HIGHLIGHT

Tan Malaka Sayang, Tan Malaka Malang

20 Agustus 2010 08:02:00 Dibaca :

"Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi" (Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara Jilid III, 1948) Tentang pelarian. Salah satu pahlawan yang besar di pelarian dan pengejaran adalah Tan Malaka. Dalam sejarahnya sang pahlawan yang lahir di Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat itu memang banyak menghabiskan waktunya untuk berjuang meraih kemerdekaan Indonesia bersama para pahlawan Indonesia yang lain. Berlari 89 kilometer, setara 2 kali mengelililingi bumi 2 benua, dan 11 negara. Nama Tan Malaka memang terdengar asing di telinga kita, saya sendiri baru tahu belakangan di bangku kuliah kalau salah satu orang penting di balik pengerahan massa besar-besaran di lapangan Ikada untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa Republik Indonesia itu benar adanya bukan ilusi adalah sosok yang "misterius"itu, sebab di buku-buku teks yang pernah saya dan kita semua baca saat duduk di bangku sekolah menengah hanya memunculkan nama-nama besar seperti bapak proklamator seperti Sukarno-Hatta, atau nama populer lain dari kalangan militer (untuk kalangan militer Jenderal Sudirman adalah favorit) yang sangat kita segani berdasarkan fantasi masa kecil, di masa kecil sosok pahlawan sejati adalah mereka yang memegang senjata bak film-film superhero. Superman, Batman, Spiderman, dan film animasi lainnya, semakin banyak mereka menyelamatkan orang dengan kekuatannya semakin mereka disegani. Dan, mereka juga sering muncul didepan publik untuk menujukkan eksistensi diri. Terbukanya informasi semakin memudahkan kita untuk mengakses banyak sumber terkait tokoh yang sempat mendapat restriksi dari bangsanya sendiri (dalam arti sempit pemerintah yang berkuasa), dengan stigma komunis Tan Malaka dibinasakan dari ruang informasi, sehingga bisa dipastikan informasi tentangnya sangatlah minim. Adapun ketertarikan untuk mengadvokasi kisah Tan Malaka salah satunya datang dari sejarawan Belanda, Harry Poeze, yang bukunya termasuk dalam daftar terlarang di peredaran. Saya beruntung mendapatkan edisi khusus hari kemerdekaan majalah Tempo tahun 2008 yang  mengulas banyak hal tentang sosok Tan Malaka yang religius ketika bertemu Tuhan, tetapi komunis ketika berhadapan dengan sesama manusia itu. Ada banyak informasi yang saya dapatkan dalam majalah Tempo yang memiliki tradisi mengangkat nama-nama tokoh yang terlupakan pada momentum selebrasi kemerdekaan-kalau tidak salah bulan ini mengankat Kartosuwiryo yang juga pahlawan yang kurang mendapat porsi dalam buku teks sejarah. Saya tidak tahu apakah pasca reformasi dalam buku pelajaran sejarah memuat salah satu nama penting pencetus Republik Indonesia, seperti Tan Malaka, sebagaimana kebijakan pemerintah mengganti G30S/PKI (menjadi G30 S) dalam buku-buku pelajaran sejarah. Kembali ke persoalan sosok Tan Malaka. Sejak 1913 sosok ini telah mengerti arti terjajah oleh Belanda. Kegigihan kemudian membawanya ke negeri Belanda untuk menuntut ilmu, disana ia bersama sosok seperti Bung Hatta mengecam pendidikan Barat, berkenalan dengan tradisi pergerakan nasional, komunisme, dan ideologi besar yang berpengaruh di dunia. Tan memilih komunisme sebagai alat perjuangannya, totalitasnya menyelami ideologi komunisme mengantarkannya menjadi salah satu petinggi komunisme di kawasan Asia Timur tahun 1924, posisi ini jualah yang beberapa kali menyelamatkan nyawa Tan dari perburuan intel Inggris dan Belanda. Tan misalnya sempat diselamatkan oleh pendukungnya di Filipina, bernama Don Vincente Madrigal, saat akan dibuat ke Pualau Amoy, China, "Beri perlindungan pada Tan Malaka, kalau perlu dengan jiwamu," begitu pesan Don kepada kapten kapal. Membaca kisah Tan Malaka mengingatkan saya pada cerita-cerita detektif yang melakukan sejumlah penyamaran untuk mencapai satu tujuan: mengungkap dan mencari informasi sebanyak mungkin untuk satu tujuan: kemerdekaan sejati. Tentang Cinta, Pelarian dan Kemerdekaan Dalam sejumlah dokumen disebutkan, Tan adalah sosok yang tegas, ketegasanlah yang membawanya berbeda padangan dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Jenderal Sudirman, saat Jepang masih bercokol dan Agresi Militer Belanda tahun 1946 di bumi Indonesia masih berlangsung, baginya berdiplomasi dengan musuh adalah kekalahan, maka Tan memilih bergerilya di hutan-hutan untuk memompa resistensi terhadap penjajahan seperti dilakukan Che Guevara di Amerika Latin. Perjalanannya ke berbagai penjuru dunia untuk menjemput kemerdekaan membuahkan hasil, terbukti Indonesia di mata internasional di masa itu perlu dibebaskan dari penjajahan Belanda. Tapi sayang, dalam urusan cinta Tan tidaklah "bahagia", perkenalannya dengan sejumlah wanita yang ia cintai toh kandas bersama waktu. Tan wafat di usia 50 tahun tanpa pernah berstatus sebagai suami. Kisah heroiknya berkahir di ujung senapan tanpa tahu dimana kuburnya berada--jika biasanya makam pahlawan ada di Kalibata, tetapi makam Tan baru diketahui belakangan (itupun masih dugaan) melalui investigasi penulis sejarahnya, Harry Poeze di daerah Jawa Timur beberapa waktu lalu. Mengutip sebuah lagu baru ciptaan anak negeri: "Ketika mimpimpu yang begitu indah tak pernah terwujud ya sudahlah/Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai ya sudahlah/ Apapun yang terjadi ku kan selalu ada untukmu." mimpi Tan Malaka ditengah kejaran dan pelarian untuk sebuah kemerdekaan dari bangsa asing memang telah terwujud, tetapi mengisi kemerdekaan adalah tugas generasi penerus seperi kita sekarang. Tak perlu menjadi pahlawan yang memegang senjata, jadilah pahlawan dari nilai kepahlawan yang ada pada diri kita masing-masing. (M Sya'roni Rofii)

M Sya'roni Rofii

/ziyarofii

TERVERIFIKASI (HIJAU)

M Sya'roni Rofii, alumnus perguruan tinggi negeri di Jogja. Lanjut berkelana di Istanbul. Mencatat kegelisahan (kadang) menjadi aktifitasnya. Chelsea FC sebagian dari warnanya. Dan, kadang berkicau via @ronirofii. Founder indopagi.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK SOSOK PAHLAWANKU

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?