Ram Tadangjapi
Ram Tadangjapi Wiraswasta

Kutu Buku, Penggila Film, Penikmat Musik

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Resensi Film 3 Srikandi (2016)

1 Mei 2018   16:25 Diperbarui: 26 Agustus 2018   19:31 1693 0 0
Resensi Film 3 Srikandi (2016)
Poster Film 3 Srikandi (2016) (sumber: liputanenam.com)

Pada tahun 1988 di ajang olimpiade Seoul, kontingen Indonesia berhasil meraih medali perak melalui cabang olahraga panahan pada kategori panahan beregu putri. Ini merupakan medali pertama bagi Indonesia sejak mulai turut berpartisipasi pada pesta olahraga paling bergengsi didunia itu. Film ini mengangkat kisah perjuangan tim panahan putri Indonesia dalam meraih medali tersebut.

Donald Pandiangan (Reza Rahadian) yang biasa dipanggil bang Pandi ditunjuk menjadi pelatih tim panahan putri, Pandi yang masih menyimpan kekecewaan akibat gagal berangkat ke olimpiade Moskow tahun 1980 karena protes Indonesia atas invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada awalnya menolak untuk menjadi pelatih. 

Pandi akhirnya luluh setelah dinasehati oleh bibinya (Rina Hassim) untuk mewujudkan mimpinya yang dulu belum sempat ia selesaikan, Pandi kemudian menemui pengurus Perpani (Persatuan Pemanah Indonesia) lalu mengajukan syarat agar metode pelatihan diserahkan sepenuhnya ke Pandi dan tidak perlu mencampurkan olahraga dan politik.

Setelah melalui seleksi akhirnya terpilihlah 3 pemanah putri: Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari) biasa dipanggil Nur pemanah asal DKI Jakarta yang berkonflik dengan ayahnya karena Nur belum juga menyelesaikan skripsinya yang terlalu sibuk menggeluti panahan, Lilis Handayani (Chelsea Islan) biasa dipanggil Lilis pemanah asal Jawa Timur yang harus melawan keinginan ibunya untuk dijodohkan dengan seorang pengusaha kerajinan karena ia sedang menjalin hubungan serius dengan seorang atlit beladiri, Kusumawardhani (Tara Basro) biasa dipanggil Suma yang juga harus memilih antara tetap menjadi atlet panahan atau ikut seleksi PNS sesuai keinginan ayahnya.

Ketiga pemanah putri tersebut dibawah bimbingan pelatih Pandi harus menjalani metode latihan yang disusun oleh Pandi, metode latihan yang keras dan menuntut stamina kuat. Lilis yang paling muda dan cenderung teledor beberapa kali harus mendapatkan hukuman berlari mengelilingi  lapangan

Suma juga harus merasakan bentakan dari Pandi karena kedapatan menjalin hubungan dengan pelatih panahan tim putra yang memiliki hubungan kurang baik dengan Pandi. Sementara Nur sebagai yang paling senior diantara ketiganya juga harus dimarahi Pandi karena dianggap tidak bisa membimbing Suma dan Lilis.

Setelah dianggap siap ketiganya pun diberangkatkan ke Seoul untuk mengikuti ajang olimpiade, disinilah mental dan semangat juang mereka dihadapkan dengan kondisi pertandingan yang sesungguhnya.

Imam Brotoseno sebagai sutradara memang mencampurkan antara fakta dengan kisah rekaan, seperti pada film film biopik yang lain, meskipun pada beberapa adegan terlihat kurang realistis seperti pada adegan siaran langsung pada pertandingan panahan karena mayoritas masyarakat Indonesia masih lebih mengenal dan mengikuti pertandingan sepak bola atau bulu tangkis dibandingkan dengan panahan.

Untuk akting keempat cast utama sudah memberikan performa akting yang baik meskipun belum bisa dikatakan istimewa. Reza Rahadian mampu tampil sebagai pelatih yang keras dan tanpa kompromi, Bunga Citra Lestari berakting cukup baik sebagai senior yang supel, Tara Basro dan Chelse Islan tampil bagus dengan logat Makassar dan Jawa Timur yang mereka bawakan (Chelsea masih unggul sih menurut saya). 

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan bisa memberikan gambaran tentang perjuangan tim panahan putri Indonesia pada olimpiade Seoul 1988.