Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Mustahil Menulis Tanpa Tanda Hubung

13 Agustus 2018   11:17 Diperbarui: 14 Agustus 2018   16:45 950 25 18
Mustahil Menulis Tanpa Tanda Hubung
Sumber Foto: pixabay.com

Huruf bertemu angka mesti dibubuhi tanda hubung. Contoh: ke-73 (benar), ke73 (keliru).
Aku bertemu kamu pasti dibubuhi rindu, sebab kamu satu-satunya alamat tujuan rinduku.

Bayangkan kita membaca satu alinea dengan kalimat panjang tanpa tanda koma. Bayangkan kita mengeja satu kalimat dengan beruntun kata tanpa tanda baca. Bayangkan kita ngos-ngosan seperti pelari yang lama tidak berlatih.

Selain itu, kita tidak boleh meremehkan tanda baca sebab tanda baca berguna untuk memudahkan pembaca mencerna makna tulisan. Tanda seru, misalnya, alamat ada sesuatu dalam kalimat seruan yang mesti dicamkan atau diperhatikan. Tanda tanya, misalnya lagi, isyarat ada sesuatu dalam kalimat yang menuntut jawaban.

Meski begitu, tidak sedikit penulis yang abai pada tanda baca. Tanda seru (!) dijajarkan hingga sepuluh. Tanda titik (.) ditaruh setelah tanda tanya (?) atau tanda seru (!), padahal jelas-jelas pada tanda seru dan tanda tanya sudah ada titik (.).

Kali ini, saya ingin mengajak teman-teman yang suka menulis untuk berkecek atau mengobrol tentang tanda hubung (-). O ya, sebelumnya kita serasikan pendapat dulu bahwa tanda hubung berbeda dengan tanda pisah. Selain simbol yang berbeda, fungsi tanda hubung (-) dan tanda pisah (--) juga tidak sama.

Aku dan kamu akan menjadi kita jikalau ada yang menghubungkan. Namanya cinta. Ada kata tercerai yang mesti ditulis serangkai. Itulah gunanya tanda hubung diciptakan.

Memasuki bulan Agustus, kita akan menemukan banyak pelanggaran kaidah menulis. Pelakunya bukan hanya orang awam yang jarang bersentuhan dengan dunia tulis-menulis. Kadang-kadang justru dilakukan oleh orang yang, sebenarnya, sudah bangkotan berkecimpung dalam dunia literasi.

Pelanggaran kaidah menulis itu bahkan terjadi pada hal-hal sepele. Misalnya, pemakaian tanda hubung. Untung saja para pelanggar aturan menulis tidak perlu ditilang sebagaimana polisi menilang para pelanggar rambu-rambu lalu lintas.

Sesekali ada "dokter bahasa" yang memberikan wejangan. Itu pun sering dianggap angin lalu. Masuk di kuping kanan keluar di kuping kiri. Malah ada yang baru masuk di kuping kanan, eh, ternyata tidak jadi.

Tidak percaya? Silakan buka buku dan cermati penulisan huruf kapital yang dipadukan dengan angka. Jarang ada yang tepat. Penulisan S1 disangka tepat, padahal keliru. Penulisan 17an dikira benar, padahal salah. Penulisan 'memeti-eskan' diduga pas, padahal menyeleweng.

Pada mulanya, penanda kata ulang menggunakan angka /2/. Kaidah itu berlaku pada Ejaan van Ophuiysen dan Ejaan Soewandi, kemudian diubah menjadi tanda hubung (-) dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Ejaan Bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Angka bertemu huruf harus dibubuhi tanda hubung. Contoh: 17-an (benar), 17an (keliru).

Cinta mesti dibubuhi setitik cemburu, sedikit cemas, dan secuil curiga agar rasa rindu mencuat.

Dengan demikian, mestinya kita tidak menggunakan penanda kata ulang yang sudah tidak berlaku atau sudah kita tinggalkan. Layaknya mantan. Tidak usah direcoki lagi dengan bujukan agar kembali. Biarkan mantan bahagia dengan hidupnya sekarang. Oke?

Ada segilintir di antara kita yang masih lalai membubuhkan tanda hubung. Ada pula yang masih memakai ejaan lama, seolah-olah belum rela meninggalkan kenangan lama. Entah belum tahu, entah pura-pura tidak tahu. Yang pasti, kekeliruan masih sering terjadi.

Penanda kata ulang dengan angka (2) sudah lama ditinggalkan. Jadi, tanggalkan. Gunakan tanda hubung sebagai pengganti. Bukan hanya dalam tulisan resmi atau formal, melainkan sekaligus pada tulisan takresmi atau informal. Ini pembiasaan.

Bukankan bisa kalah karena biasa? Seberbisa apa pun racun ular tidak akan berarti apa-apa bagi mereka yang terbiasa padanya. Itu faedah pembiasaan.

Jika kita menyetir mobil atau mengendarai motor di jalan, suka tidak suka kita harus peduli pada rambu-rambu. Kalau tidak, niscaya suasana jalanan kusut kasau atau sangat kacau.

Menulis juga begitu. Ada kaidah, ada aturan. Mau tidak mau, kita harus peduli pada kaidah atau aturan itu. Kalau tidak, tulisan kita akan kusut kasau alias sangat kacau.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3