Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kompasiana Masih Rumah Teduh bagi Kompasianer?

13 Juli 2020   23:08 Diperbarui: 14 Juli 2020   00:03 603 72 38 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasiana Masih Rumah Teduh bagi Kompasianer?
Logo Kompasiana (Sumber: kompasiana.com)


Hampir setahun saya bertapa di Gunung Cemas. Benar-benar bertapa sehingga menengok Kompasiana, selanjutnya saya singkat K, tidak saya lakukan. Jangankan semenit, sedetik pun tidak. Saya benar-benar ingin menjauh dari sorak-sorai dunia pertulisan dan perblogan. Meski begitu, K tetap saya rawat dalam ingatan sebagai yang tidak akan terlupakan.

Jadi, saya berharap Admin K tidak berduka walaupun saya tidak pernah bertandang ke K selama musim pengungsian. Lagi pula, saya memang menjauhi riuh rendah media sosial. Gantung sabuk di Facebook. Gulung tikar di Twitter. Tutup kios di Instagram. Kubur akun di WA. Semuanya. Kenapa? Karena saya tengah merampungkan sebuah kitab panduan bagi para pesilat pena.

Seminggu lalu saya turun gunung. Begitu muncul di Twitter, tiba-tiba ada yang menagih agar saya kembali setor muka di K. Tidak tanggung-tanggung. Ia meminta hasil terawangan saya tentang ketimpangan gender dalam KBBI. Mendadak saya melankolis. Kepala saya diserbu rasa sentimentil. Banyak kerabat di K yang mengundang rasa rindu. Bukan sekadar sapa basa-basi di bilik komentar, melainkan benar-benar bertegur sapa dari lubuk hati.

Pada kepulangan hari pertama, saya merasa persis orang asing di dukuh kelahiran. Nyaris tak ada warga yang saya kenal. Bahkan yang saya kenal pun kini sudah berbeda nama. Tilaria hilang. Romo hilang. Itu sekadar sebut nama. Untung masih ada Mbah Ukik, Pak Tjipta, Mbah Lohmenz, dan Pak Hensa. Aduh, sepuh semua. Tidak. Ada yang agak muda. Om Tedra dan Uda Zaldy. Sayang, mereka tidak doyan bercanda lagi.

Tiba-tiba ada yang sok akrab. Seolah-olah sudah lama mengenal saya. Om Gege namanya. Sungguh, saya kaget karena ada om-om yang sok kenal sok dekat. Semoga beliau tidak membaca tulisan ini.

Rindu Rumah Ramah

Begitu saya tiba di rumah teduh ini, saya langsung disambut dengan fasilitas baru. Premium. Saya kecewa. Bukan karena nilai uangnya, bukan. 

Pertama, karena penggunaan bahasa Inggris. Kompasiana lambat laun makin kayak anak Jaksel. Bahasa dikira gado-gado. Apa susahnya pakai frasa Pengguna Premium? Sebagai bagian dari keluarga besar Kompas, saya heran mengapa K bisa sekebarat-baratan itu. 

Tidak aneh, sih. Dulu saya juga sudah mengusulkan agar K menyembuhkan penyakit kekurangan vitamin E. Tidak ada perubahan. Rubrik karir tidak diubah menjadi karier. Malah event pun masih tetap event. Ah, sudahlah. Biarkan saja. Itu hak Panglima Nurulloh dan laskarnya. Apalah arti saran Eyang Sinto Gendeng ini.

Kedua, Premium ternyata gratis. Kata siapa berbayar? Saya bisa pakai premium tanpa bayar apa-apa, kok. Lumayan juga bisa terbebas dari iklan-iklan pemutih kulit, penghilang kutil, dan pelumas keriput. Hanya saja, masa bakti premium saya cuma dua minggu. Masa trial, kata Admin yang makin nginggris. Setelah dua minggu, ya, harus bayar jika ingin fasilitas level dewa. 

Bukankah seharusnya K selalu rumah teduh bagi Kompasianer? Jika harus ada iuran premium baru bebas iklan, rasa-rasanya seperti layanan setengah hati. Lo, di atas bilang tidak apa-apa. Sekarang malah ngedumel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN