Kegelisahan 11/1, Muak 12/1

11 Januari 2017 23:27:52 Diperbarui: 11 Januari 2017 23:57:05 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Malam 11 Januari 2017 tidak seperti malam-malam biasanya. Timeline sosial media saya penuh dengan ajakan untuk menyukseskan gerakan "121" atau "Reformasi Jilid 2". Tangan saya gatel untuk menulis sebuah artikel sebagai bukti kegeraman saya terhadap gerakan tersebut. Saya menulis dari kacamata murid SMA dari Semarang yang jauh dari hiruk pikuk Ibukota dan jauh dari gerakan massa. Namun saya sekolah di SMA Kolese Loyola dididik untuk menjadi kritis terhadap persoalan yang ada. Sekali lagi ini dari kacamata anak SMA terlebih lagi dari Semarang.

Gerakan 121 atau BEM SI menyebutnya "Reformasi Jilid II" yang notabene adalah lanjutan dari Reformasi 99, merupakan gerakan yang unjuk rasa terhadap pemerintah terkini karena naiknya harga kebutuhan pokok khususnya cabai dan naiknya harga pajak yang berhubungan dengan kendaraan bermotor. Saya tidak menyalahkan mereka jika unjuk rasa tetap dijalankan, namun seberapa parahkah kondisi negara Indonesia hingga harus Reformasi? mungkin terdengar WOW bila menggunakan kata Reformasi namun perlu diingat bahwa negara kita tidak dalam kondisi mengkhawatirkan bung! MAHAsiswa yang katanya manusia intelektual dan independen yang setiap pemikirannya didasarkan pada kajian ilmiah sangat begitu khawatir dan sangat BERPIKIRAN JAUH sehingga menganggap bahwa kenaikan pajak dan harga cabai dapat membahayakan kestabilan negara.

Mahasiswa seharusnya menjadi motor penggerak negara bukan sebagai penggerak demo omong kosong yang nampaknya minim pemikiran kritis, namun penggerak motor kehidupan sehari-hari di masyarakat. Ada banyak yang sebenarnya mereka bisa lakukan jika mereka masih bingung apa yang harus mereka lakukan. seperti membuat Startup unutk para petani supaya hasil pertanian dapat maksimal, membuat sistem supaya para petani menjadi sejahtera dan tidak lagi ditekan para tengkulak kejam dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk masyarakat. mari kita hitung-hitungan, mereka yang marah gara-gara harga cabai naik emang satu hari makan berapa kilo cabai hingga ketika ada kenaikan harga mereka terasa terganggu. TIDAK WAJAR, hampir setiap tahun, Indonesia belum bisa mengatasi kelangkaan cabai disaat musim penghujan dan baru sekarang mereka koar-koar. kedua, pajak naik hingga 100-200 ribu (maafkan jika salah) padahal pajak dibayar 5 tahun sekali jika dihitung 200 dibagi 5 tahun berarti 40 ribu satu tahun. Mereka mungkin  masih menganggap rakyat Indonesia sangat miskin hingga tidak bisa menyisihkan 40 ribu rupiah dalam satu tahun.

jika benar kekhawatiran mahasiswa tentang kenaikan pajak dan harga cabai membahayakan kestabilan negara, lebih baik mereka dialog dengan bapak Jokowi supaya ditemukan solusi bersama. Menurut saya tindakan itu lebih bijaksana daripada demo dan mengganggu kenyamanan publik. 

apakah demo ini ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu? saya tidak begitu yakin namun satu yang saya yakini, THE REAL MAHASISWA tidak akan berpikiran sedangkal itu. Mari kawan-kawan Mahasiswa berikan sumbangsih yang lebih untuk negara karena untuk jadi pemerintah itu tidak mudah. Jangan hanya terpaksa dalam memberikan sumbangsih ketika mahasiswa dipaksa ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan tidak memberikan apa-apa. Yuk, Mahasiswa tetaplah jadi TERANG DAN GARAM INDONESIA.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL politik

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana