Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Salah Kaprah "Mawas Diri"

10 Juli 2019   09:36 Diperbarui: 10 Juli 2019   10:26 0 20 5 Mohon Tunggu...
Salah Kaprah "Mawas Diri"
Dokumen Pribadi

Catatan: Artikel ini dimuat di Rubrik Lingua, Jawa Pos, pada Minggu (30 Juni 2019). Selaku penulis, sengaja saya tayangkan di Kompasiana dengan tambahan secukupnya, mana tahu berfaedah untuk lingkup pembaca yang berbeda. Bacalah dengan cermat, barangkali saja berguna bagi Anda. 

Sudahlah. Tidak perlu bersusah payah mencari tahu berapa banyak orang yang akrab dengan "wawas diri", terkait "upaya mengoreksi atau mengintrospeksi diri", sebab pengguna bahasa Indonesia lebih mengintimi "mawas diri". Sungguhpun mawas diri terhitung salah kaprah, orang-orang telanjur menyangka istilah tersebut sudah tepat.

Memang wawas diri dan mawas diri sangat mirip dalam penulisan. Konsonan /w/ akan menjadi /m/ jika dibalik. Sebaliknya juga begitu. Boleh jadi kesangatmiripan itulah yang memicu kesalahkaprahan. Tidak heran apabila pengguna bahasa Indonesia lebih banyak memakai mawas diri dibanding wawas diri. Kadung kaprah, orang-orang terus memakai mawas diri. Pada titik ini, pengguna lebih mendekati tidak tahu daripada tahu.

Mengapa mawas diri keliru? Mari kita sigi. Dalam KBBI V, mawas bersinonim dengan 'orang utan'. Dengan demikian, mawas masih sekerabat dengan kera, monyet, atau wanara. Boleh jadi mawas sefamili dengan gorila atau babon. Lantas apa makna mawas diri? Bisa jadi, "orang utan yang tahu diri". Yang pasti bukan "mengoreksi diri".

Sementara itu, wawas adalah 'tinjau, teliti, atau amati'. Mewawas diri berarti "meninjau, meneliti, atau mengamati diri sendiri". Singkatnya, introspeksi. Kata wawas, dipungut dari bahasa Jawa, sebenarnya tidak benar-benar asing dalam keseharian kita. Faktanya, kita sangat akrab dengan kata wawasan (cara pandang atau konsepsi). Kita juga mengenal wawasan nasional, wawasan nusantara, atau wawasan sosial.

Sekali lagi, ada unsur kesangatdekatan atau kesangatmiripan antara wawas diri dan mawas diri. Dalam bahasa Jawa, kesangatdekatan disebut parak atau perek. Parak diserap ke dalam bahasa Indonesia serupa dengan makna asalnya, yakni "hampir atau dekat". Ambil contoh keparakan kebenaran

Istilah "keparakan kebenaran" diudar Alfons Taryadi, munsyi yang memulai karier kebahasaannya sebagai editor di Majalah Intisari, dalam skripsinya. Artinya, 'kesangatdekatan dengan kebenaran'. Karena dekat dan mirip, kita mengira mawas diri semakna dengan wawas diri. Lantaran sering kita pakai, mawas diri menjadi sedemikian kaprah.

Selain itu, kita memang kerap main tukar kata. Usaha membuat pakaian dan sebagainya secara massal acap kita sebut konveksi. Itu keliru. Yang tepat adalah konfeksi. Adapun konveksi berarti 'peristiwa gerakan benda cair atau gas akibat perbedaan suhu dan tekanan'. 

Hal serupa terjadi atas 'bunyi yang keluar dari kerongkongan manakala kita masuk angin atau kekenyangan' yang kita sebut sendawa. Padahal serdawa, sebab sendawa berarti 'salpeter yang digunakan untuk pembuatan mesiu'. Sungguh jauh panggang dari api. Sebab, sesakti apa pun kerongkongan kita tentu saja mustahil menghasilkan salpeter. 

Nasib serupa menimpa kata tetapi dan namun. Banyak di antara kita yang menduga dua kata tersebut semakna sehingga dapat dipertukarkan. Padahal, fungsi dua kata itu berbeda. Kata tetapi berfungsi sebagai "penghubung intrakalimat", sedangkan namun sebagai "penghubung antarkalimat". 

Dia masih mencintaiku, tetapi aku sudah melupakannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x