Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Senandung Luka di Parc des Princes

9 Maret 2019   21:17 Diperbarui: 10 Maret 2019   00:18 328 9 5
Senandung Luka di Parc des Princes
Sumber Grafis: pngdownload.id

Manchester United melewati masa kritis. Setelah ambruk 0-2 di kandang sendiri, setelah Pogba terkena larangan bermain akibat kartu merah, setelah sembilan pemain andalan dilibat cedera, klub besutan Ole Gunnar Solksjaer harus melawat ke kandang PSG.

Usaha membalikkan keadaan sesudah keok di Old Trafford bukanlah misi yang mudah. Solksjaer harus memeras otak untuk menghadapi PSG yang sedang trengginas. Sejarah tidak berpihak kepada Solksjaer. Belum ada satu klub pun yang kalah dengan selisih dua gol, di kandang sendiri, berhasil lolos ke babak berikutnya.

Jika ingin lolos, Setan Merah (julukan MU) mesti menang dengan selisih dua gol, tetapi harus mencetak tiga atau lebih gol. Jelas bukan pekerjaan enteng ketika Setan Merah sedang timpang dan compang-camping.

Tidak ada Valencia, Jones, dan Darmian di lini belakang. Pogba, Matic, Mata, dan Ander Harrera juga mustahil dibawa ke Parc des Princes, kandang PSG, untuk menghidupkan lini tengah. Nasib tragis juga menerpa lini depan. Cedera Martial, Shancez, dan Lingard belum pulih. 

Kamis, 7 Maret 2019, Solksjaer mempertunjukkan sentuhan midasnya. Parc des Princes menjadi saksi keberingasan setan-setan belia.

Diogo Dalot turun ke lapangan pada menit ke-36 menggantikan Bailly. Ia jarang mengisi tim utama Setan Merah, bahkan menghiasi bangku cadangan pun tidak. Akan tetapi, sepakannya mengenai lengan Kimpembe, bek PSG, dan memastikan sejarah baru di Liga Champions UEFA.

Solksjaer memasang de Gea di bawah mistar. Posisi bek ditempati oleh Smalling, Bailly, dan Lindelof. Adapun Young, Fred, McTominay, Pereira, dan Shaw menempati lini tengah. Lukaku dan Rashford menjadi tombak kembar di lini depan. Solksjaer berani memakai pola 3-5-2 karena tim besutannya harus bermain menyerang. Memang rentan, tetapi itu harus dilakukan demi sebuah kemenangan.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Darah Muda dan Gairah Setan Merah

Tengoklah lini tengah tim besutan Solksjaer itu. Fred baru 17 kali dimainkan sepanjang musim ini, itu pun rata-rata dari bangku cadangan. Scott dan Pereira tidak jauh berbeda, sebab kedua gelandang muda itu baru 13 kali memperkuat Setan Merah pada musim ini.

Tiga pemain belia turun sebagai pemain pengganti, yakni Dalot, Greenwood, dan Chong. Mereka baru merasakan atmosfer Liga Champions dan langsung turun di laga penentu.

Racikan Solksjaer ternyata moncer. Lukaku sudah merobek gawang Buffon ketika laga baru berjalan dua menit. Manakala PSG menyamakan skor lewat Juan Bernat pada menit 12, Setan Merah tidak mengendurkan serangan. Lukaku menceploskan bola lagi ke gawang PSG. Pada menit ke-30, bola sepakan Rashford muntah dari pelukan Buffon. Lukaku mengguratkan harapan bagi MU, sekaligus menggaritkan luka bagi PSG.

Tiga pemain belia tampil militan dan brilian. Di kubu lawan, Mbappe dan Cavani (masuk sebagai pengganti) tidak bebas bergerak. Tinggal satu gol maka sejarah baru tercipta. Dalot beraksi. Tendangan spekulasinya pada menit ke-90 membentur tangan Kimbempe.

Wasit menunjuk titik putih setelah meninjau VAR. Rashford memusnahkan ambisi Buffon. Gol ketiga tercipta. Skor sudah 3-1 dengan agregat 3-3. Setan Merah lolos ke perempat final setelah sembilan menit waktu tambahan berlalu tanpa gol.

Sejarah baru terukir. Solksjaer menorehkan tinta emas. Ia menunjukkan hakikat harapan kepada seluruh pencinta sepak bola. Ia mempertunjukkan esensi "tidak boleh menyerah" kepada kita.

Latar Foto: twitter.com/ManUtd
Latar Foto: twitter.com/ManUtd
Gelegar Harapan dan Kenyataan Pahit

Motivator lazimnya hanya mengungkit gelegar harapan dan jarang mengangkat kenyataan pahit. Ya, kita memang harus menjauhi kata putus asa. Akan tetapi, kita juga harus menyadari bahwa hidup berkaitan dengan garis tangan alias takdir.

Berbicara tentang harapan, seorang pendaki asal Jepang layak ditabalkan sebagai contoh. Para pendaki di seantero dunia mengakui semangat Nobukazu Kuriki. 

Sekalipun tujuh kali gagal mencapai puncak Everest, ia tidak membuatnya patah arang.

Pada 2009, Kuriki mengurungkan mimpi melambaikan bendera di puncak Himalaya. Otoritas Cina memasaknya supaya membatalkan pendakian karena cuaca yang amat ekstrem.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2