Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Lima Dampak Sepele Drama di Timnas Spanyol

14 Juni 2018   01:37 Diperbarui: 14 Juni 2018   01:56 1087 5 2
Lima Dampak Sepele Drama di Timnas Spanyol
Timnas Spanyol hasil seleksi Julen Lopetegui. (Twitter @SeFutbol)

"Aku sekarang orangnya bisa tahan/ sudah beberapa waktu bukan kanak lagi/ tapi dulu memang ada suatu bahan/ yang bukan dasar perhitungan kini."

~ Chairil Anwar, Derai-derai Cemara

Chairil Anwar memang tidak ada matinya. Tiba-tiba saja sepenggal puisinya bernyawa dan bernyanyi di benakku. Betapa tidak, kalimat aku sekarang orangnya bisa tahan begitu jleb di dada. Kata anak-anak Generasi Y, nancep! Atau, berasa kalimat itu terdengar dari bibir lelaki muda yang kering dan retak setelah ditolak oleh gebetannya.

Lantas apa hubungan petikan sajak Chairil itu dengan Timnas Spanyol?

Tenang, Sobat. Jangan terburu-buru. Ada kalanya kita butuh lebih cepat lebih baik. Sekadar menyitir slogan kampanye Jusuf Kalla. Tetapi, sekali-sekali kita perlu mengamini pepatah biar lambat asal selamat. Jadi, sejenak kita lupakan dulu pertanyaan itu.

Twitter @brfootball
Twitter @brfootball
Piala Dunia 2018 kian dekat. Seluruh peserta sudah "bertapa" di Rusia. Selain mematangkan rancang main, juga menyesuaikan diri dengan cuaca. Selain menjalin kerekatan tim, juga demi kepaduan strategi. Tentu tidak ada kesebelasan yang mau terpeleset di laga perdana. Semua peserta pasti ingin menang.

Di sinilah drama bermula. 

Adalah Luis Rubiales, Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), selaku aktor utamanya. Mendadak namanya semasyhur Gong Yo--aktor dari Korea yang bermata teduh. Ah, maaf, tiba-tiba aku melantur ke mana-mana. Dari Chairil ke Timnas Spanyol. Dari Rubiales ke Gong Yo. Daebak! 

"Kami memutuskan untuk memecat pelatih tim nasional. Apa yang kami capai hingga Piala Dunia 2018 ini adalah hasil kerja keras semua orang, kami juga harus berterima kasih kepadanya." 

~ Luis Rubiales, Presiden RFEF

Itulah korelasi antara sajak Chairil dengan La Furia Roja, julukan Timnas Spanyol. Entah siapakah yang sekarang dapat dinobatkan sebagai yang orangnya bisa lebih tahan. 

Twitter @brfootball
Twitter @brfootball
Barangkali Julen Lopetegui yang orangnya bisa lebih tahan. Ia pelatih sukses. Hanya enam dari 20 laga bersama La Furia Roja yang berakhir seri. Sisanya menang. Di tangannya, fondasi tim yang luluh lantak seusai Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016 kembali kokoh. Tak disangka, ia diberhentikan dua hari menjelang Piala Dunia 2018 dibuka. 

Mungkin Rubiales dan koleganya di federasi yang orangnya bisa lebih tahan. Tersiar kabar, ia baru dikabari lima menit sebelum pengumuman penunjukan Lopetegui sebagai pelatih Real Madrid. Tambahan kabar, Lopetegui setuju menangani Los Blancos pasca pesta bal-balan di Rusia. Sebagai tokoh nomor satu di federasi, Rubiales tidak siap menerima kenyataan. Sedang sayang-sayangnya, Lopetegui malah mendua. Ia tidak sanggup melihat fakta betapa timnas akan dimadu.

Twitter @brfootball
Twitter @brfootball
Bagaimana dengan nasib pemain?Apakah mereka sekarang orangnya bisa tahan? 

Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Terpujilah apabila mereka bisa tahan menghadapi gempa bumi menjelang laga sengit melawan tetangga, Portugal. Berbahagialah apabila mereka bisa tahan menanggung beban pergantian panglima menjelang Perang Semenanjung Iberia. Jika jawabannya tidak, ini yang mengerikan. 

Ada lima dampak sepele bagi Timnas Spanyol akibat pemecatan Lopetegui. 

Pertama, harus mulai dari nol. Semboyan yang ramah di telinga ini memungkinkan keruntuhan mental. Komunikasi kental antara pelatih dan pemain harus benar-benar baru. Ibarat sitir pepatah, lain lubuk lain ikan. Artinya, pola pendekatan Fernando Hierro, legenda Real Madrid yang ditunjuk selaku pelatih pengganti, tentu berbeda dengan model komunikasi ala Lopetegui.

Harus diingat, setidaknya ada 11 pemain yang paling sering diturunkan ke lapangan hijau oleh Lopetegui. De Gea, Ramos, Pique, Alba, Koke, David Silva, Isco, Iniesta, dan lain-lain. Pola pendekatan dan model komunikasi tidak semata-mata buat mengakrabkan, tetapi sekaligus mentransfer taktik dan mental juara kepada pemain. 

Meski begitu, Ramos dkk. sudah beberapa waktu bukan kanak lagi. Mereka sudah punya mental juara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2