Simplifikasi-Dikotomis Absurd Racikan Pendukung Ahok-Djarot

16 Maret 2017 15:11:24 Diperbarui: 16 Maret 2017 15:20:45 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Simplifikasi-Dikotomis Absurd Racikan Pendukung Ahok-Djarot
https://news.detik.com/berita/d-3441695/kata-anies-soal-survei-yang-sebut-warga-tak-pilih-ahok-meski-puas

Istilah simplifikasi-dikotomis adalah sebah term yang entah darimana asalnya. Ini hanyalah refleksi sederhana yang muncul ketika melihat perkembangan kontestasi Pilkada DKI Jakarta kali ini. Apa maknanya? Sederhana, bahwa saat ini muncul definisi baru yang lebih sederhana atas sebuah istilah yang sudah lama dikaji dan menjadi pergulatan para ilmuan, dan itu untuk menunjukkan dikotomisasi atas perbedaan sikap (pilihan), terutama dalam konteks Pilkada DKI Jakarta kali ini. Disebut simplifikasi karena “stempel” yang ditempelkan hanya berdasarkan satu peristiwa, dan kadang hanya melalui sebuah foto saja.

Misalnya, ketika Anies Baswedan foto bersama dengan orang dari generasi Orba, Anies kemudian dituding sebagai sosok yang ingin mengembalikan suasana Orba. Ketika Anies foto bersama Habib, dituding radikal, atau ingin membawa suasana radikal dalam kepemimpinannya kelak, ketika ia benar menjadi gubernur Jakarta. Ketika Anies foto bersama Kyai/Ulama, ia lalu dituding sedang menjual agama untuk kepentingan politis. Ketika Anies berfoto dengan orang-orang Madura atau orang Kalbar yang mendeklarasikan dukungan terhadapnya, ia dibilang memainkan isu primordial. Bagaimana ketika Anies berfoto dengan orang-orang dari kelompok minoritas (agama maupun etnis)? Tak ada komentar.

Padahal, ia hanya akan menjadi Gubernur Jakarta, bukan Presiden Indonesia! Seberapa hebatkah Gubernur Jakarta bisa memastikan keberlangsungan Indonesia dengan menafikan peran Presiden? Artinya, ini pikiran yang agak kacau, yang sering dimunculkan oleh para pendukung Ahok-Djarot, yang mengatasnamakan diri mereka kaum moderat yang cinta kebhinnekaan. Anies Baswedan dan pendukungnya, adalah mereka yang tidak Pancasilais dan tidak nasionalis, hanya karena dikelilingi oleh para pendukung yang secara sepihak dilabeli dengan “khas” oleh mereka: radikal, intoleran, anti-kebhinneakaan, dan saudara-saudaranya.

Lalu, apakah untuk menjadi pancasilais dan nasionalis harus mendukung Ahok demi mengatasnamakan pembelaan kelompok minoritas? Apakah pembelaan atas minoritas an sich adalah representasi dari seorang yang pancasilais dan nasionalis? Apakah kita harus membela Ahok agar terjadi kemenangan demokrasi? Kemenangan demokrasi seperti apa yang mereka definisikan sehingga kalau pihak Anies Baswedan yang menang seakan-akan itu adalah kemenangan para perusak bangsa. Owh, Tuhan. Sejak kapan ada simplifikasi-dikotomis semacam itu, bahwa mereka seakan berhak mendefinisikan mana yang radikal, demokrasi, cinta bhinneka, intoleran, dan nasionalis?. Lebih anehnya,itu didasarkan pada penglihatan subjektif atas sebuah fenomena saja, tanpa kajian yang matang.

Sulit mempercayai skema teoritis seperti ini, terutama ketika melihat fakta, bahwa ternyata Ahok-lah yang saat ini menjadi terdakwa kasus penistaan agama, dan secara sah menjadi pemecah belah umat beragama. Sementara dukungan kemlompok minoriotas (agama dan etnis) kepada Anies, menjadi luput dari istilah kebhinnekaan dan kemenangan demokrasi yang mereka buat. Parahnya, sikap Ahok yang sarkas dan arogan, ternyata menular pada para pendukung dan pemujanya, yang ketika memberikan komentar di sebuah akun dan laman, benar-benar menjadi representasi dari Ahokers sejati.

Akhirnya, sering kita mendengar beberapa asumsi dasar yang mengerucut pada kesimpulan, bahwa mendukung Anies katanya radikal, mendukung Ahok itu masuk akal. Mendukung Anies katanya intoleran, mendukung Ahok itu toleran. Mendukung Anies katanya anarkis, mendukung Ahok itu demokratis. Kalau seperti ini yang dimaksudkan oleh mereka, para pendukung Ahok, sekali lagi, ini konstruksi berpikir yang agak kacau.

Yoshi Hervandar

/yosihervandar

Habib Rizieq adalah titisan Soekarno, orasinya membangkitkan semangat, mendengarnya membangkitkan nasionalisme
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article