Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mas Nadiem Sebaiknya Pelesiran ke Kampung: Bukan Surat Terbuka

24 Juli 2020   22:35 Diperbarui: 26 Juli 2020   05:50 4380 82 31 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mas Nadiem Sebaiknya Pelesiran ke Kampung: Bukan Surat Terbuka
Belajar tanpa guru ibarat anak ayam kehilangan induk (Foto: Miftah/MFR Studio)


Mas Nadiem yang arif.

Semoga surat remeh ini dapat menemui Mas Nadiem, tidak mengganggu aktivitas Mas Nadiem selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan mudah-mudahan terbaca dengan baik tanpa meninggalkan jejak salah sangka atau buruk duga.

Perkenalkan, Mas Nadiem, saya seorang penulis recehan yang tengah dicecar cemas dan sedikit dicocor galau. Tulisan ini sebatas curhat yang tidak bertujuan apa-apa selain ingin sekadar berbunyi dan bersuara.

Adapun perkara yang ingin saya bunyikan dan persoalan yang hendak saya suarakan adalah tentang Pembelajaran Jarak Jauh yang tengah digencarkan oleh kementerian yang sedang Mas Nadiem pimpin.

Irmayanti, orangtua siswa yang berjuang mati-matian agar anaknya tetap belajar (Foto: Miftah/MFR Studio)
Irmayanti, orangtua siswa yang berjuang mati-matian agar anaknya tetap belajar (Foto: Miftah/MFR Studio)

Mas Nadiem yang bijak.

Perlu saya sampaikan bahwa kampung saya bernama Borongtammatea. Mohon tidak usah repot-repot mencari kampung saya di peta, Mas. Tidak bakal terjumpa. Sekadar bayangan, kampung saya terletak di Kabupaten Jeneponto, tepat di kaki Pulau Sulawesi.

Di kampung saya, Mas Nadiem, ponsel (mau yang cerdas atau yang bego) termasuk barang mewah. Jangankan ponsel, Mas, buat makan sehari-hari saja harus dikais sedemikian rupa. Itu kalau zaman normal. Pada zaman abnormal yang bertabur ketakutan pada korona ini, ponsel jelas bukan kebutuhan mendesak yang mesti segera dibeli.

Setakat itu, Mas Nadiem, orangtua mana pun tentu ingin benar menyenangkan hati anak-anaknya. Semua orangtua niscaya mau sekali melihat anak-anaknya cerdas dan berprestasi. Sekalipun kepala dan kaki terpaksa bertukar posisi, orang-orang di kampung saya juga mati-matian mencari uang demi sebuah ponsel.

Wiwin Asmara tetap tekun meski harus belajar di rumah (Foto: Miftah/MFR Studio)
Wiwin Asmara tetap tekun meski harus belajar di rumah (Foto: Miftah/MFR Studio)

Mas Nadiem yang baik hati.

Kenyataan jelas tidak seindah yang diinginkan, Mas Nadiem. Banyak orangtua murid di kampung saya yang tidak sanggup membeli gawai. Demi memenuhi pembelajaran tatap maya di kelas virtual, Irmayanti (seorang ibu rumah tangga) harus menahan malu. Ia pinjam ponsel tetangga asalkan anaknya tetap belajar.

Bagi orang kaya tentu saja ponsel bukan sesuatu yang memberatkan. Tidak bagi orangtua di kampung saya, Mas. Ada satu keluarga yang hanya punya satu ponsel. Bapak bekerja, anak gagal belajar. Ada juga yang sama sekali tidak punya ponsel. Irmayanti contohnya. Dapat pinjam ponsel pun masih harus memeras otak. Dari mana uang kuota bisa didapat?

Aulia Ramadani, putri Irmayanti, tentu saja bahagia walaupun belajar lewat ponsel pinjaman. Namun, bisakah Mas Nadiem bayangkan bagaimana perasaan Aulia andaikan ia dirisak atau diejek oleh teman-temannya karena ponsel pinjaman itu? 

Tenang, Mas Nadiem, saya tidak akan bercerita tentang pengaruh psikologis perisakan bagi anak didik.

Kelas Virtual versus Kelas Konvensional (Foto: Miftah/MFR Studio)
Kelas Virtual versus Kelas Konvensional (Foto: Miftah/MFR Studio)

Mas Nadiem yang murah senyum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x