Mohon tunggu...
Callista Angelina
Callista Angelina Mohon Tunggu... Sedang Menulis

Mahasiswa PWK Universitas Jember yang sedang kebingungan akan menulis apa

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Oportunitas Perdagangan Lewat Kalimantan

12 September 2019   22:22 Diperbarui: 12 September 2019   22:34 0 1 1 Mohon Tunggu...

Saat ini sedang hangat-hangatnya berita tentang perpindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan. Isu yang selama ini hanya menjadi wacana dari era pemerintahan Presiden Soekarno, akhirnya pun menjadi kenyataan. Jika bukan karena kondisi Ibukota Indonesia saat ini yang eye-opening, maka wacana akan selamanya menjadi wacana.

Kondisi Jakarta saat ini sangatlah miris. Banyak sekali permasalahan yang terjadi di sana, mulai dari rawannya bencana alam sampai dengan isu Jakarta akan tenggelam. 

Alasan hal-hal itu terjadi tidak lain karena overcapacity-nya jumlah penduduk di Jakarta. Berdasarkan data dari BPS tahun 2018, jumlah penduduk di Jakarta mencapai 10.467,63 jiwa, 1,07% lebih banyak sejak tahun 2010. 

Dengan jumlah penduduk seperti itu, maka kepadatan Jakarta menjadi 15.804 jiwa/km2. Kepadatan Jakarta bisa mencapai jumlah sampai seperti itu dikarenakan banyak penduduk dari segala penjuru negara pindah ke Jakarta yang memiliki daya tarik sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian. Bertambahnya penduduk, secara otomatis diikuti dengan kebutuhan sumber daya yang semakin banyak, mulai dari tempat tinggal sampai dengan air bersih.

Sumber daya di Jakarta telah dikuras sampai titik darah penghabisan. Contohnya saja air bersih. Hanya sebesar 40% dari warga di Jakarta yang kebutuhan air bersihnya dapat dipenuhi oleh PDAM dan sedangkan yang 60% harus mencarinya sendiri. 

Akhirnya solusi yang dianggap terbaik adalah menggunakan air tanah. 60% dari penduduk Jakarta tidaklah sedikit, belum lagi ini kebutuhan primer. Akhirnya penggunaan air tanah pun menjadi berlebihan. Lebih parahnya lagi, inilah yang menyebabkan permukaan tanah Jakarta turun setiap tahunnya. 

Menurut BBC, seorang peneliti dari ITB, Heri Andreas, mengestimasikan bahwa pada tahun 2050, sekitar 95% wilayah dari Jakarta Utara akan tenggelam di bawah laut jika tidak segera ditindaklanjuti.

Melihat Jakarta seperti itu, apa masih mau dilanjutkan? Tidak mungkin, kan. Namun meskipun begitu, kita tidak bisa melanggar orang-orang untuk masuk dan tinggal di Jakarta. Sekaligus kita tidak bisa menendang dan mengusir orang-orang dari Jakarta. Yang salah bukanlah keinginan orang-orang untuk pindah ke Jakarta, melainkan pada fakta bahwa pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Indonesia berada di satu tempat. Dengan kedua pusat penting itu menjadi satu, maka daya tarik daerah tersebut akan semakin tinggi. Sehingga, solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah memisahkan kedua pusat tersebut dengan cara memindahkan Ibukota. Agar tidak terjadi kesalahan yang sama, daerah yang dipilih harus memenuhi standar terlebih dahulu. Dan akhirnya, sampailah kita ke terpilihnya Kalimantan Timur sebagai Ibukota.

Keuntungan paling utama yang dimiliki Kalimantan adalah letaknya. Secara geografis, letak pulau Kalimantan sangatlah strategis. Pertama, posisi Kalimantan terletak di luar jalur ring of fire, dan karena itu, jarang mengalami bencana alam. Itu memenuhi salah satu kriteria Ibukota baru, yaitu bebas dari bencana alam.

Yang kedua, aksesibilitas Kalimantan dengan daerah lainnya sangatlah bagus. Indonesia masih memilik banyak daerah yang tertinggal dan pembangunannya terpusat pada Jawa saja. Untuk memperbaiki hal itu, pembangunan di Indonesia perlu diratakan. Dengan mempergunakan aksesibilitas Kalimantan, jangkauan pembangunan infrastruktur sekaligus ekonominya bisa sampai ke daerah-daerah yang tertinggal itu dan pembangunan tidak lagi akan terpusat di Jawa.

Berubahnya Ibukota Indonesia menjadi Kalimantan akan memiliki daya tariknya tersendiri dan akan membuka banyak kesempatan bagi Indonesia untuk berkembang menjadi negara yang maju. Dan salah satunya adalah memajukan perekonomian Indonesia. Dengan menggunakan posisinya sebagai senjata, Kalimantan bisa dijadikan sebagai rute perdagangan. Namun itu hanya sebatas jalur transit menuju pusat perekonomian Indonesia saja, agar tidak mengulangi kesalahan seperti di Jakarta. Dengan begitu Indonesia bisa menghemat time dan cost transport komoditasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2