Mohon tunggu...
Edukasi

Kaum Millenial Mampukah Melakukan Gebrakan SDG's?

10 April 2019   21:25 Diperbarui: 10 April 2019   21:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sebelum memulai dengan gebrakan millenials dalam SDG's (Sustainable Development Goals). Perlu diperjelas dan dipahami terlebih dahulu apa itu Millenials? Dan apa itu SDG's (Sustainable Development Goals)?

Millenials adalah sebutan yang ditujukan kepada kelompok demografis (kependudukan) atau yang lazimnya dikenal sebagai generasi Y (gen Y) yang lahir setelah generasi X. Awalnya sebutan millenials untuk gen Y ini dipelopori oleh editorial Koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993, mengapa disebut demikian (kaum Millenials)?  Hal ini disebabkan oleh kata millennium yang berarti masa ataupun jangka waktu tertentu dalam 1000 tahun. Orang-orang dilahirkan pada masa ini akan hidup pada masa peralihan atau pergantian abad (millennium) ketika mereka dewasa.

Lantas apa itu SDG's (Sustainable Development Goals) ? (Sustainable Development Goals) merupakan tujuan pembangunan berkelanjutan yang di agendakan oleh PBB ( Perserikatan Bangsa-Bangsa) biasa disebut pula The United Nations. Dimana pembangunan berkelanjutan ini telah disepakati oleh 193 negara dengan 17 tujuan (goals) dan 169 target selama 15 tahun. Pada pembangunan ini lebih memfokuskan kearah mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan, adanya kedamaian dan perawatan lingkungan. Karena ini merupakan pembangunan yang telah disepakati oleh 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, maka sekalipun negara maju akan ikut berpartisipasi dalam artian negara maju tersebut memiliki kewajiban moral untuk mencapai semua goals dari SDG's (Sustainable Development Goals). Don't leave nobody behind  merupakan prinsip yang dipegang oleh SDG's (Sustainable Development Goals).

Kaum millennial sangat erat kaitannya dengan SDG's (Sustainable Development Goals), kaum millennial merupakan agen pelaksana dari SDG's (Sustainable Development Goals). Dimana SDG's (Sustainable Development Goals) dilakukan pada jangka waktu 15 tahun yaitu tahun 2015-2030 yang merupakan tahun dimana kaum millennial sudah dewasa dan memiliki peranan dalam tatanan sosial.

Sebelum adanya SDG's (Sustainable Development Goals), ada yang dinamakan MDG's ( Millennial Development Goals) namun ini kurang efektif dikarenakan sebelum diagendakan sudah banyak negara yang telah mencapai goals tersebut dan MDG's ( Millennial Development Goals) lebih menitik beratkan untuk memberantas kemiskinan beda dengan SDG's (Sustainable Development Goals) cakupannya luas seperti kesetaraan gender, mode konsumsi pangan, tatanan pemerintahan, pendidikan, perekonomian, lingkungan dan sebagainya. MDG's ( Millennial Development Goals) hanya negara miskin saja atau negara berkembang yang melakukan untuk mencapai goalsnya negara maju hanya akan men-support dana, adapun pada SDG's (Sustainable Development Goals) semua negara seharusnya bekerja sama untuk mencapai goals tersebut. MDG's ( Millennial Development Goals) bisa dikatakan gagal sebab dalam tujuan MDG's ( Millennial Development Goals) tidak terdapat penghargaan terhadap HAM, artinya keadilan dan perdamaian belum merata sehingga banyak terjadi deskriminasi dan pelanggaran hak yang orang lain miliki.

Adapun 17 goals dalam SDG's (Sustainable Development Goals) yaitu, tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan yang merata dan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi yang terjangkau, pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi,industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan; kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan terhadap perubahan iklim, pelestarian ekosistem laut, pelestarian ekosistem daratan, perdamaian; keadilan dan kelembagaan yang tangguh, dan mengadakan kemitraan untuk mencapai tujuan.

Dalam mengatasi kemiskinan atau dunia tanpa kemiskinan, kaum millennial dipercaya dapat atau mampu melawan serta memberantasnya, telah diketahui bahwa kaum millennial adalah individu yang umunya menerima atau mendapatkan pendidikan, mampu berinovasi dalam teknologi, dan kemampuannya dalam wirausaha, serta produktif. Dengan meningkatkan produktifitas yang didukung oleh salah satu faktor seperti pendidikan, inovasi dalam teknologi ataupun dalam berwirausaha mampu memberantas kemiskinan. Bisa dibilang individu yang produktif mampu memberikan nilai tambah terhadap dirinya sekaligus dapat member pekerjaan kepada individu lain. Karena sekarang ini kaum millennial lebih memilih untuk membuka lapangan pekerjaan dibandingkan melamar suatu pekerjaan. Dengan tercapainya goal tanpa kemiskinan, maka goals yang lain akan ikut tercapai seperti goal tanpa kelaparan. Dimana jika semua individu sudah mampu maka tidak aka nada lagi individu-individu yang kelaparan, namun hal tersebut juga mesti diiringi dengan tersedianya pangan yang memadai disetiap negara. Tidak hanya mengenai memberantas kelaparan, makanan yang dimakan tersebut baiknya yang bergizi dan bermanfaat bagi tubuh. Dalam hal pengelolaan pangan tersebut telah menggunakan teknologi canggih yang merupakan hasil dari pemikirian kaum millenialis. Adanya pangan yang baik dan berkualitas akan menciptakan kehidupan yang sehat, lalu apakah orang yang sehat sudah tentu sejahtera? Cara yang dilakukan kaum millennial untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera ialah dengan mandiri. Sejahtera bukan berarti Anda harus memiliki rumah, kendaraan ataupun tumpukan uang di Bank, melainkan orang yang menikmati hidupnya, mensyukuri segala halnya dapat membuat hidup jadi bahagia. Hal yang  akan menjadi penghalang besar bagi kaum millennial untuk mencapai kehidupan yang sejahtera adalah budaya konsumtif. Dengan berlaku konsumtif maka segala halnya tidak akan terasa cukup. Salah satu yang menandakan hidup yang sehat ialah dengan tersedianya air dan sanitasi yang baik, kaum millennial akan terus berkarya dan berinovasi untuk meniptakan sebuah cara dimana semua masyarakat bisa mendapatkan air yang bersih.

Pendidikan merupakan hal yang semestinya semua orang dapatkan, sekarang ini masih banyak orang yang belum mengeyam pendidikan yang memadai diberbagai pelosok-pelosok. Kaum millennial merupakan orang yang prihatin akan hal ini ditandai dengan banyaknya organisasi kaum millennial yang melakukan ekspedisi ke pelosok-pelosok untuk membagikan ilmu yang mereka miliki. Selain itu, kaum millennial biasanya mendirikan tempat belajar untuk anak jalanan agar mereka dapat merasakan bagaimana bersekolah.

Pada masa ini kesetaraan gender bisa dikatakan masih tabuh, dimana pada beberapa daerah wanita tidak mampu mendapatkan hal yang bisa didapatkan oleh lelaki dikarenakan gendernya. Pada masa lampau, Raden Ajeng Kartini telah menyuarakan hak-hak atau mengenai pemberdayaan wanita. Gender itu bukanlah merupakan jenis kelamin, melainkan sebuah karakteristik yang terikat pada suatu golongan. Dalam hal karier, wanita lebih cenderung untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan laki-laki, jikalaupun mendapatkan pekerjaan akan ada kesenjangan gaji yag diterima. Adapun bagi kaum millennial utamanya perempuan millennial sangat menolak dengan adanya kesetimbangan mengenai suatu hal dikarenakan gendernya  , mereka akan lebih berusaha untuk mendapatkan sebuah kesetaraan.

Generasi millennial merupakan generasi yang kreatif, aktif, dan inovatif. Jadi untuk mendapatkan suatu pekerjaan relative mudah untuk didapatkan. Selain mendapatkan pekerjaan biasa terdapat kaum millennial yang malahan menyediakan lapangan pekerjaan. Karena aktif dan mudah dalam berinovasi maka banyak pekerjaan yang  bisa mereka dapatkan. Terlebih lagi kebanyakan kaum millennials lebih tertarik kearah industri, yang artinya mereka mampu menciptakan suatu hal yang dapat mempermudah pekerjaan manusia, adapun perkembangan infrastruktur yang lebih baik lagi dan efisien karena kaum millennial lebih kreatif dalam mengelola segala halnya. Dengan layaknya suatu pekerjaan, pengembangan industry dan perbaikan infrastuktur ke arah yang lebih baik lagi dapat meningkatkan perekonomian suatu negara.

Mengurangi kesenjangan antara komunitas dapat dilakukan oleh kaum millennial karena mereka adalah kaum kreatif sehingga antara komunitas yang satu dengan yang lainnya akan berkembang tanpa adanya kesenjangan yang berarti.

Kaum millennial merupakan orang atau individu yang konsumtif, sehingga jika terus dilakukan maka keseimbangan antara produksi dan konsumsi terganggu. Makanya kaum millennial harus menjadi individu yang mengonsumsi suatu barang ataupun jasa secara bertanggung jawab. Bukan hanya konsumsi yang dilakukan secara bertanggung jawab, melainkan produksi juga harus bertanggung jawab dalam artian produsen harus bijak dalam menggunakan dan mengelola sumber daya yang digunakan. Konsumsi yang tidak bertanggung jawab akan membuat harga suatu energi akan naik. Maka dari itu kaum millennial dibutuhkan untuk tidak menjadi konsumtif dan membuang-buang  energi. Seperti menggunaka AC (Air Conditioner) dengan men-set pada suhu 18 C namun tetap menggunakan selimut, ataupun jika bepergian keluar ataupun ketika hendak tidur tidak mematikan lampu, serta menyalakan televisi namun tidak ditonton. Nah, untuk menghindari sikap konsumtif diperlukan sebuah kesadaran dan tekad dari kaum millennial.

Salah satu hal yang bisa dilakukan kaum millennial dalam melestarikan ekosistem laut dan darat, yaitu dengan cara tidak semena-mena terhadap alam. Seperti halnya bijak dalam penggunaan kertas yang sebaiknya diganti dengan media elektronik, karena kertas diperoleh dari pohon yang merupakan bagian dari hutan. Menggunakan plastik seminimal mungkin, plastik merupakan bahan yang amat sangat sulit untuk diuraikan sehingga dapat merusak lingkungan. Seringkali didapati plastic merusak biota laut. Sekarang ini sebagian kaum millennial sudah sadar akan tidak baiknya penggunaan barang yang single use. Sebagai contoh penggunaan tumbler dan sedotan metal yang mampu mengurangi penggunaan plastic sekali pakai, terlebih lagi tumblr dan sedotan metal lebih aman untuk digunakan.

Lalu bagaimana kah peran millennial dalam misi perdamaian dan keadilan, disinilah misi yang sangat besar untuk dilakukan oleh kaum millennial. Dimana sekarang ini aksi terrorisme yang bertujuan untuk memecah suatu ideologi, negara atau apapun itu mulai disebar melalui internet yang bertujuan untuk menjatuhkan mental beberapa kaum ataupun untuk memprovokasi, disini sebgai kaum millennial perlu bijak dalam menerima news ataupu kabar, jangan sampai kita sebagai kaum millennial memercayai berita Hoax, terlebih lagi apabila kita meyebarkan informasi atau berita tersebut. Seharusnya kaum millennial menjadi pendobrak suatu berita hoax. Kaum millennial juga harus menenggelamkan pemahaman mengenai perbedaan, karena dengan menganggap bahwa perbedaan itu salah, justru yang perlu dilakukan ialah dengan menerima dan toleran terhadap perbedaan tersebut. Maka dari itu kaum millennial harus turut serta dalam perdamaian dan keadilan dunia dengan menjadi kaum yang bersifat simpatif dengan toleran yang tinggi, serta bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Tujuan yang terakhir ialah kemitraan untuk tujuan, disinilah diperjelas bahwa dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan dari SDG's ( Sustainable Development Goals) dibutuhkan kerja sama antara negara yang satu dengan yang lainnya.

Sebagai kaum millennial, kaum muda bukan berarti tidak ikut serta dalam perwujudan SDG's ( Sustainable Development Goals) bukan menjadi apatif terhadap tujuan dari SDG's ( Sustainable Development Goals), justru kita harus berperan besar dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Apakah sebenarnya kaum millennial mampu mewujudkan semua goals tersebut? Dan apakah SDG's (Sustainable Development Goals) dinyatakan sukses bila semua goals tersebut dapat dicapai pada tahun 2030?