HIGHLIGHT

Ada dan Tiada di Antara Ruang dan Waktu

17 Mei 2010 04:06:00 Dibaca :

Antara suka dan tidak suka ya sama saja. Dua-duanya berisi resiko. Antara ada dan tiada sama saja. Dua-duanya berada dalam ruang dan waktu. Di dalam ruang dan waktu, waktu-fana, yang dimengertikan dengan tiada itu tetap ada. Sebab ‘tiada' itu tidak hilang dan tidak bisa melewati ruang dan waktu.

Seperti rahasia. Suatu rahasia itu sebenarnya jelas faktanya, jelas keterangannya, ada. Rahasia dan nyata itu bagaikan ada dan tiada yaitu berada di dalam bingkai ruang dan waktu. Rahasia, bukan berarti tidak terpegang, tidak dapat dilihat, tidak dapat dipikirkan. Dapat, bisa. Dapat dan bisa diketahui.

Filasafat intelejen dibangun berdasarkan keyakinan kepada ketidakmustahilan untuk mengetahui ada dan tiada serta rahasia dan nyata. Filsafat politik dan politik itu sendiri juga terbangun dari unsur ada dan tiada, rahasia dan nyata.

Tiada di dalam ada, itu merupakan rahasia

Ada di dalam tiada, itu nyata

Rahasia di dalam nyata itu ghaib

Nyata di dalam rahasia itu ghaib

Nyata tetapi ghaib, itu benda. Ghaib tapi nyata, itu hasil pemikiran, konsepsi, taktik, rencana, strategi, grand design, kejahatan, permusuhan, kapitalisme, organisasi intelijen dan banyak lagi.

Di dalam ghaib ada nyata, di dalam nyata ada ghaib

Ghaib dan nyata tidak bertumpang tindih. Ia jalan sendiri-sendiri sesuai kodratnya masing-masing. Ghaib berarti hilang dari pandangan mata, tersamar tetapi ada. Jadi, ada itu berarti di dalam ghaib dan di alam kasat mata.

Pada dasarnya segala sesuatu itu ada, termasuk yang tiada. Jadi sebenarnya yang tiada itu ada. Tetap ada.

Di dalam ada terdapat tiada

Di dalam tiada terdapat ada

Ini adalah kepastian, bukan relativitas. Relativitas itu berada di dalam bingkai ada dan tiada. Oleh karena itulah relativitas itu suatu kepastian.

Hukum yang berbunyi: ada relativitas tiada, tidak pernah bersamaan datangnya dengan tiada relativitas ada, tetapi juga bukan suatu yang bertolak belakang atau berlawanan.

Hukum tersebut di atas dapat dikaitkan dengan hukum lain, yaitu: di dalam ghaib itu ada nyata dan di dalam nyata itu ada ghaib. Dari perkaitan itulah dapat ditemukan teori-teori dan menyingkap kenyataan sunatullah.

"Ada dan tiada" dan "Ghaib dan nyata" bersatu di dalam sunatullah. Sunatullah itu sendiri terdiri dari sunatullah ghaib dan sunatullah nyata.

Dengan demikian, ghaib dapat mengurus yang nyata. Demikianpun sebaliknya, nyata pun bisa mengurus yang ghaib. Maka jelaslah bahwa dalam pengurusan masalah-masalah ghaib dan masalah-masalah nyata itu pergolakan faktor ada dan tiada.

Dengan kacamata itu semua kasyaf yang hidup di dunia nyata ini membaca masalah-masalah kehidupan manusia dan alam serta berintegrasinya pemikiran dan cita-cita ke dalam lorong dan jalan sunatullah.

Jadi, masalah-masalah seperti ideology, strategi, ekonomi, politik, perang, pertahanan, intelejen, teknologi, dan sebagainya dapat dipergulatkan serta dipertarungkan dengan isme-isme macam kapitalisme, kolonialisme, imperialisme, atheisme, terorisme, marxisme, komunisme, sosialisme, humanisme, hedonisme, spiritualisme, jesuitisme, zionisme, dan sebagainya.

Semua yang disebut di atas tidak ada yang terlepas dari kondisi ada dan tiada dan ghaib dan nyata. Jadi: apa lagi yang rahasia? Bahkan otak sundel bolong pun dapat dibaca, apalagi gerak otak manusia.

Teori seperti adanya these-antithese-sinthese itu hanyalah merupakan riak-riak kecil saja di dalam jalan sunatullah. Ada miliaran gerak these-antithese-sinthese yang bekerja secara otomatis, yang secara otomatis juga dipengaruhi oleh milyaran faktor-faktor lainnya di dalam rangkuman ada dan tiada dan ghaib dan nyata.

Pada awal abad 21 ini secara gamblang terlihat bahwa marxisme-komunisme-stalinisme-leninisme-maoisme sama sekali bukan antithese terhadap kapitalisme-kolonialisme-imperialisme, karena yang terakhir ini jalan terus dalam kemegahan serta kebesarannya (termasuk kedholimannya). Sementara marxisme-komunisme-stalinisme-leninisme-maoisme sudah masuk kubur. Ini menandakan bahwa marxisme-komunisme-stalinisme-leninisme-maoisme itu cuma isme dan bukan ideologi. Sebab hanya ideologi lah yang akan memampuskan kapitalisme kolonialisme imperialisme di muka bumi ini.

Orang yang berdiri di belakang setan kapitalisme-kolonialisme-imperialisme-globalisme itu bolehlah siap-siap menggali kuburnya bersama isme piaraannya itu. Sunatullahnya berkata demikian dan pasti akan demikian.

Bagi manusia yang sudah putus ilmunya mengenai ada dan tiada serta ghaib dan nyata, semua itu terang benderang gamblang seperti melihat orang bernafas-makan-berak-mati.

Yusuf Hanafi

/yusufh

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menceritakan Berita dibalik Berita...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?