Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Pepuja Hati: @amelwidya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Balada Celana Jin Kaesang

3 Juni 2019   00:00 Diperbarui: 3 Juni 2019   05:05 0 46 25 Mohon Tunggu...
Balada Celana Jin Kaesang
Kaesang Pangarep melayat di Masjid KBRI Singapura | Foto: Antara/M.N. Kanwa

Indonesia berduka. Ibu Ani Yudhoyono berpulang ke rahmatullah. Beliau mangkat setelah berjuang melawan serangan kanker darah. 

Namun, tulisan ini tidak akan mengudar kegigihan Ibu Ani melawan penyakit. Tidak pula untuk mengulas kesetiaan Pak SBY menemani beliau selama berobat di Singapura. Saya akan membabar obituari buat beliau dalam tulisan berbeda.

Kali ini saya ingin menyingkap gejala maraknya ungkapan kebencian di media sosial. Ungkapan itu membanjir tanpa kenal musim dan suasana. Belum surut duka atas kematian Ibu Ani, ungkapan kebencian terus mengemuka. Selagi orang-orang menyatakan belasungkawa, ada saja yang mengumbar "benci".

Kaesang Pangarep pangkal soalnya. Putra bungsu Pak Jokowi itu datang melayat di Masjid KBRI Singapura. Busananya dianggap tidak patut oleh segelintir warganet. Meskipun ikut antre bersama pelayat lain dan santun dalam tindak laku, semuanya belum cukup untuk membendung nyinyir para pembencinya.

Tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian di antara kita masih terjebak pada penampilan luar. Sesantun apa pun seseorang, selama dituding salah kostum, cibiran tetap menerpa.

Beda perkara apabila busana kita megah dan mewah. Petantang-petenteng pun akan dipuja. Beda soal pula jika yang salah kostum saat melayat berasal dari golongan yang sama. Nyinyir reda, cibir tiada.  

Antara Benci dan Cinta
Dalam Group of Psychology and The Analysis of The Ego (1922), Sigmund Freud menyatakan bahwa meraih cinta harus dilakukan dengan cara membenci orang lain.

Jika memakai rumus cocok-cocokan, teori tersebut pas diterakan kepada pihak yang menyinyiri celana jin Kaesang. Akibat cinta kepada Prabowo, segala-gala yang berbau Jokowi niscaya dibenci. Sementara itu, aroma Jokowi dalam sosok Kaesang jelas sangat kental. Jadilah ia target ungkapan kebencian.

Pada sisi lain, Erich Fromm--seorang sosiolog--membantah teori Freud. Dalam bukunya, The Art of Loving (1956), Fromm menandaskan bahwa cinta harus menghadirkan rasa hormat, tanggung jawab, perhatian, dan menyuburkan ilmu pengetahuan. 

Dengan kata lain, cinta tidak boleh diraih dengan cara membenci atau mengorbankan orang lain, sebab cinta seperti itu sangat naif dan egois.

Apabila kita bertumpu pada rumusan cinta ala Fromm, cibiran atas celana jin Kaesang tidak perlu terjadi. Kenapa? Tidak sedikit orang yang bercelana jin ketika melayat. 

Bukan hanya Kaesang yang melakukannya. Jangankan celana jin, seorang elite politik pernah melayat dengan kaus dan celana lari. Pakai kaus kaki pula. Ajaibnya, sang elite itu tidak dikeroyok pasukan penyinyir yang beramai-ramai menghujat Kaesang.

Ingat, konteksnya pada busana.

Media Sosial dan Emosi Negatif
Cinta bisa memicu rasa damai, sedangkan benci dapat memacu sakit hati. Uniknya, banyak di antara kita yang gigih memilih benci. Lebih unik lagi, kebencian itu diumbar di media sosial dan menjadi santapan khalayak. 

Pasukan penebar kebencian itu lupa bahwa ada "sial" dalam "media sosial".

Mustahil gairah nyinyir muncul tanpa stimulus benci. Dari sumur benci akan memancur emosi negatif. Luapannya berupa rasa marah, kesal, curiga, hingga caci maki. Patut dicamkan, emosi negatif sangat mudah tersulut. Rangsangan secuil saja bisa meluapkan benci dan melupakan cinta. Mata gelap, hati buta. Akal buram, budi suram.

Ketika luapan dari sumur benci itu melanda media sosial, surutlah segala kebaikan. Hal baik saja dinyinyiri, apalagi hal buruk. Kebencian lantas meluas melebihi ganasnya penyakit menular, merembet ke benak orang sekaum, merembes ke sanubari, lantas merambat ke mana-mana.

Jika sudah begitu, media sosial menjadi senjata sempurna dalam menebar kebencian. Jika sudah begitu, "media sosial" berubah menjadi "media sial". Semburan emosi negatif itu serta-merta merambah ranah publik dan memengaruhi khalayak. Yang tidak sepakat pasti menyanggah, yang sepakat pasti menambah-nambah. Iklim psikologis seketika memburuk. Itulah sialnya.

Fasilitas berkomentar di media sosial memudahkan pembenci untuk mengumbar kemarahan. Semua diumbar tanpa mengindahkan etika. Sopan terlupakan, santun terabaikan. Alhasil, panggung pertunjukan dikuasai oleh kaum nircinta. Kaum yang sudah kehilangan saringan.

Pada sisi lain, emosi negatif dapat memengaruhi kondisi hati. Jika kebencian ditanggapi dengan cara serupa, cuaca komunikasi dipenuhi polusi marah. Bangunan kesadaran sosial dirobohkan secara kolektif dan masif. Akibatnya fatal karena dapat menyumbat saluran gagasan kreatif.

Sinisme dan Saluran Kritik
Demokrasi memang memastikan kebebasan berpendapat, termasuk di ruang terbuka yang kita namai media sosial. Namun, kebebasan seyogianya tidak diubah menjadi kebablasan. Kebebasan mestinya dijadikan modal besar untuk menggerakkan upaya perbaikan, bukan perusakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2