Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Pepuja Hati: @amelwidya

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Penulisan Dengan

23 Januari 2019   13:53 Diperbarui: 15 April 2019   20:25 0 36 18 Mohon Tunggu...
Penulisan Dengan
Sumber vektor: kisspng.com [Dokpri]

Apakah teori menulis itu penting? Jawabannya tergantung pada siapa yang menjawab. Bagi mereka yang tidak peduli pada teori, barangkali akan menyatakan tidak penting. Bagi mereka yang peduli, niscaya akan mengatakan penting.

Seorang dokter bedah mesti mengenali pisau-pisau yang akan ia gunakan tatkala mengoperasi pasiennya. Jika tidak, bisa-bisa berabe. Seorang tentara harus mengetahui aturan penggunaan pelor dan senjata. Kalau tidak, takut-takut nanti main sembarang todong atau asal tembak. 

Penulis juga begitu. Ia mesti mengenali "pisau" yang akan ia gunakan untuk membedah gagasannya atau mengetahui aturan "pelor dan senjata" agar tidak asal-asalan ketika 'menembakkan wacana'.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Sekadar contoh, penggunaan kata dengan. Tidak sedikit penulis yang gelagapan ketika hendak menggunakan kata dengan, malahan ada yang keliru sampai menyerupakannya dengan kata sama. Tidak percaya? Mari bertualang di tulisan ini.

Seperti kata depan yang lain, dengan memiliki fungsi dan makna sendiri. Ada fungsi dan makna yang dapat dipertukarkan dengan kata yang lain, ada pula yang tidak tergantikan. Kenyataannya, tidak sedikit di antara kita yang memperlakukan dengan sekehendak hati.

Bagi mereka yang termasuk dalam golongan yang "tidak sedikit" itu, sungguh berat menguraikan kaidah penggunaan dengan. Sering benar saya mendapat jawaban nyelekit seperti suka-suka gue atau semau gue. Bahkan, saya pernah mendengar jawaban yang bikin dongkol: terserah gue!

Kalau sudah begitu, saya percaya bahwa saya masih di Indonesia--negeri tempat (bukan di mana karena lokasinya jelas di Indonesia) bahasa pemersatu bangsa dilecehkan dan diremehkan justru oleh penuturnya sendiri. Jika sudah demikian, biasanya saya hanya berdecak-decak atau geleng-geleng kepala.

Sekarang, izinkan saya mengajak kalian untuk mendidis atau menyelisik sisik-melik penggunaan kata "dengan".

Tulisan Renyah dan Gurih

Sebagian di antara kita masih terbiasa menyamakan makna "dengan" dan "sama". Sebenarnya tidak ada masalah jika kita melakukannya dalam ragam cakapan, hanya  saja terkadang kebiasaan dalam dunia obrolan terbawa ke dalam alam tulisan.

Silakan tilik contoh kalimat ini: (1) Aku pergi sama dia. Pada contoh (1), kata "sama" digunakan secara sambalewa, serampangan, atau semau-maunya. Mestinya kita menyadari bahwa kelas kata "sama" adalah adjektiva, yaitu kata yang menjelaskan nomina (kata benda) atau pronomina (kata ganti). Maknanya adalah 'serupa keadaannya atau tidak berbeda' serta 'sebanding atau setara'.

Apakah penggunaan "sama" dalam contoh (1) berterima? Mari kita selisik: (2) Aku pergi serupa halnya dia; (3) Aku pergi setara dia. Baik contoh (2) maupun (3) sama-sama janggal. Serasa ada yang someng atau ganjil sewaktu kita membacanya. Bandingkan dengan kalimat ini: (4) Aku pergi dengan dia; atau (5) Aku pergi bersama dia.

Bilamana kata sama kita bubuhi awalan "ber-", kontan hasilnya berbeda. Hal ini terjadi karena bersama memiliki arti 'seiring dengan' atau 'berbareng'. Di sinilah pentingnya kita menuruti petuah alah bisa karena biasa. Ya, bisa atau racun memang dapat dikalahkan oleh kebiasaan.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Sekarang muncul pertanyaan. Apakah kegunaan "dengan"? Sebenarnya ini pertanyaan enteng bagi yang tahu dan berat bagi yang tidak tahu. Ada juga yang menganggap enteng hal sebegini, sebab baginya yang penting menulis dan gagasan tersampaikan dengan baik.

Padahal, tulisan yang apik dan ajek tidak akan lahir dari aktivitas sambalewa. 

Menulis memang bukan hanya mengurusi tetek-bengek kata baku dan takbaku, melainkan sekaligus memperhatikan rambu-rambu penulisan yang ada.

Jika kita ingin tulisan kita renyah dibaca, setidaknya kita harus paham kaidah ejaan. Apakah kita sudah bisa membedakan fungsi tanda titik (.) dan tanda koma (,)? Apakah kita sudah mengerti mengapa setelah tanda tanya (?) atau tanda seru (!) tidak boleh ada tanda titik (.)? 

Bagaimanapun, tulisan kita akan berbeda maknanya apabila kita salah menaruh tanda baca. Itu baru tanda baca. 

Tulisan yang gurih berasal dari penulis yang piawai memilih diksi dan kaya akan rasa kata, fasih meracik kalimat dan khatam tata makna, mahir meramu wacana dan cerdas secara gramatikal.

Percuma kita khatam kaidah ejaan apabila kita gagap dalam mengutarakan gagasan. Sia-sia kita kuasai kata baku dan takbaku selama kita pandir dalam mengalimatkan dan mengalamatkan makna. Tiada guna kita rajin menulis kalau wacana yang kita anggit tidak bisa dicerna oleh pembaca. Di sinilah pentingnya rasa kata, rasa baca, dan rasa makna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3