Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Fadli Zon dan Doa yang Ditukar

8 Februari 2019   08:26 Diperbarui: 8 Februari 2019   11:36 5759 54 27
Fadli Zon dan Doa yang Ditukar
Fadli Zon dan Mbah Moen. Foto ini terpajang di akun Twitter Fadli Zon setelah menganggit puisi

Fadli Zon baru saja menuai kritik. Alumnus jurusan Sastra Rusia UI yang sekarang duduk manis di Senayan sebagai wakil rakyat itu menganggit puisi. Judulnya "Doa yang Ditukar". Sederhana, tetapi nyelekit. Sederhana karena mirip judul sinetron, nyelekit karena beberapa pihak menengarai puisi tersebut menghujat Mbah Moen, seorang ulama karismatik. 

Benarkah puisi tersebut menghujat ulama sepuh yang sangat dihormati umat? Pertanyaan itu sudah menggelitik benak saya tatkala membaca beberapa linikala sahabat di Twitter. Sebagai politikus, Wakil Ketua Umum Gerindra itu memang piawai memantik kontroversi. Beliau mahir menjadikan dirinya sebagai magnet pembicaraan. Ini patut diacungi jempol dalam perkara penjenamaan diri (personal branding)

Gara-gara seliweran kabar itu pulalah sehingga saya tergerak membaca dan menyelisik puisi beliau. Salah satu unsur puisi yang misterius dan berkelimun teka-teki adalah permainan simbol. Tiga kata yang digunakan Fadli Zon, selanjutnya saya sebut Zon (tanpa diakhiri konsonan /k/), sebenarnya dapat ditafsirkan sebagai simbol.

Pertanyaannya, simbol apa? Secara gamblang saya sebut sebagai simbol peristiwa. Belakangan ini Zon memang sedang keranjingan (sebenarnya saya lebih senang memilih diksi kegatelan) menganggit puisi. Apa saja yang tidak sesuai gagasan atau pandangan pribadinya maupun gengnya pasti digubahkan puisi.

Bertumpu pada kebiasaan Zon tersebut maka tidak bisa dimungkiri bahwa puisi terbarunya, dianggit pada 3 Februari 2019, jelas merupakan simbol peristiwa yang berkaitan dengan salah ucap doa Mbah Moen ketika duduk di sisi Pak Jokowi.

Mengapa saya berasumsi demikian? Jawaban saya sederhana. Tokoh yang salah ucap doa sebelum puisi tersebut digubah hanya Mbah Moen. Walau Zon berkelit sehebat apa pun, kelitnya hambar dan garing. Selain itu, belakangan ini sasaran puisi gubahan Zon selalu tertuju pada kubu lawan politiknya.

Dengan demikian, permainan simbol pada judul puisi sudah secara terang dan gamblang mengarah kepada sang kiai.

Telaah Nyeleneh Atas Puisi Zon

Sebagai politikus yang sudah melahirkan banyak kumpulan puisi, Zon bukan orang yang asing pada estetika. Dengan demikian, kita bisa menelaah puisinya. Dari mana bermula gagasan puisi itu? Ya, sekali lagi saya tedaskan, puisi itu bertumpu pada "kesadaran sepihak" Zon dalam memaknai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Beberapa kumpulan puisi Fadli Zon [Sumber: akun @fadlizon]
Beberapa kumpulan puisi Fadli Zon [Sumber: akun @fadlizon]
Kesadaran sepihak, dalam analisis saya, lantaran Zon bertolak dari keberpihakan pada kesadaran politiknya. Andaikan salah ucap nama Prabowo ketika Mbah Moen berdoa tidak diralat, puisi ini tidak akan lahir. Yang ada justru sebaliknya, Zon menabuh genderang perang dan berdansa dengan girang.

Di sini terlihat "kesadaran yang meretakkan". Artinya, menyadari sekaligus mengingkari. Menyadari bahwa salah ucap doa dapat menjadi komoditas unggulan bagi kubunya dan mengingkari kenyataan bahwa sebenarnya itu hanyalah keseleo lidah.

Tidak heran jika serendeng kolega Zon beranggapan bahwa keseleo lidah itu adalah wangsit alias sabda alam. Mereka mengabaikan fakta bahwa Zon dan kolega juga pernah, bahkan sering, keseleo lidah. Kasus Ratna, di antaranya. Haiti, di antaranya lagi. Terlalu banyak kalau saya harus mencantumkan "kasus keseleo lidah di kubu Zon". Lagi pula, keseleo lidah Zon dan kolega  tidak dapat disamakan dengan kasus salah ucap doa oleh Mbah Moen. Jaka Sembung bawa golok, euy!

Pada bait pertama, Zon langsung mengobral gagasan inti puisinya. Ia membuka larik pertama dengan kalimat: doa sakral/ seenaknya kau begal/ disulam tambal/ tak punya moral/ agama diobral. Pada bait ini, Zon asyik bermain-main dengan rima. Persamaan bunyi pada akhir kata muncul di tiap baris.

Tidak perlu mengulik kamus untuk mengetahui makna sakral, begal, tambal, moral, dan diobral. Lima kata itu sangat ramah telinga. Namun, kata "begal" menduduki posisi penting selaku penanda ataupun petanda. Siapa yang begal? Untuk menemukan sosok "kau" dalam baris kedua tinggal dikaitkan dengan judul puisi. Kelar.

Cukup sampai di situ? Tidak. Masalahnya, ada baris "tak punya moral" dan "agama diobral". Saya tidak percaya kalau Zon tidak tahu menahu soal makna dua baris kalimat itu. Jangankan kalimat sesederhana itu, puisi penuh majas dan alegori saja dapat dimengerti oleh Zon. Lain perkara dengan menggubah puisi yang fasih memainkan majas, rasanya saya mulai meragukan kemampuan beliau.

Sekarang kita beranjak pada bait kedua yang berisi: doa sakral/ kenapa kau tukar/ direvisi sang bandar/ dibisiki kacung makelar/ skenario berantakan bubar/ pertunjukan dagelan vulgar. Sebagaimana bait pertama, bait kedua juga masih miskin majas.

Baris kedua pada bait kedua masih jalin-menjalin dengan baris kedua pada bait pertama. Pada hakikatnya, kenapa kau tukar merupakan perulangan dari seenaknya kau begal. Dengan kata lain, kau-yang-membegal masih sosok yang sama dengan kau-yang-menukar.

Mengapa ujung baris disulih dengan kata berakhiran -ar alih-alih mempertahankan kata berakhiran -al? Tampaknya Zon mulai kedodoran mencari kata-kata yang suku kata terakhirnya mengandung -al. Ini bisa dimaklumi sebab belakangan Zon tampak lebih banyak bacot dibanding banyak baca. Tidak, saya tidak mengatakan doi malas membaca. Saya cuma menandaskan bahwa belakangan ini beliau lebih sering bacar mulut daripada baca buku. Akibatnya, puisinya hambar.

Pertanyaan berikutnya mencuat. Siapakah sosok "bandar" yang merevisi doa? Ini jauh dari majas. Ini memang gaya bahasanya Zon yang tertata sejak bait pertama. Merujuk simbol pada judul puisi, pembaca menjadi kelimpungan menerka-nerka. Yang pasti bukan Zon atau siapa pun dari kubu beliau. Namun, kata "bandar" dan "kacung makelar" jelas-jelas tuduhan bersayap yang berpotensi meretakkan kesadaran umat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2