Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Istilah Asing yang Intim di Jemari Netizen

29 Juli 2018   17:44 Diperbarui: 30 Juli 2018   09:11 1739 18 10
Istilah Asing yang Intim di Jemari Netizen
Sumber Gambar: wallpaperswide.com

Salah satu buku favorit saya adalah 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing anggitan Alif Danya Munysi. Saya suka buku tersebut sebab isinya mendedah pelbagai serapan asing dalam bahasa kita.

Bagi saya, itu kabar gembira. Kata serapan justru memperkaya bahasa Indonesia. Meski begitu, tidak semua istilah asing serta-merta dilesakkan dan dilesapkan ke dalam bahasa Indonesia. Ada aturan mainnya, ada kaidahnya.

Apa lacur, kaidah atau aturan itu acapkali tidak berlaku bagi segelintir netizen. Istilah asing kerap dipakai begitu saja. Tidak sedikit netizen yang sangat antusias memakai istilah asing. Gadget dan phubbing contohnya.

Ada pula netizen yang setia menulis serapan istilah asing sesuai kata asalnya, padahal sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Legend, misalnya. Barangkali warganet lupa bahwa bahasa kita sudah punya kata 'legenda'.

Nah, sekarang saya ajak teman-teman menekuri istilah asing yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia.

 1. Netizen alias Warganet

Kata netizen dipungut dari bahasa Inggris. Di negeri asalnya, netizen merupakan singkatan dari internet dan citizen. Semula banyak yang menggunakan warganet sebagai padanan istilah netizen, termasuk saya. Warganet singkatan dari warga dan internet.

Setiap pengguna internet yang aktif berinteraksi di dunia maya, termasuk media sosial, dapat didaulat sebagai netizen atau warganet.

Ternyata penggunaan istilah netizen setanding dan setara dengan warganet. Belakangan malah diserap ke dalam bahasa Indonesia, jadi netizen tidak perlu dicetak miring lagi. Warganet juga tetap boleh dipakai. Keduanya sah dipakai. 

2. Hoax alias Hoaks 

Kata hoax diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi hoaks. Jika kalian menemukan isu atau fakta yang  diramu menjadi cerita bohong dan sengaja dipelintir sedemikian rupa atau dilebih-lebihkan untuk mengelabui, itulah hoaks.

Ada yang memproduksi hoaks karena iseng atau guyon belaka. Ada yang mengumbar hoaks demi mengolok-olok seseorang atau kelompok tertentu. Ada pula yang sarat muatan politis yang mengunakan hoaks untuk menghujat, menggugat, bahkan menjatuhkan.

Pada hoaks, semua menjadi berlebihan. Yang kecil dibesar-besarkan. Yang pendek dipanjang-panjangkan. Yang tidak ada diada-adakan. Persis nasib kabar burung: yang sejengkal jadi semeter. Celakanya, banyak netizen yang mudah termakan hoaks.

Netizen yang baik tentu tidak akan mudah percaya pada hoaks. Percaya saja sulit, apalagi ikut menyebarluaskan hoaks. Oh, tidak!

3. Viral

Dalam bahasa Inggris, kata viral merupakan singkatan dari virus virtual. Virus berarti penyakit, sedangkan virtual berarti tidak nyata. Setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, viral berarti (1) berkenaan dengan virus, dan (2) menyebar luas dengan cepat seperti virus.

Foto, gambar, video, atau artikel yang gencar disebarkan oleh warganet dapat disebut viral. Kalaupun sesuatu yang viral berisi konten "miring", netizen tidak usah ikut-ikutan miring. Cukup dicamkan bahwa tidak semua hal yang viral berisi konten positif.

Sebagai warganet, kita harus arif dan bijak dalam menyukai, mengomentari, atau memviralkan sesuatu. Penulisannya tegak saja, tidak usah dicetak miring, karena viral sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia.

4. Twit alias Cuit

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4