Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Empat Rumus Ajaib Membuka Cerita

31 Maret 2018   13:50 Diperbarui: 1 April 2018   11:42 4029 21 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Empat Rumus Ajaib Membuka Cerita
Dokumentasi Pribadi

Aku suka jendela kamarku. Satu-satunya jendela di kamarku. Letaknya di tengah-tengah dinding sebelah barat kamar. Tingginya sedada. Bau kayunya sehabis terkena tempias hujan, liukan dedaunan di kebun-kebun tetangga, dan senja yang indah sungguh mengesankan. Sejak kecil aku sering berdiri di jendela itu. 

Di sana aku merasa benar-benar ada. Di ranjang, ibu selalu menghiburku dengan kalimat menjengkelkan. "Tak ada hantu, Nak, itu imajinasimu saja!" Jika ibu gagal meredakan tangisku, ceramah ayah akan dijejalkan ke dalam kupingku. "Hafal dan resapi ayat-ayat Tuhan, biar hantu lari terbirit-birit!"

Mereka tidak percaya bahwa memang ada hantu di balik jendela. Aku melihatnya. Semasa kecil, aku takut pada hantu-hantu itu. Menjelang remaja, aku malah menunggu kedatangan mereka. Hanya mereka yang sudi berteman denganku. Andai tidak dipaksa-paksa, aku tidak akan ke sekolah. Sekolah pertamaku, sebuah TK tak seberapa jauh dari kompleks perumahanku, hanya sehari kudatangi. 

Seorang lelaki tua mati bunuh diri di sana. Lidahnya menjulur seperti habis dicekik sepasang tangan raksasa. Saat itu Ibu malu karena teriakanku, tetapi beliau mengalah dan memindahkan aku ke TK lain. Di lapangan di tengah-tengah kompleks, tak ada yang mengajakku menyepak bola atau adu layang-layang. Kalau sudah kesal, aku akan berteriak "ada hantu" dan mereka akan pontang-panting meninggalkan aku.

Sudah dua malam aku tidak berdiri di jendela kamarku. Sebelumnya tidak begitu. Aku lebih banyak berdiri di sisi dalam jendela dibanding rebahan di ranjang. Ada saja temanku yang datang: nenek buta korban tabrak lari yang lehernya patah dan kepalanya terkulai ke bahu kiri, gadis bermata biru yang rambutnya sepinggang dengan beberapa lubang bekas belati di dada dan perutnya, lelaki paruh baya dengan jempol kanan yang ruasnya tak utuh. Dan, banyak lagi. 

Semuanya berubah dua malam lalu. Saat itu aku sendirian di rumah. Setelah menggoreng dadar telur dan memanaskan sayur bayam kesukaanku, aku kembali ke kamar. Sebelum suapan pertama, tiba-tiba sepasang tangan berlumpur mencengkam tubir jendela. Kulit di punggung telapaknya terkelupas. Ada bercak darah kering di sekitar buku-buku jari. Aku berdiri dan melongok. 

Tak ada dada, tak ada kepala. Tak ada bibir, tak ada mata. Biasanya aku bisa melihat teman-temanku secara utuh. Kecuali jika mereka korban mutilasi. Malam itu tidak, hanya sepasang tangan. 

Dan makan malamku pun berantakan.

Tadinya aku berjanji tidak akan berdiri di sana lagi. Tetapi pesan pendekmu, Lema, satu-satunya gadis yang membuatku ingin bertahan hidup lebih lama, memaksaku berdiri di sana. Kata, beri tahu aku rumus ajaibmu membuka cerpen! Sudah kujawab bahwa tak ada rumus ajaib, tapi kamu tidak percaya. Katamu, aku tidak boleh bertemu denganmu lagi. 

Tentu saja mustahil bagiku berterus terang mengatakan bahwa imajinasiku berasal dari teman-temanku di balik jendela. Kamu pasti tidak percaya. Padahal, memang dari merekalah kudengar hal-hal menarik tentang kematian. Itu sebabnya aku suka jendela kamarku.

Tanpa jendela itu, aku bukan siapa-siapa. Cerpen-cerpenku tak akan bernyawa, tak akan mudah dicerna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN