Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Pepuja Hati: @amelwidya

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Fahri Hamzah, Kritik, dan Kompor Meleduk

9 Juni 2019   22:12 Diperbarui: 10 Juni 2019   07:43 0 35 8 Mohon Tunggu...
Fahri Hamzah, Kritik, dan Kompor Meleduk
Fahri Hamzah | Foto: Antara/Puspa Perwitasari


Setiap orang, tidak peduli rakyat atau pejabat, berpotensi melakukan kesalahan. Kritik hadir untuk memperkecil terjadinya kesalahan, bahkan memperbaiki kesalahan.

Gara-gara kata kritiklah sehingga tulisan ini saya anggit. Sebagai pengamat recehan, saya terpantik cuitan Pak Fahri Hamzah. Wakil Ketua DPR dari Fraksi PKS tersebut mengeluhkan nasib beberapa orang yang berakhir di bui gara-gara mengkritik pemerintah.

Berikut cuitan utuh beliau yang saya nukil dari akun @FahriHamzah.

Saya ngeri melihat orang yang salah posting atau khilaf pada dipanggil polisi dan masuk bui, lalu dibuat jera hanya karena mereka kritik pemerintah. Sementara sebagian yang mendukung pemerintah tidak diproses. Sebagian itu karena di media sosial ada yang saling intip. Saling lapor. [@FahriHamzah, 8 Juni 2019]

Sekalipun ada ketimpangan narasi dalam cuitan beliau, saya akan memulai udaran cetek ini dari kata kritik. Adapun soal ketimpangan narasi akan saya ulas di bagian akhir tulisan ini. Baiklah, mari kita mulai bermain di taman kata. 

Semenjak era media sosial tiba, ringan jari jauh lebih marak dibanding ringan mulut. Ringan jari berarti gampang sekali menggerutukan sesuatu di media sosial tanpa menakar, menapis, dan mereka-reka akibatnya. Ringan mulut adalah banyak membicarakan sesuatu dengan cara yang cenderung ngawur. Istilah kekiniannya: banyak bacot.

Dalam hemat saya, setidaknya kritik harus terpenuhi oleh tiga rukun. Pertama, mesti hati-hati. Kritik menurut versi kamus Merriam-Webster adalah memberikan atau melakukan evaluasi yang dilakukan dengan sangat hati-hati. Pernyataan ini menegaskan adanya unsur kehati-hatian pada saat mengkritik.

Dengan kata lain, kritik bukan sesuatu yang dilakukan secara asal-asalan, serampangan, atau sembarangan. Pembenaran lewat salah pengeposan atau pengunggahan (salah posting dalam cuitan Pak Fahri) sebenarnya keliru. Hal seperti itu lebih pas disebut gegabah atau sembrono daripada kritik.

Kedua, hasil analisis atau evaluasi. Dalam Komunikasi Bisnis dan Profesional (1996, 284), Curtis dkk. menyatakan bahwa kritik adalah masalah penganalisisan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki.

Bagaimana mungkin orang yang sedang khilaf dapat memberikan pemahaman? Alih-alih memahamkan, malah menyesatkan. Apakah orang yang tengah khilaf dapat memperluas apresiasi? Alih-alih memperluas apresiasi, salah-salah malah pamer lakon melindur atau mengigau.

Pada akhirnya, orang yang khilaf lalu melontarkan ucapan-ucapan pedas tanpa dasar analisis atau evaluasi, apalagi dilakukan berulang-ulang, lebih patut disebut nyinyir. Mengapa? Sebab dilakukan atas prinsip yang penting mencerocos. Nyinyir dulu, konfirmasi belakangan.

Ketiga, ada pertimbangan. Kritik dalam KBBI berarti kecaman, tanggapan, atau kupasan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu pendapat atau hasil karya. 

Dengan demikian, kritik niscaya menyertakan pertimbangan baik dan buruk atas suatu pendapat atau hasil karya. Apakah menyerukan pengerahan massa secara tidak konstitusional sudah menyertakan pertimbangan baik dan buruk? Adakah mengejek dan mengancam akan memenggal leher Presiden RI telah melewati pertimbangan matang? 

Tidak ada yang melarang kita untuk mengecam sesuatu, asalkan disertai dengan uraian mengapa sesuatu yang dikecam itu disebut buruk. Jika tidak, bisa-bisa menjadi fitnah. Apabila terkait sosok, jadinya malah pencemaran nama baik.  Patut dicamkan, mengecam berarti menilai sesuatu. Penilaian seperti apa yang melahirkan cacian dan ancaman? Jawabannya sederhana, penilaian atas dasar benci.

Demikianlah tiga rukun yang seyogianya terpenuhi saat kita mengkritik sesuatu. Esensi ketiga rukun tersebut adalah perbaikan, bukan perusakan. Maka dari itu, mengkritik (bukan mengeritik karena konsonan rangkap /kr/ tidak diluluhkan) berarti hasrat untuk meluruskan sesuatu yang diduga bengkok, membenarkan sesuatu yang disangka keliru, atau memperbaiki sesuatu yang ditengarai rusak.

Selanjutnya, orang yang mengkritik disebut pengkritik. Jika kritik lahir dari pakar atau ahli sesuatu, orangnya disebut kritikus. Barisan pengkritik dan kritikus biasanya memiliki pemikiran kritis. Nah, pelan-pelan dulu. Hati-hati. Kritik dan kritis itu berbeda.

Kritis berarti (1) tidak lekas percaya, (2) selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, dan (3) tajam dalam menganilisis. Apakah semua pengkritik otomatis kritis? Belum tentu. Tidak semua pengkritik itu kritis, sebab banyak pengkritik yang lekas percaya atas sesuatu yang belum tentu benar.

Maaf, saya tidak akan mengajukan contoh bagaimana orang-orang yang dianggap kritis (seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon, Rocky Gerung, bahkan Amien Rais) begitu mudah percaya pada kabar penganiayaan Ibu Ratna. Apalagi Bung Fahri begitu berapi-api membela Ibu Ratna dan menyindir (bukan mengkritik) kubu sebelah. Menurut sebagian netizen, itu kabar basi. 

Saya juga enggan menyorongkan kasus cuitan Ustaz Tengku Zulkarnain saat kasus Rohingya tengah marak. Tengku Zukarnain mengeposkan (bukan memposting) foto anak bayi yang tengah diinjak. Beliau membingkai cuitannya seakan-akan begitulah pembantaian yang terjadi. Padahal hoaks (bukan hoax). Faktanya, foto bayi diinjak yang beliau unggah adalah teknik pengobatan di India. Akan tetapi, itu kabar basi menurut segelintir warganet.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2