Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Viralitas dan Dampaknya bagi Brand

15 Juli 2017   17:00 Diperbarui: 15 Juli 2017   17:02 72 0 0

Diera ini, faktor daya ungkit yang membedakan adalah kecepatan kerja teknologi informasi. Hal yang dulu nampak biasa saja, kini dengan mudah menjadi sebuah bahan viral.

Persaingan terjadi dari arah yang tidak diduga sebelumnya. Abad kelincahan, dimana sebuah momentum sangat ditentukan oleh berapa besar kecepatan ungkit yang dimilikinya.

Disemua lini, perubahan bentuk kehidupan berlaku, pembelian tiket tanpa fisik, pembelajaran tidak terbatas ruang kelas. Bahkan artis bukan lagi yang memiliki karya terbaik, namun disukai oleh banyaknya fans.

Era popularitas menjadi penentu, jumlah followers menjadi pembeda. Pendatang baru muncul membawa ketertarikan tersendiri. Fenomena artis youtubers dan selebritas medsos menjadi sebuah genre baru.

Terkadang kecepatan teknologi membuat kita tidak sempat untuk melakukan verifikasi informasi yang datang silih berganti.

Bahkan pemerintah dan majelis ulama pun membuat rambu-rambu aturan dalam menggunakan teknologi.

Kekhawatiran akan kepungan berita bohong yang akan menang dibenak masyarakat, mengasumsikan bahwa kebenaran yang ada memang terlalu lemah untuk diargumentasikan.

Bahkan pekerjaan diseputar teknologi sosial media yang menjadi sarana percepatan momentum untuk sebuah produk ataupun jasa tercipta. Sebut saja social media manager, content officer, dan berbagai jabatan pekerjaan baru yang muncul diera digital.

Viralitas layaknya popularitas pada dunia maya menjadi mantra sakti untuk mendulang perhatian dan dapat berujung pada nilai nominal.

Bagaimana kemudian brand berada diera yang serba cepat dan instant ini? Adakah viralitas mampu menciptakan awareness dan sales yang signifikan?.

Pada beberapa waktu lalu kita terkekeh melihat iklan es krim dengan tipe kolosal yang dikombinasikan dengan gaya kekinian dan update.

Sebelumnya, kita sempat disuguhi berbagai macam meme tentang produk biskuit kaleng Khong Guan yang membuat terpingkal.

Aspek viralitas ditopang oleh dua hal utama, yakni konten yang menarik dan kumpulan buzzer yang mendorong viralitas itu terjadi.

Buzzer pun kini menjadi sebuah profesi baru, karena dapat dikomersialisasikan karena kebutuhan produk/ jasa yang membutuhkan penyebaran informasi secara terbuka dan setara dalam format dialogis.

Durasi Singkat Viralitas

Teknologi dan sosial media mendorong viralitas sebuah brand, bahkan dengan biaya yang lebih ekonomis karena aspek pembiayaannya lebih rendah dibandingkan mass media mainstream diarus utama.

Problemnya viralitas sesuai kondisi alamiahnya memang berdurasi singkat, karena pada saat yang bersamaan bermunculan viralitas baru lainnya secara silih berganti.

Pertanyaannya apakah dalam periode keterkenalan yang singkat tersebut, mampu mendorong sebuah merek untuk mendapatkan impak penjualan?.

Tentu saja jawabnya tidak, secara nyata kita melihat pada kasus artis orbitan sosial media hanya mampu bertahan sebentar dipanggung mainstream.

Demikian pula dengan berita yang dimulai dari viralitas didunia digital, mampu memiliki gaung yang lebih luas setelah direspon oleh media massa arus utama.

Karena itu, dapat dipastikan bila viralitas tidak akan mendongkrak banyak pada indikator penjualan langsung baik produk/ jasa, tetapi viralitas mampu membentuk awareness yang berpotensi menciptakan ketertarikan lebih jauh.

Perlu adanya upaya yang lebih keras dari sekedar menciptakan viralitas, karena edukasi pasar yang berhasil tidak hanya menciptakan fase keterkenalan tetapi juga menyokong terjadinya penjualan.

Bagaimana menciptakan keberlanjutan program atas viralitas yang terjadi? Brand harus melakukan eksporasi secara sinergis dalam program jangka pendek.

Keterbatasan durasi waktu viral mengharuskan brand bersiap setiap saat ketika masa dimana viralitas itu tersebut terjadi. Strategi aktivasi dapat dilakukan, melakukan promosi hardselling yang menambah daya dukung merek.

Pada posisi strategi menengah, membangun keterikatan dan keterkaitan dengan para fans maupun followers adalah hal yang patut dikelola lebih serius.

Karena mekanisme digital menciptakan pola komunikasi tidak hanya one to many melainkan many to many, sehingga peran komunitas sebagai supporter perlu dikembangkan.

Sesuai dengan target jangka panjang, maka fans dan followers akan mulai dilibatkan untuk menjadi co-creator yang tidak hanya menterjemahkan kebutuhan pasar, sehingga mampu selaras dengan needs and wants atas kepentingan pelanggan itu sendiri.

Jadi, viralitas merupakan langkah awal yang perlu dielaborasi lebih rigid untuk memenangkan market share.