Mohon tunggu...
Heru Afandi
Heru Afandi Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Islam Memandang Gaya Hidup Komsutif Generasi Milenial

15 Mei 2019   10:57 Diperbarui: 15 Mei 2019   11:03 0 0 1 Mohon Tunggu...

Dampak perkembangan era globalisasi semakin nampak dalam berbagai aspek. Tidak terkecuali pada gaya hidup sehari-hari pada kalangan anak muda atau yang lebih kita kenal dengan generasi millenial. 

Pada gerenasi milenial ini banyak kita menemukan keanehan-keanehan yang yang banyak kita alami di era milenial ini, maksud keanehann disini bukan masalah bahwa kita hidup di dunia sihir ataupun sulap  tapi kita hidup di dunia dimana kita disuguhkan dengan tekhnologi yang serba canggih. 

Dimana tekhnologi disini banyak membantu aktiviats manusia dan juga dapat menimbulkan sisi negatif. Seiring berjalannya teknologi disini banyak menimbulkan pro dan kontra terhadap dampak dari perkembangan tekhnologi yang semakin pesat ini.

Menurut elword calson dalam bukunya yang berjudul the lucky few: betwen the graetest gerenation and the baby boom(2008) generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentan tahun 1983 sampai 2001. 

Jika didasarkan pada generation teory yang dicetuskan oleh karl mainheem 1923 generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1989 sampai dengan 2000. Generasi milenial juga disebut dengan generasi Y. Istilah ini mulai dikenal mulai dikenal dan dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada tahun 1993.

Sebelum adanya gerenasi milenial ini atau generasi Y ada juga yang namanya generasi X dimana generasi ini adalah generasi sebelum generasi Y dan yang terbaru sudah muncul yang namanya generasi setelah generasi Y yaitu generasi Z. Dibanding dengan generasi sebelumnya generasi milenial adalah generasi yang sudah masuk yang namanya sosial media, media komunikasi dan teknologi digital. 

Dalam teknologi yang serba canggih ini kita yang betada di era generasi milenial mampu ataupun bebas berpendapat, bebas berjualan online, bebas membeli barang yang kita mau, bebas membeli makanan yang kita inginkan, bebas berespresi kapanpun dan dimanapun hanya dengan ponsel pintar yang kita miliki bahkan tak jarang generasi milenial lebih suka memainkan handphone dari pada menonton televisi.

Di era milenial gaya hidup yang konsumtif banyak kita jumpai di sekitar kita. Konsumtif disini dapat diartikan kegiatan membeli ataupun mengkonsumsi tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan tidak didasarkan dengan pertimbangan yang rasional atau juga bukan atas dasar kebutuhan sebagai akibatnya mereka membelanjakan uangnya dengan membabi buta. 

Sifat konsumtif diartikan seseorang Memiliki  keinginan yang kuat untuk membeli ataupun mengkonsumsi barang dari produsen. Bagi seseorang yang memiliki sifat konsumtif mereka beranggapan bahwa barang-barang yang mereka dapatkan adalah simbol keistimewaan.

Gaya hidup yang konsumtif seakan-akan sudah melekat  pada  kaum milenial sebagai contohnya seseorang wanita yang masih mengkonsumsi tas padahal perlu diingat bahwa di rumahnya sudah banyak tas yang dimilikinya bukan hanya itu saja ada juga yang masih mengkonsumsi barang barang yang yang sudah mereka miliki sebagai contoh sepatu high hill, barang barang kecantikan, alat-alat dapur dan lainnya mereka beranggapan bahwa memilikinya hanya untuk dikoleksi dirumahnya.

Dalam hal ini Islam memiliki suatu pandangan terkait dengan gaya hidup konsumtif generasi milenial, diantara asumsi dasar ekonomi islam adalah sebagai berikut:

1. sistem perekonomian yang ada telah mengallikasikan aturan syariat islam dan sebagian besar masyarakatnya mayakini dan menjadikan syariat sebagai bagian integral dalam setiap aktivitas kehidupannya 

2. Wajib hukumnya untuk membayar zakat bagi setiap individu yang mampu

3. Konsumen mempunyai perilaku untuk memaksimalkan kepuasannya

Sedangkan Etika konsumsi yang diajarkan dalam islam antara lain:

1. Jenis barang yang dikonsumsi adalah baik dan halal 

Yang dimaksud halalbdisini ialah meliputi zat dan prossesnya. Zat, artinya secara materi barang tersebut telah telah disebutkan dalam hukum syariah. Halal, dimana asal hukum makanan adalah boleh kecuali yang dilarang.

2. Kuantitas barang yang dikonsumsi tidak berlebihan.

Islam mengharamkan sikap boros dan menghamburkan harta. Hal tersebut tersebut termasuk bentuk keseimbangan yang diperintah dalam Al-Qur'an yang mencerminkan sikap  keadilan dalam konsumsi 

3. Dalam etika konsumsi menurut Islam, yang dianjurkan adalah yang tengah-tengah yaitu hidup hemat dan sederhana. Artinya, mengkonsumsi sesuatu memang karena butuh dan sesuai dengan kemampuan diri. Tidak berlebihan dan bermewah-mewahan tetapi juga tidak kikir dan pelit. Hidup hemat dan sederhana adalah solusi dari agama Islam di antara pilihan boros, mewah dan kikir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2