Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Selamat Datang Bulan Kesalahan Berbahasa Indonesia

9 Agustus 2018   19:14 Diperbarui: 10 Agustus 2018   10:46 1483 18 7
Selamat Datang Bulan Kesalahan Berbahasa Indonesia
ilustrasi. (Kompas/Handining)

Bulan ini, pada 73 tahun lalu, Republik Indonesia merdeka. Sebagai wujud rasa cinta pada Ibu Pertiwi, pasti bakal bertaburan ucapan selamat. Dari rakyat hingga pejabat. Dari warganet hingga warga RT. Dari yang merdeka hingga yang terpenjara.

Mulut-mulut gang akan dihiasi gapura bercat merah-putih dengan merah di atas dan putih di bawah. Sebagian membangun gapura dari batang-batang bambu yang diruncingkan sedemikian rupa. Konon, sebagai simbol perjuangan pendahulu kita yang dilambangkan memakai bambu runcing.

Kantor-kantor pemerintahan akan dihias sedemikian meriah. Kadang dengan kain merah putih yang panjang dan berumbai-rumbai. Kadang dengan umbul-umbul atau panji-panji berwarna merah-putih. Pendek kata, semarak sekali.

Ruang-ruang publik dan fasilitas-fasilitas umum pun menggeliat. Cat pagar yang sudah lamur segera dilabur atau dipulas dengan cat tembok atau kapur agar tampak baru dan cerah lagi. Pendek kata, harus cerah. Peringatan Hari Kemerdekaan tidak boleh suram atau muram. Itu saja.

Ucapan-ucapan selamat pun bertaburan di mana-mana. Ada yang menulis "HUT RI KE-73'. Ada juga "Dirgahayu RI KE-73'. Bahkan, ada yang menulis "Dirgahayu dan Panjang Umur RI ke-73".

Sumber: Bhakti Anindya
Sumber: Bhakti Anindya
Adakah yang keliru dari ucapan selamat pada gambar di atas? 

Ya, ada. Itulah sebabnya saya menjuduli esai remeh ini dengan Selamat Datang Bulan Kesalahan Berbahasa Indonesia. Mengapa? Ucapan selamat itu tidak logis dan menyalahi kaidah berbahasa Indonesia.

Adakah yang peduli pada kekeliruan itu? 

Ya, ada. Saya di antaranya. Bayangkan saja. Figur tenar yang kerap disorot kamera dan menjadi pusat berita sering mengutarakan ucapan selamatnya secara keliru. Lantas banyak yang menirunya. Begitu berulang-ulang. Setiap tahun.

Apanya yang keliru? 

Peletakan ke-73. Sebenarnya itu penanda usia, bukan urutan. Penempatannya akan menentukan maknanya. Jika kita salah taruh, maknanya akan bergeser menjadi 'penanda urutan' atau 'penanda jumlah'.

HUT RI KE-73. Posisi 'ke-73' ditaruh setelah RI. Dengan demikian, tanpa sadar kita menyatakan bahwa RI itu banyak. Bisa 73, bisa 173. Jika peletakan 'ke-73' di belakang RI maka yang sedang berulang tahun adalah RI yang ke-73. Mungkin bulan besok, September 2018, giliran RI ke-74 yang berulang tahun.

Sumber: nusanet
Sumber: nusanet
Padahal kita semua tahu bahwa Republik Indonesia itu cuma satu. Bukan tiga atau tujuh, apalagi sampai 73. Jika logika ini kita pakai maka keliru pula slogan "NKRI HARGA MATI". Jikalau kita mau sedikit berseloroh, kita bisa menanyakan NKRI mana atau NKRI keberapa yang kita bela mati-matian. Sepele. Remeh. Tetapi kelirunya bukan kepalang.

Bagaimana penulisan yang tepat? 

Mudah sekali. Geser saja 'ke-73' itu ke belakang HUT. Jadi, "HUT KE-73 RI". Dengan demikian, 'ke-73' menerangkan kata 'HUT'. Bukan menjelaskan jumlah 'RI'. Jikalau ada yang iseng menanyakan HUT yang keberapa, tentu akan gampang kita jawab. Tahun ini HUT ke-73.

Hal serupa terjadi pada ucapan "DIRGAHAYU RI KE-73". Ubah saja posisi 'ke-73' dan letakkan setelah 'dirgahayu'. Tidak ada yang susah. Bagaimana kalau sudah telanjur ditulis dan dipampang? Ganti saja. Harga cat tidak seberapa dibanding nasionalisme kita yang mengolok-olok RI apabila salah taruh 'ke-73'.

Lain soal jika kita mengatakan "Selamat Ulang Tahun Anto ke-73". Ya, boleh jadi kita punya ratusan sahabat atau kerabat yang bernama Anto. Kebetulan saja yang sedang berulang tahun ialah Anto yang ke-73. Beres perkara.

Bagaimana kalau ternyata Anto cuma satu? Penulisannya keliru. Yang tepat: Selamat Ulang Tahun ke-73, Anto". Akan tetapi, rasanya mustahil kita cuma punya seorang teman yang bernama Anto. Mungkin ada yang bernama Mugiyanto, Supriyanto, Apriyanto, atau Haryanto.

Mungkin ada segelintir di antara kita yang berpikir buat apa hal sesepele itu diurusi. Mungkin, ya. Tidak apa-apa. Biarkan saja. Yang penting segelintir yang lain sudah menyampaikan bahwa "ada sesuatu yang keliru" dan "berusaha memperbaiki kekeliruan tersebut".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2