada keburukan atau berhijrah menjadi sholih. 

Sebagaimana kisah tokoh Islam yang satu ini. Di saat Islam belum datang ia adalah tokoh kafir Quraisy yang sangat bengis dan di segani. 

Ia seorang yang pandai bergulat, selalu menang pada setiap pertarungan. Karena ia memiliki tubuh yang kuat, besar dan tinggi. Saking tinggi dan besarnya, ketika berada dikerumunin ia terlihat sangat jelas/

Ialah Umar bin Khattab, keturunan dari tokoh Quraisy yang disegani, yaitu Mughirah, kakek dari ibunya. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail. Ibunya bernama Khantamah binti Hisham bin Mughirah.

Umar yang merupakan keponakan Abu Jahal ini sering kali memimpin pasukan Quraisy dalam peperangan. Dan ia selalu memenangkannya.

Keadaan dirinya itulah yang menjadikan Umar sebagai orang yang paling ditakuti, termasuk oleh umat Islam yang masih minoritas kala itu yang kerap mendapatkan perlakuan kasar dari Umar bin Khattab.

Namun, Allah berkehendak baik terhadap Umar. Keras dan kebengisannya runtuh oleh lembaran bertuliskan kalam ilahi yang ringan di jinjing. 

Sebagaimana yang dikutip oleh www.JalanSirah.com dari bukunya Syeh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung. Berikut kisahnya : 

Suatu ketika, orang-orang Qur'aisy bermusyawarah, untuk mencari siapakah orang yang berani membunuh Muhammad saw. Umarpun segera menjawabnya.

"Aku yang akan membunuhnya!"

Mereka berkata, "Ya, kamu bisa melakukannya."

Para pemuka Quraisy sangat senang Umar hendak merealisasikan rencana mereka dan mereka yakin Umar yang perkasa, ditakuti, dan kuat, dapat menjalankan misi tersebut.

Umar pun segera bangun dan pergi dengan pedang terhunus untuk menghabisi Rasulullah saw. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-'Adawi seraya bertanya:

"Hendak kemana engkau ya Umar ?",

"Aku hendak membunuh Muhammad", jawabnya dengan geram.

"Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad?". Ucap Abdullah memperingatkan Umar.

Umar heran mendengar perkataan Abdullah yang kurang mendukung rencananya. 

"Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?". Tanya Umar.

"Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu", kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada Fatimah dan suaminya. Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

"Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?",

"Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja", jawab mereka.

"Pasti kalian telah murtad", kata Umar dengan geram.

"Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu?", tanya adik iparnya Umar.

Mendengar pertanyaan tersebut, Umar marah dan langsung menendang adik iparnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

"Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah"

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran Al-qur'an tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan Al-qur'an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: "Ini adalah nama-nama yang indah nan suci"

Kemudian beliau terus membaca :

"Thoha"

Hingga ayat :

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

"Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad".

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: "Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah saw pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau berdoa :

"Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam". Rasulullah saq sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa".

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah saw, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

"Ada apa ?".

"Umar" Jawab mereka.

"Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri".

Rasulullah saw memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

"Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab".

Maka berkatalah Umar :

"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah".

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil haram.

Masuk Islamnya Umar membuat gempar kaum Quraisy, terutama mereka yang telah membuat rencana untuk membunuh Rasullah saw, dan berkeyakinan Umar yang bengis, gagah perkasa, jago bergulat, dan bengis, dapat mewujudkan rencana yang telah mereka susun. 

Ternyata pikiran mereka keliru, Allah SWT berkehendak lain terhadap Umar, Rasulullah saw, dan kaum muslimin. Hal diluar logika mereka menetapkan lain dari yang telah mereka rancang.


Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Umar bin Khattab ra tersebut, salahsatunya adalah hindari sikap ujub terhadap pemikiran kita yang mungkin telah  "Computational Thinking". 

Karena serapih dan secanggih apapun pemikiran kita tetap tidak mampu memprediksi rencana sang Mahapencipta yang bisa jadi bertentangan dengan pemikiran yang telah kita desain.

Silakan berpikir, berencana, dan bertindak dengan rapih, gunakan kemampuan Computational Thinking yang dimiliki. Tetapi, ingatlah ayat berikut : 

"Dan kamu tidak dapat menhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (Qs. At-Takwir: 29)

Wallohu'alam, semoga bermanfaat.