Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Terpuruknya Bayer Leverkusen

20 Maret 2017   16:49 Diperbarui: 20 Maret 2017   17:05 106 1 1

Jauh sebelum kemunculan RB Leipzig, klub milik perusahaan minuman energi Red Bull, musim ini, ada satu klub, milik perusahaan, yang mampu membuat kejutan besar. Klub itu adalah Bayer Leverkusen. Klub milik perusahaan farmasi Bayer ini, didirikan tahun 1904, oleh para karyawan Bayer. Pada awalnya, klub ini bernama TSV Bayer 04 Leverkusen, sebuah klub olahraga, yang mempunyai tim, dari berbagai cabang olahraga, seperti sepakbola, basket, tenis, dan hoki es.

Seiring berkembangnya industrialisasi sepakbola, pada tahun 1999, tim sepakbola Bayer Leverkusen, diubah menjadi suatu entitas tersendiri, dengan nama lengkap Bayer 04 Leverkusen GmbH. Meski sudah berganti nama, Bayer Leverkusen tetap berada di bawah naungan perusahaan farmasi Bayer.

Bicara soal trofi, raihan mereka tergolong minim, untuk sebuah klub, yang rajin bersaing di papan atas Bundesliga. Di tingkat domestik, Leverkusen baru meraih 1 trofi DFB Pokal, tahun 1993. Sedangkan, di tingkat Eropa, Leverkusen meraih 1 trofi Piala UEFA tahun 1988. Di Bundesliga, mereka belum pernah juara. Prestasi tertinggi mereka, adalah runner-up, yang kebanyakan diraih, antara tahun 1996-2002. Dalam periode ini, mereka menjadi runner-up Bundesliga, dalam 4 kesempatan berbeda (1997, 1999, 2000, dan 2002). Prestasi ini, diulang kembali, tahun 2011.

Secara kebijakan, sekilas klub ini mirip Arsenal di Inggris, khususnya Arsenal dalam sedekade terakhir. Di bawah pimpinan Direktur Teknik Rudi Voller (eks pemain dan pelatih timnas Jerman), Leverkusen menjadikan pemain muda, sebagai pilar utama tim, dipadukan dengan pemain senior. Pemain muda itu berasal dari akademi, atau dibeli dari klub lain, dengan harga terjangkau. Nantinya, mereka akan dilepas dengan harga mahal, ke klub yang lebih besar, untuk menambah profitabilitas klub. Pemain-pemain terkenal, 'alumnus' Leverkusen, antara lain, Michael Ballack, Dimitar Berbatov, Amdre Schuerrle, Son Heung Min, dan Emre Can.

Dalam hal target, Leverkusen juga mirip seperti Arsenal: finis urutan berapapun tak masalah, yang penting lolos ke Eropa tiap musim. Akibatnya, Leverkusen hanya dianggap, sebagai klub 'batu loncatan', yang sulit berprestasi tinggi. Uniknya, prestasi tertinggi kedua klub, di Liga Champions Eropa sama: runner-up. Arsenal mencapainya tahun 2006 (kalah 2-1 dari Barcelona di Paris). Sedangkan, Leverkusen lebih dulu meraihnya tahun 2002 (kalah 2-1 dari Real Madrid di Glasgow).

Setelah konsisten finis di papan atas, dalam beberapa musim terakhir, pada musim 2016/2017 ini, performa mereka, di ajang domestik (DFB Pokal dan Bundesliga anjlok. Di ajang DFB Pokal, mereka tersingkir di fase 32 besar, setelah kalah dari klub kasta ketiga, Sportsfreunde Lotte (2-2; 3-4 adu penalti). Di Bundesliga, mereka mencatat 9 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 12 kekalahan, termasuk kalah 0-1, dari Hoffenheim di pekan ke 25, Sabtu (18/3) lalu. Akibatnya, klub terdampar di posisi 11, dengan nilai 31, terpaut 14 poin dari Hoffenheim di urutan keempat. Meski sukses mencapai 16 besar Liga Champions musim ini (kalah agregat 2-4 dari Atletico Madrid), mereka sudah mengganti pelatih, dari Roger Schmidt (Jerman) ke Tayfun Korkut (Turki). Pergantian ini terjadi, segera setelah mereka kalah 2-6, dari Borussia Dortmund, 5 Maret lalu.

Jika melihat materi timnya, penurunan performa Leverkusen musim ini tergolong tak biasa. Karena, dalam tim terdapat pemain sekelas Lars Bender, Jonathan Tah Bernd Leno, dan Julian Brandt (Jerman), plus Javier "Chicharito" Hernandez (Meksiko). Selain itu, materi tim juga tidak banyak berubah, dibanding musim-musim sebelumnya.

Di sisi lain, merosotnya performa Leverkusen mencerminkan, mencetak profitabilitas, dan prestasi, adalah hal yang sama penting. Jika sebuah klub sudah profitable, dan sehat secara finansial, maka fokus selanjutnya, dari klub tersebut, adalah berusaha mencetak prestasi setinggi mungkin. Bukan target standar, yang "sekedar lolos", atau sekadar finis, di peringkat tertentu tiap musimnya. Karena, jika target semacam itu sudah rutin terpenuhi, akan timbul kejenuhan dalam tim, yang justru akan mengantar tim pada kemunduran.