Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola headline

Menguji Timnas U-19 tanpa Muhammad Riyandi

13 September 2017   00:18 Diperbarui: 13 September 2017   08:17 6105 5 3
Menguji Timnas U-19 tanpa Muhammad Riyandi
Kiper timnas u-18 Muhammad Riyandi. Fourfourtwo

Pada Senin (11/9) lalu, timnas U-19 takluk 0-3 dari Vietnam. Sialnya, kekalahan itu membawa bonus tambahan yang tak diharapkan; cederanya kiper utama Muhammad Riyandi, akibat salah tumpuan, saat menendang bola. Situasi serba sial ini, persis seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Awalnya, semua pihak berharap, cedera kiper berusia 17 tahun ini tak parah. Sayang, hasil pemindaian pada Selasa (12/9) menunjukkan, lutut kanan Muhammad Riyandi mengalami cedera robek otot ligamen lutut (otot penghubung sendi lutut/ ACL), yang tingkat keparahannya setara dengan cedera patah tulang kaki. Alhasil, ia harus menepi selama 6 bulan. Praktis, Piala AFF U-18 telah berakhir baginya. Tak hanya itu, kiper utama timnas U-19 ini dipastikan absen, pada Pra Piala Asia U-19, yang akan mulai bergulir, akhir Oktober mendatang.

Secara teknis, absen panjangnya Riyandi, adalah sebuah pukulan telak bagi Garuda Nusantara. Karena, ia adalah kiper yang sangat diandalkan pelatih Indra Sjafrie. Gaya bermainnya yang modern, punya akurasi operan, refleks, dan positioning yang oke, menjadi tambahan kekuatan tersendiri di sektor pertahanan. Selain itu, posturnya yang ideal (untuk posisi kiper) mampu memberi rasa aman. Karena, kiper Barito Putera ini, mampu mengantisipasi bola atas dengan baik.

Otomatis, situasi ini akan menjadi kesempatan tampil, untuk Gianluca Pagliuca Rossi, dan Muhammad Aqil. Di satu sisi, ini akan menjadi kesempatan yang bagus, untuk keduanya dapat bersaing. Tapi, di sisi lain, ini menimbulkan sebuah kekhawatiran. Karena, keduanya selama ini jarang tampil. Sehingga, muncul kekhawatiran, kalau kualitas keduanya belum sebagus kiper utama. Terbukti, saat timnas U-19 kalah 0-3 atas Vietnam, ketiga gol Vietnam di laga ini muncul, setelah Riyandi ditandu keluar lapangan, dan digantikan oleh Muhammad Aqil.

Okelah, kita bisa menganggap Brunei bukan lawan sulit di atas kertas. Tapi, situasi di laga ini akan lain, akibat tingginya tekanan pada timnas U-19, untuk menang telak, guna menjaga asa ke semifinal. Jika timnas U-19 mampu lolos ke semifinal pun, sudah ada Thailand dan Malaysia, dua tim tangguh di kawasan ASEAN, yang sudah menunggu, sebagai calon lawan. Tekanan berat inilah, yang akan membebani mental kiper-kiper cadangan timnas U-19.

Di sinilah, peran pelatih Indra Sjafrie akan menentukan. Cederanya Riyandi, mau tak mau akan memaksanya mengatur ulang skema permainan tim. Selain itu, kedua kiper cadangan ini, sama-sama harus dipersiapkan sebaik mungkin, dalam waktu persiapan yang mepet. Supaya, mereka sama-sama mampu tampil baik saat tenaganya dibutuhkan.

Cederanya Riyandi, memang menjadi sebuah kerugian besar bagi Garuda Nusantara, khususnya di sektor pertahanan tim. Tapi, kejadian ini akan menjadi kesempatan langka, untuk menguji kemampuan kiper-kiper yang selama ini hanya menjadi pemain cadangan. Bagi para pemain secara kolektif, ini adalah ajang uji kekompakan dalam tim. Jika timnas U-19 mampu lulus ujian ini, maka tim ini akan mampu meraih prestasi di Piala AFF U-18.

Mampukah timnas U-19 lulus ujian?