Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Kita, Cinta, dan Kata Depan

8 Juli 2018   02:17 Diperbarui: 13 Juli 2018   08:51 1870 6 10
Kita, Cinta, dan Kata Depan
Sumber: istock photo

Mangga yang rindang itu kini pindah ke dalam bilik ingatan Remba, rimbun sebagai kenangan.

Tepat di belakang pondokan Remba, di ujung barat, pernah ada sebatang mangga. Ketika ulat-ulat yang menjengkelkan belum menyerang seisi pondok, ketika semut rangrang yang menyebalkan belum merambah kamar-kamar di pondok, mangga itu rimbun dan subur. Sekarang mangga itu ditebang. Pemilik pondok lebih mendengarkan penghuni pondok yang manja dan penggeli. Melihat ulat, takut. Melihat semut, gelisah. 

Ia pernah mengajak Tami duduk bersandar di batang mangga itu. Bunga-bunga di pojok timur sedang bermekaran. Di bagian tengah, rumput hijau memanjang dari pondok hingga pagar pembatas. Tami senang sekali duduk berangin-angin di bawah rindang mangga. Di situ, katanya, ia tidak perlu memberati pikirannya dengan beban kuliah dan ocehan orangtua.

Sore ini, Remba mengajak Tami duduk-duduk di tempat dulu pohon mangga itu berdiri kukuh. Berharap pujaan hatinya itu terhibur dan melupakan duka laranya. Berharap tambatan harapannya itu tersenyum dan ceria seperti sediakala.

Sayang, hati Tami sedang digelimuni nestapa. Ia diminta oleh ayah dan ibunya agar menjauhi Remba. Permintaan yang sulit ia penuhi. Menjauhi Remba berarti menyakiti diri sendiri. Dan, ia tidak mau seperti itu. Tidak ada satu kata pun meluncur dari bibirnya, apalagi satu kalimat. Hanya desau angin dan decit jendela yang sesekali menyapa telinga.

"Tulislah sesuatu di sini," kata Remba memecah sunyi sembari menyodorkan sebuah buku.

Tami mendongak, menatap Remba seakan tidak mengerti, dan menggeleng.

"Tulis apa saja yang kamu inginkan," bujuk Remba.

"Aku tidak ingin menulis apa pun!"

Remba mendesah. "Kepalamu harus berhenti memikirkan duka."

"Pengalihan sesaat!"

"Setidaknya bagus untuk mewaraskan pikiran."

Tami tertawa pelan. "Ada-ada saja!"

"Cobalah," bujuk Remba lagi, "tulis apa saja selain duka karena cinta!"

Tak ingin melihat lelaki yang disayanginya terus membujuk, Tami mengambil buku di tangan Remba, membuka lembar demi lembar, dan mulai menulis.

***

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Aku dan Di

Daripada menentukan apakah di digabung atau dipisah, orang-orang lebih mudah membedakan rindu dan cemburu.

Dulu aku selalu kesulitan setiap ingin menulis di. Aku sering bingung menentukan apakah di mesti dipisah atau digabung. Lebih dungu lagi, aku malas membaca. Jangan timpakan kesalahan hanya kepadaku. Siapa suruh buku-buku tentang bahasa Indonesia dikemas tidak menarik. Tampilannya begitu-begitu saja, bikin mata cepat redup. Apalagi diktat tentang bahasa Indonesia. Melihat sampulnya saja sudah membuatku menguap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4