Mohon tunggu...
Ire Rosana Ullail
Ire Rosana Ullail Mohon Tunggu... irero

Book Sniffer.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Film Green Book, Solidaritas dalam Potret Satir Era Rasialisme Amerika

9 Mei 2020   23:17 Diperbarui: 9 Mei 2020   23:07 114 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Film Green Book, Solidaritas dalam Potret Satir Era Rasialisme Amerika
sumber: universalpictures.com

"So if I'm not black enough and if I'm not white enough, then tell me, Tony, what am I?"_Dr. Shirley

Saya ikut trenyuh ketika Dr. Donald Shirley mengucapkan dialog tersebut dengan penuh emosional.

Film green book membawa kita kembali ke tahun 1962, masa di mana Amerika belum sedewasa sekarang dalam menghadapi perbedaan warna kulit.

Di masa-masa itu diskriminasi terhadap orang kulit hitam benar-benar kentara dan terlihat menyedihkan. Contoh beberapa potret diksriminasi juga bisa kita lihat dan pelajari dari beberapa buku seperti To Kill a Mocking Bird dan The Color of Water. Di sana kita bisa menangkap potret ketidakadilan bagi warga kulit hitam.

Green book sendiri adalah salah satu film biografi berbalut komedi satir tentang diskriminasi orang kulit hitam. Film ini mengangkat kisah nyata persahabatan Dr. Don Shirley seorang pianis berkulit hitam dengan Tony Vallelonga orang kulit putih yang tak lain adalah sopir perjalanan tournya.

Film ini dimulai ketika Tony Vallelonga kehilangan pekerjaan dan mulai menjalani hidup sebagai pengangguran. Suatu hari sebuah tawaran datang yaitu menjadi sopir pribadi seorang pianis untuk tur ke beberapa negara bagian Amerika.

Tony yang rasis dan anti kulit hitam awalnya menolak dengan keras tawaran tersebut namun, pada akhirnya ia menyerah dan menerima dengan beberapa syarat.

Green book sendiri adalah buku panduan perjalanan bagi orang kulit hitam. Di era rasialisme Amerika, tidak mudah bagi seorang kulit hitam untuk melakukan perjalanan khususnya di negara bagian. Buku ini sebagai petunjuk di mana saja orang kulit hitam bisa mendapat restoran, motel, pom bensin yang aman untuk orang kulit hitam.

Don Shirley sendiri seorang jenius yang terlahir dari keluarga kaya dan memiliki sikap serta sifat seorang bangsawan. Sementara Tony berasal dari keluarga biasa, kurang terdidik dan lebih terkesan slengehan serta emosional.

Di awal-awal perjalanan Tony masih menunjukkan ketidaksukaannya kepada Dr. Shirley. Namun setelah melewati banyak kilometer mereka mulai mengenal satu sama lain secara lebih dalam. Tony mulai bisa melihat sisi lain dari Dr. Shirley.

Dr. Shirley sendiri melakukan tour dan memainkan musik klasik untuk merubah pandangan dunia terhadap orang kulit hitam -yang dinilai tidak sekelas dengan orang kulit putih. Musik klasik sendiri pada masa itu dianggap sebagai musiknya orang kulit putih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x