Mohon tunggu...
Ram Tadangjapi
Ram Tadangjapi Mohon Tunggu... Cuma senang menulis

Kutu Buku, Penggila Film, Penikmat Musik

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Resensi Film "Elle" (2016)

12 Mei 2019   17:02 Diperbarui: 12 Mei 2019   17:10 0 1 0 Mohon Tunggu...
Resensi Film "Elle" (2016)
(sumber: www.en.wikipedia.org)

Shame isn't a strong enough emotion to stop us from doing anything at all. Believe me.

Michelle (Isabelle Huppert) cukup sukses jika dilihat dari segi materi. Ia memiliki sebuah perusahaan pengembang game yang cukup sukses yang berimbas pada tumpukan materi berlimpah yang ia peroleh. Namun keadaan keluarganya kurang tidak terlalu bahagia, Michelle telah bercerai dari sang suami, putera semata wayangnya tidak terlalu dekat dengannya, ibunya juga masih sering tampil genit, sementara sang ayah masih berada di dalam penjara menjalani hukuman.

Suatu hari Michelle mendapatkan serangan dari seorang pria bertopeng ski di apartemennya, Michelle diperkosa oleh pria tersebut. Anehnya Michelle justru tidak terlalu bereaksi setelah kejadian tersebut, ia tetap menjalani kehidupan seperti biasa tanpa melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh wanita korban perkosaan yaitu melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.

Michelle tidak pernah lagi mau berurusan dengan pihak berwajib setelah peristiwa kriminal yang dilakukan ayahnya membuat dirinya trauma terhadap pihak berwajib. Michelle beberapa kali mendapatkan pesan singkat yang bernada melecehkan di ponselnya, diam-diam Michelle mencari tahu siapa sebenarnya sosok pria yang memperkosanya karena ia yakin pria tersebut tidak jauh dari dirinya.

Michelle sendiri bukanlah wanita yang sepenuhnya baik diam-diam ia berselingkuh dengan suami sahabatnya, ia juga sering melihat dan memendam hasrat terhadap suami tetangga apartemennya, ia juga dikenal sebagai pribadi yang sinis, keras kepala dan cenderung sombong.

Semakin lama Michelle mencari pelaku pemerkosanya ia juga semakin jelas menghadapi kerapuhan mental yang telah lama menjejali hidupnya, Michelle tahu terlalu banyak kebohongan yang ia buat hanya untuk menutupi kebohongan lainnya dan sudah saatnya ia mengurai semua beban mental itu demi kebebasan jiwa yang telah lama hilang dari dirinya.

Isabelle Huppert sebagai Michelle (sumber: Screenshot)
Isabelle Huppert sebagai Michelle (sumber: Screenshot)

Paul Verhoeven dikenal sebagai sineas yang kerap membuat film penuh gairah, provokasi, pembalikan moral, namun tetap dengan cerita yang kuat. Dengan mengadaptasi novel berjudul Oh... karya Philippe Djian, Paul Verhoeven memberikan premis awal tentang wanita korban pemerkosaan namun alih-alih memberikan cerita tentang psikologis wanita korban, Paul Verhoeven membelokkan alur ceritanya menjadi wanita yang punya banyak masalah serta tidak peduli pada keadaan yang ada.

Untungnya alur cerita tetap punya titik utama yang ingin dituju sehingga tidak membuat film ini kehilangan fokus. Kemampuan Verhoeven dan tim dalam menempelkan setiap pola adegan di dalam bagan cerita dengan tepat membuat penonton dibawa kedalam genre drama psikologis yang bercampur humor satir dan komedi gelap. Kekurangannya hanya pada beberapa scene dialog-dialog yang terbangun sering terlalu bertele-tele dan panjang sehingga akan susah dicerna oleh penonton yang kurang familiar dengan bahasa Perancis.

Isabelle Huppert berhasil menjadikan film ini semakin unik penuh warna dengan performa akting yang menawan. Karakter Michelle begitu dominan dengan segala ambiguitas sikap sehingga kita menjadi susah memilih untuk simpati atau malah membencinya, dan Isabelle Huppert menjadi seorang yang bertanggung jawab atas hidupnya karakter Michelle ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x