Made In Indonesia (seri Adidas)

30 Desember 2011 03:09:57 Dibaca :

Namanya perempuan, dimana-mana selalu memiliki naluri untuk berbelanja dan kebahagiannya akan berlipat kalau mendapatkan barang yang didiscount murah. Sebagai seorang perempuan yang masih normal, maka saya juga memiliki ciri-ciri seperti di atas. Walau duit dan waktu pas-pasan, selalu ada cara untuk menyiasatinya. Berbeda dengan ketika saya tinggal di Indonesia yang memiliki banyak waktu luang sehingga bisa keliling-keliling pasar, atu mall atau apalah namanya dimana banyak penjual menjajakan barangnya.  Hasilnya saya  bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga miring. Walau kaki pegelnya minta ampun dan sesudah dikalkulasi, biaya untuk jajan dan lain-lainnya melebihi selisih uang yang dibayarkan, tetap tidak ada kata menyesal. Kenikmatan lainnya adalah kalau tidak ada  uang   bisa membeli barang kredit dari tukang kredit langganan (ketahuan suka kredit barang, hahay). Saya selalu punya kredibilitas yang baik dimata tukang kredit bukan karena jujur dan bertanggung jawab, tetapi lebih karena pekerjaan. Menurut tukang kredit, pekerjaan ku adalah jaminan mutu dan tidak ada matinya sampai saya sendiri yang mati. Nah segala kenikmatan dan privillage yang saya peroleh di Indonesia hilang musnah ketika saya tinggal di Australia. Untuk keliling-keliling mall dan pasar (apapun namanya) tak ada waktu karena banyaknya hal yang harus saya kerjakan. Jadi kalau pergi ke Shoping centre,  shoping list  sudah ada di tangan, belanja sesuai dengan list, lalu pulang.  Juga  tak ada tukang kredit (kecuali tukang kartu kredit di Bank). Sayangnya dia tidak mau memberikan kartu kredit karena kredibilitas saya sebagai temporary resident diragukan (kasihannya daku). Rupanya selalu ada jalan keluar. Disela-sela waktu luang saya bisa browsing internet. Klik sana klik sini, akhirnya teregister untuk memperoleh news letter rutin dari web shopping online.  Mereka akan rutin mengirimi e-mail yang isinya penawaran barang-barang  dengan harga miring.  Beberapa kali saya manfaatkan promo ini. lumayan menghemat waktu dan uang. Hingga pada suatu hari saya tertarik dengan salah satu promo tentang sepatu adidas dan didiskon sampai 60%. "Kebetulan nih", pikir saya. Sepatu kets saya yang lama sudah bau dan bulukan. Sudah saatnya diganti. dengan semangat, saya klik promonya, bayar pakai kartu debit.. beres. Menunggu sepatu itu datang serasa  menunggu surat dari pacar waktu saya teenager dulu (maklum ya waktu itu belum ada sms dll seperti sekarang).  Tidak sabar, tiap hari saya buka mail box , mengecek surat  pemberitahuan dari kantor pos untuk menjemput  parcel.  Saya yakin harus menjemputnya karena paket biasanya dikirim di jam kerja. Di jam-jam itu, tak ada seorangpun di rumah.  Kalau penerima paketnya tidak ada, maka pak pos akan memberikan surat pemberitahuan untuk menjemput di kantor pos terdekat.

Suatu hari yang saya nantikan tiba, kartu pemberitahuan untuk mengambil paket.. ini dia kartunya

dengan hati gembira saya menuju kantor pos terdekat. Wah bakalan memakai sepatu baru nih... Adidas gitu lho.... harganya murah.. Sesampai di rumah segera saya buka bungkusnya, lalu  muncullah sepatu ini Nah berhubung barang baru, maka aku memperlakukannya dengan hati-hati.  Kumasukkan kembali sepatu tersebut ke dalam boxnya. TApi... eits... kok ada yang aneh di kotak ini ya.... tulisannya kecil, tapi membuat mataku terbelalak  membesar. Inilah tulisan di box yang membuat mataku terbelalak. ternyata, buatan negeriku tercinta Indonesia, wahai..... kapoklah aku yang sok mau membeli barang bermerek. Sebenarnya sih saya tahu bahwa beberapa barang branded adalah buatan Indonesia. Cuma... biasanya kalau di Indonesiakan tidak di tulis Made in Indonesia. bahkan yang dikaki lima saja di tulis Made in USA.... haha... kena deh...

Nazila Nixon

/zila.nixon

TERVERIFIKASI (HIJAU)

pemikiran dan tujuan baru di tahun yang baru

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?