Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Skripsi Penuh Coretan, Artikel Berantakan, dan Konjungsi Korelatif yang "Belang-betong"

20 Juli 2020   15:09 Diperbarui: 24 Juli 2020   11:01 1297 71 37 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Skripsi Penuh Coretan, Artikel Berantakan, dan Konjungsi Korelatif yang "Belang-betong"
Ilustrasi artikel berantakan (Sumber Foto: straitstimes.com)

Banyak mahasiswa yang meremehkan atau memandang remeh bahasa Indonesia, padahal kelimpungan ketika skripsi mereka dicorat-coret oleh dosen pembimbing. Banyak pula penulis yang merasa sudah paham bahasa Indonesia, padahal mereka masih keteteran saat menggunakan kata sambung.

Fenomena mahasiswa keleyengan gara-gara skripsi direvisi berkali-kali bukanlah sesuatu yang asing. Itu lumrah terjadi. Begitu pula dengan penulis, termasuk Kompasianer, yang kadang-kadang rongseng karena tulisannya tidak selesai-selesai.

Jika hal sedemikian terjadi maka berhentilah menasihati teman atau saudaramu dengan kalimat klise, seperti "menulis itu mudah". Hindari saran seperti itu. Kamu harus punya empati. Jangankan menyelesaikan skripsi, menemukan judul pun sulit. Begitu judul ketemu, dosen pembimbing tidak klop. Tatkala judul diterima, proposal ditolak.

Maka dari itu, jauhkan saran "menulis itu mudah" dari mahasiswa yang selama beberapa hari menderita beser-beser dan berak-berak akibat revisi berkali-kali. Itu menyakitkan. Daripada menggampangkan, lebih baik minta mereka membaca artikel ini. Siapa tahu temanmu terbantu. Kamu terima pahala, saya dapat pembaca.  

Sebenarnya rumus "menulis itu gampang" hanya dikuasai oleh orang dengan kemahiran menulis yang setara dengan kemampuan mengedip atau menghela napas. Sekali duduk kelar satu bab. Sekali mengetik selesai satu artikel.

Sayang sekali, jumlah orang seperti itu tidak banyak.

Karena Bahasa Indonesia Itu (Tidak) Mudah

Jika ada mahasiswa mengaku bahwa skripsinya tidak kelar-kelar karena susah bertemu dengan dosen pembimbingnya, jangan terlalu mudah percaya. Mungkin dospemnya memang susah ditemui, mungkin juga si mahasiswa kurang alot memperjuangkan skripsinya. Bagaimanapun, dospem juga manusia. Sentuh hatinya.

Di sisi lain, kita memang harus mengakui bahwa banyak mahasiswa yang tidak serius membiasakan diri belajar menulis sejak remaja. Sudahlah materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah begitu-begitu melulu, malas pula mengasah kemampuan menulis di rumah. Giliran tugas skripsi tiba di depan mata, langit seakan-akan runtuh dan jatuh tepat menimpa kepala.

Ada juga mahasiswa yang mengira bahwa bahasa Indonesia sangat mudah. Alasannya karena mereka sudah menggunakan bahasa Indonesia sejak balita. Padahal, mereka kontan kelabakan jika diminta membedakan preposisi dan konjungsi. Itu fakta, Kawan.

Memang bahasa Indonesia mudah kalau kita tahu cara atau kaidah menggunakannya. Lo, apa pun mudah kalau kita tahu cara melakukan atau menggunakannya. Lantas, mengapa banyak mahasiswa atau penulis yang "menyerah sebelum perang usai"?

Pelan-pelan, Kawan. Saya akan menguliknya dari satu sisi dulu. 

Melalui artikel receh ini, kita akan membincangkan konjungsi korelatif. Ini ilmu rendahan yang sangat penting bagi mereka yang selama ini sukar menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalimat dengan kalimat, atau alinea dengan alinea. Jika kalian sudah khatam menggunakan konjungsi, termasuk konjungsi korelatif, enam skripsi pun bisa kelar dalam satu semester.

Berkenalan dengan Konjungsi Korelatif 

Langsung saja, ya. Konjungsi korelatif adalah "jembatan" yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa dengan status sintaksis yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x