Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Manakala "Alay" dan "Gegara" Masuk KBBI

7 Agustus 2018   19:17 Diperbarui: 8 Agustus 2018   08:33 1699 12 8
Manakala "Alay" dan "Gegara" Masuk KBBI
Sumber Gambar: Twitter @badanbahasa

Kamu bohong, Tami. Katamu gegara itu kata yang tidak baku. Buktinya ada di KBBI V.

Tami terperangah membaca pesan pendek Icha, temannya, yang baru ia buka setelah tadi siang tidak menyentuh gawai. 

Beberapa jenak ia terpangah, tidak berkata apa-apa. Lalu tersenyum-senyum. Kesal ada, geli ada. Di langit, rembulan menyapa sunyi yang meringkuk sendirian di halaman

Kalau orang lain menudingnya pembohong, tidak apa-apa. Ini Icha. Sahabatnya. Peduli amat pada orang lain, asalkan bukan Icha. Itu saja. Ia tahu bahwa Icha memang tidak gampang percaya. Tetapi, ia juga paling tidak suka dicap pembohong. Apalagi ia merasa tidak berbohong. Itu menyakitkan, sangat menyakitkan.

Semua orang juga tidak suka dicap pembohong. Mau politisi mau tukang obat, mau penjabat mau penjahat, semuanya pasti sewot kalau dituduh berbohong sekalipun memang berbohong. Ini beda. Tami sama sekali tidak bohong. Gegara memang kata takbaku. Begitu jawabannya kepada Icha.

Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan. Jika menuruti panas hati, pasti sudah ia semprot. Tidak tahu duduk perkara kata gegara, tetapi langsung main hakim sendiri. Seperti orang-orang kebanyakan, tahu sedikit sudah merasa paling tahu.

Ini saya kirimkan rekam layar (kubilang rekam layar karena kamu sering menggerutu tiap kupakai kata skrinsut) kata gegara dalam KBBI V.

Sumber: KBBI V Daring
Sumber: KBBI V Daring
Tami memejamkan mata. Angin tunak mengelus wajahnya. Ia sendirian di rumah. Ayahnya belum pulang, ibunya sedang tugas piket di rumah sakit. Remba tiada kabar. Kadang ia berpikir Remba, lelaki yang mencitainya, lebih getol mendaki gunung daripada menyambanginya.

Bayangan Icha tengah meringis sembari menunjuk-nunjuk layar gawai mendadak terpampang di benaknya, seperti film lawas yang hanya tahu warna hitam dan putih, dan ia merasa jengah. Icha tidak bisa dibiarkan, harus diberi tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tanpa sadar ia menggerendeng, menggeretakkan geraham, dan otot-otot rahangnya bergerak-gerak. Kemudian pelan-pelan ia mengetik jawaban.

Perhatikan ragam kata yang tercantum di bawah kata gegara. Ada cak. Itu berarti ragam cakapan. Jadi jangan semringah dulu, apalagi menuduhku pembohong. Ragam cakapan merupakan kata yang kerap digunakan secara lisan dan termasuk bentuk takbaku.

Entah kenapa hatinya merasa lega setelah menjawab pesan Icha. Serasa ada rongga di dadanya yang semula sesak dan sakit lalu seketika hampa dan nyaman. Ia bayangkan sekarang Icha gelagapan membongkar-bangkir kamus atau mengutak-ngatik KBBI daring untuk mencari makna ragam cakapan.

Tami kembali memberondong WA Icha dengan ulasan soal tidak semua kata dalam KBBI daring otomatis dianggap baku. 

Alay juga ada dalam KBBI. Kata itu merupakan singkatan dari anak layangan. Maknanya, anak-anak baru gede yang gayanya berlebihan untuk menarik perhatian. Apakah alay tergolong kata baku? Tidak. Ragamnya cakapan. Artinya takbaku.

Asese juga ada dalam KBBI. Kata itu lahir dari pelafalan keliru atas acc. Dalam bahasa Indonesia, konsonan /c/ mestinya dibaca 'ce'. Bukan 'se'. Jadi pelafalan yang tepat dari singkatan accoord (Belanda) atau accord (Inggris) adalah acece. Tetapi pekamus memilih asese karena itulah yang kerap dilafalkan penutur bahasa Indonesia. 

Namun, patut dicamkan, ada ragam cakapan yang menandai kata itu. Berarti kata tersebut digunakan dalam obrolan ringan atau tidak formal. Kita bisa memakai disetujui untuk diasese, menyetujui untuk mengasese, serta persetujuan buat pengasesean. 

Sunyi bermain-main di halaman, angan-angan Tami mengembara di beranda. Belum ada jawaban dari Icha. Tiada sanggahan, tiada pertanyaan. Barangkali ia masih mengulik-ulik KBBI daring, mencari-cari arti kata alay dan asese, terperenyak dan berdecak-decak, lalu mengirim emot senyum atau kepala bertanduk kepadanya.

Ketika bulan disembunyikan segerumbul awan, Tami kembali bercengkerama dengan gawai. Jari-jemari lentiknya menari gemulai. Kata demi kata tertuang, seperti air hujan yang tumpah begitu saja. Deras, deras, deras sekali.

Kata gara-gara bukan berakar dari kata dasar gara. Maknanya beda. Jauh langit dari tanah. Kata gara merupakan bentuk takbaku dari gahara. Sungguhpun gahara merupakan kata klasik yang bermakna anak yang ayah dan ibunya adalah anak raja-raja, bukan berarti kata itu yang membentuk kata ulang gara-gara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2