Wanita highlight

Wanita-wanita Perkasa di Program Keahlian Ganda SMK

21 Maret 2017   20:25 Diperbarui: 21 Maret 2017   20:39 68 3 1
Wanita-wanita Perkasa di Program Keahlian Ganda SMK
Sumber Gambar: Koleksi pribadi

Pekerjaan mengelas besi dikerjakan oleh laki-laki itu hal yang sudah biasa. Namun apabila ada perempuan yang mengerjakannya itu baru luar biasa. Apalagi di negeri ini, sisi perempuan yang lebih dikenal feminimnya,  tentu saja pekerjaan yang akan dikerjakan adalah pekerjaan yang sesuai dengan kodratnya.

Tidak menampik kemungkinan, ada juga perempuan-perempuan perkasa di luar sana yang mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh laki-laiki. Seperti tukang gali pasir, sopir mini bus, tukang becak, kuli angkut dan sebagainya.  Dengan berbagai alasan tentunya, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga.

Saat berkeliling di SMK tempat saya mengajar, perhatian saya terfokus ke  bengkel las. Hal yang tidak biasanya di bengkel las diramaikan oleh ibu-ibu yang sedang mengerjakan pekerjaan mengelas (welding).

Setelah berdiskusi dengan Ketua Program studi barulah saya paham, kalau ibu-ibu yang melakukan pekerjaan mengelas besi adalah ibu-ibu yang sedang melaksanakan pelatihan kompetensi ganda. Walau sebelumnya saya tahu beberapa Prodi di sekolah saya sedang dilaksanakan program pelatihan keahlian ganda. Namun saya tidak menyangka kalau ada ibu guru yang biasanya mengajar kimia, IPA, Matematika berminat mengikuti program keahlian ganda dan mengambil prodi Pengelasan (welding).

Inilah salah satu sisi keunikan SMK, dalam  rangka menjalankan program  revitalisasi SMK, Salah satu programnya adalah meningkatkan kompetensi guru produktif melalui berbagai pelatihan dan magang di industri. Selain itu peningkatan jumlah guru produktif melalui program alih fungsi dan sekarang dinamakan program keahlian ganda.

Dengan adanya program ini, guru-guru yang kekurangan jam mengajar untuk beberapa mata pelajaran tertentu bisa mengikuti program keahlian ganda, dan  para guru dipersilahkan memilih Prodi mana yang mereka minati.

Dari sembilan orang peserta keahlian ganda kompetensi keahlian mengelas (welding) yang dilakukan di sekolah saya, ada lima orang perempuan. Pelatihan di sekolah berlangsung selama dua bulan dan dilakukan setiap hari.

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Melihat kondisi pelatihan yang saya saksikan langsung, banyak pertanyaan yang muncul dibenak saya. Kenapa para ibu-ibu mau mengambil kompetensi welding? Apakah tidak terfikir kalau itu pekerjaan yang berat?. Apakah fisik mereka kuat untuk bekerja? Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk wawancara dengan mereka , karena mereka lagi fokus bekerja.

Dengan mengenakan pakaian lengkap seorang tenaga las, para ibu-iibu tidak kalah cekatan dengan peserta bapak-bapak. Mereka antusias bekerja, dan fokus. Sehingga mereka tidak memperdulikan kedatangan saya.

Kemudian saya bertanya kepada Ketua Prodi tentang berapa job yang akan diselesaikan oleh ibu-ibu muda ini. Ternyata para ibu akan ditempa dengan banyak job, dimulai dari las dasar, las listrik dengan elektroda Berselaput ( SMAW ), las dengan berbagai posisi, seperti mengelas Posisi Di Bawah Tanga, Posisi Tegak (vertical) , Posisi Datar (horizontal) , Posisi Di Atas Kepala (Overhead) , Posisi Datar (1G) samapi posisi 6 G, las pipa  dan beragam teknik las lainnya.

Sumber gamba: Koleksi Pribadi
Sumber gamba: Koleksi Pribadi

Saat mengamati ibu-ibu bekerja, saya mencoba melakukan analisis tentang resiko bahaya yang akan dihadapi oleh ibu-ibu. Resiko utama adalah sumber arus listrik. Karena hampir sebagian besar bidang kerjanya menggunakan arus listrik, api, panas, shock, kebisingan, logam panas, ergonomi, radiasi, debu, asap, gas berbahaya dan bisa jadi ada bahaya laten atau bahaya yang tersembunyi.

Tentu saja sebelum melakukan praktik di bengkel las peserta pelatihan sudah dibekali dengan Alat Keselamatan diri (APD) dan pengetahuan cara mengendalikan resiko dan menghindari diri dari Penyakit Akibat kerja (PAK).

Sekuat apapun perempuan, namun kodratnya adalah perempuan di rumah tangga yang penuh kelembutan dan kasih sayang bagi seluruh anggota keluarganya. Hidup adalah pilihan , dimana saat ini masalah gender sudah tidak perlu diperhitungkan sekali. Siapa yang berkompetensi dan mampu silahkan kembangkan diri.

Hanya rasa kagum dan apresiasi saya yang sebesar-besarnya buat lima orang ibu guru yang sedang mengikuti pelatihan keahlian ganda di teknik pengelasan.

Saya pernah membaca suatu kisah seorang ibu-ibu di zaman Rasulullah. Dimana saat itu Rasulullah selesai berperang dan mendapati seorang wanita yang telapak tangannya pecah-pecah. Setelah nabi bertanya  kenapa tanganya seperti itu. Sang ibu perempuan tersebut menjawab, kalau tangannya pecah-pecah disebabkan karena pekerjaannya sehari-hari adalah memecah batu untuk menghidupi anggota keluarga. Karena suaminya sudah tiada saat berperang mempertahankan agama Allah.

Dengan rasa haru kemudian nabi mencium tangan si ibu dan berkata Surga Allah lah sebaik-baik tempat untuk ibu.

Semoga peserta pelatihan keahlian ganda terutama ibu-ibu guru dapat bertahan dan dapat menuntaskan tugas belajarnya. Sehingga program pemerintah dalam mengatasi kelangkaan guru produktif bisa terwujud. Dan program revitalisasi SMK dalam rangka meningkatkan mutu Sumber daya Manusia Indonesia menuju generasi emas.