Humaniora

Si Kabayan Disemangati Zaman

14 Agustus 2017   00:43 Diperbarui: 14 Agustus 2017   01:04 21 0 0
Si Kabayan Disemangati Zaman
si-kabayan-59908e982d7acb17236e5122.jpg

Si Kabayan adalah tokoh dongeng di daerah Pasundan, Jawa Barat. Dia hidup sejak zaman dongeng disampaikan secara lisan, sampai dongeng dituliskan atau direkam dalam media audio-visual. Untuk saat ini, rasanya tidak ada orang Sunda yang tidak tahu Si Kabayan. Bahkan karena dongeng Si Kabayan menyebar juga melalui bahasa Indonesia dalam media cetak, media audio-visual, internet, rasanya tokoh ini sudah dikenal lebih luas lagi.

Pertama kali saya mengenal Si Kabayan ketika orang-orang tua sering mendongengkan satu dua cerita di madrasah tempat mengaji. Atau dari Bapak (almarhum) yang pengucapan "el, da deet"-nya dalam episode "Si Kabayan Memancing Siput" tersimpan rapi dalam kenangan. Saya rasa setiap mereka mendongengkan Si Kabayan, ada tujuan untuk lebih "menghibur". Para orang tua di madrasah bermaksud agar anak-anak tidak ngantuk, atau kecewa tercegat hujan ketika mau pulang. Bapak selalu berhasil memindahkan suasana isak tangis saya ke tertawa dengan ucapan "el, da deet" sambil mengangkat kaki.

Jadi dalam rekaman pikiran saya, Si Kabayan adalah tokoh dongeng untuk memancing tertawa. Baru kemudian saya tahu bahwa tertawa pun bermacam ragam. Achdiat K. Mihardja menulis serangkaian cerita Si Kabayan dalam buku Si Kabayan, Manusia Lucu dengan rasa "akademis". Bagi Achdiat, cerita lucu haruslah berunsur ngageuhgeuykeun (mentertawan, baik berupa kritik sosial atau kritik diri). Karenanya dalam versi Achdiat, cerita Si Kabayan yang sudah klasik seperti dalam episode "Mencari Jalan Ke Surga" menjadi panjang dan penuh keterangan. Belum lagi cerita baru semisal Si Kabayan dan Sastra Kontekstual, Si Kabayan dan Filsafat Kerakusan, Si Kabayan Mau Melawat ke Luar Negeri.

Itu semua memberi kepercayaan kepada saya bahwa bagaimana ragam kelucuan dongeng Si Kabayan tergantung penuturnya. Si Kabayan pun bisa menjadi apa saja. Dia hidup di setiap zaman. Disemangati zamannya. Cerita-cerita yang tidak sesuai lagi ditinggalkan dan lambat laun hilang dari ingatan. Dalam buku yang terbit tahun 1920-an (penulisnya seorang Belanda, tapi saya lupa detailnya karena buku itu tidak tertemukan lagi), begitu banyak cerita Si Kabayan yang cawokah (jorok, mentertawakan tentang seksualitas). Lambat laun cerita seperti itu hilang, meski dalam kesenian tradisional seperti wayang golek humor cawokah menjadi ciri tersendiri dalang-dalang tertentu.

Mungkin karena berdasar karakter Si Kabayan seperti itu, Ajip Rosidi dalam pengantar cerita Si Kabayan Jadi Dukun karangan Moh. Ambri (citakan ke-4, 2002) menyatakan: siapapun bisa menciptakan tokoh Si Kabayan, yang sifat-sifatnya dianggap sudah baku: kedul, teu boga kaera, cunihin, cilimit, hawek(malas, tidak punya rasa malu, berkata atau bersikap tidak senonoh terhadap wanita, senang mengganggu orang atau meminta makanan orang, tamak) -- tentunya sifat-sifat manusia yang tidak terpuji. Benarkah seperti itu? Atau sifat-sifat baku itu bisa berubah menjadi ramah, lugu, baik hati, dan  sifat lainnya yang memungkinkan?

Sifat-sifat seperti itu saya rasa bermetamorfosa juga sesuai semangat zaman. Selain sifat Si Kabayan yang disebutkan di atas, semakin sering ditemukan Si Kabayan yang bijaksana, merdeka, dan cerdas. Dalam versi film, malah tergambarkan Si Kabayan yang lugu, jujur, dan baik hati. Sementara sifat cunihin, cilimit dan hawek, semakin menurun frekwensinya. Barangkali karena Si Kabayan pun berinteraksi dengan tokoh-tokoh jenaka lainnya seperti Nasruddin Hoja atau Abu Nawas. Dalam beberapa cerita mereka ada kesamaan. Seperti ketika Nasruddin Hoja ditanya, berapa banyak bintang di langit? Jawabannya, sama dengan bulu keledai di tubuhnya. Si Kabayan pun ada yang nanya seperti itu, "berapa banyak bintang di langit, tolong ikat tangan dengan air". Jawaban Si Kabayan, "bintang di langit sama dengan pasir di pantai, sebelum mengikat tangan tolong buatkan dulu tali dari air itu.". Seperti kita tahu, Nasruddin Hoja adalah tokoh jenaka yang lebih nyupi (bersifat sufi). Jadi sifat Si Kabayan pun bisa berubah terus menerus. Sifat abadinya hanyalah mengundang tertawa, bagaimanapun ragamnya.

Bagi saya, sifat cunihin, cilimit, hawek, kurang ajar (terutama terhadap mertua) Si Kabayan, menjadi termaafkan dengan sifat-sifat humor. Mungkin karena kita tahu dan percaya, humor adalah maqom tertinggi dari manusia yang senantiasa belajar manusiawi.

Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah, 2004)
Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah, 2004)

Tahun 2004 saya mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah). Di buku itu tidak semua dongeng klasik Si Kabayan yang dikumpulkan, karena saya menyatukannya dengan dongeng Si Kabayan "baru" yang benar-benar karangan saya.

Si Kabayan Jadi Sufi sendiri diolah dari episode Si Kabayan Maok Lahang. Dalam episode ini, ketika Si Kabayan kepergok mau mencuri lodong dan ditegur Pak Kiyai, "Hey, Kabayan! Kamu mau curi air tuak dari pohonku, yah?" Jawab Si Kabayan, "Ah tidak, Abah. Saya cuma lagi cari jalan ke surga, Abah! Konon, kata sahibul hikayat, surga itu adanya di langit!" (Si Kabayan, Manusia Lucu karangan Achdiat K. Mihardja, Grasindo 1997).

Sementara dalam ulang kisah saya episode ini diceritakan Si Kabayan diisukan menjadi seorang sufi, seorang yang bijaksana. Padahal niat Si Kabayan dengan selalu berbuat baik (misalnya meminggirkan batu-batu di jalan, membersihkan sampah, seharian di mesjid) sebagai provokasi siapa tahu ada yang menyumbang makanan di masa krisis ekonomi itu. Tapi karena ditunggu-tunggu tidak ada juga yang memberi sedekah kepada Si Kabayan sebagai tipikal orang miskin, akhirnya Si Kabayan mencuri lahang (air nira). Ketika kepergok orang sekampung, terjadi dialog seperti ini:

"Kamu mau mencuri, Kabayan?"

"Tidak sama sekali, Pak Kiayi. Saya hanya melihat-lihat, ada tidak di sini jalan ke surga. Katanya surga ada di langit. Tapi sudah empat penjuru kampung ini saya teliti, tidak ada jalan ke surga."

"Di kampung lain ada jalan ke surga, Kabayan?"

"Ada. Semua kampung punya jalan ke surga, kecuali kampung kita!"

"Kenapa?"

"Karena kampung kita dikotori orang kaya yang tidak perduli sudah dua hari tetangganya tidak makan nasi, orang kaya yang lebih baik menyewa mata-mata daripada memberi sedekah." (hal.32)

Tahun 2017 ini saya berkesempatan lagi mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan, maka saya memilih menuliskan kembali dongeng-dongeng yang klasiknya. Si Kabayan Memancing Siput, Si Kabayan Memetik Buah Nangka, Si Kabayan Ingin Diundang (dalam bahasa Sunda: Ngadeupaan Lincar), yang ada dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi, ditambahkan dengan dongeng klasiknya yang dulu belum sempat dituliskan. Buku baru ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Grup).

Mungkin karena pilihan saya "mengisah ulang" episode yang bernuansa religi dan kritik sosial dalam Si Kabayan Jadi Sufi, seorang teman yang suku Minangkabau bertanya juga, "Jadi karakter Si Kabyan sebenarnya seperti apa?"

**

Ikuti cerita, dongeng, dan bahasan tentang literasi lainnya di http://dongengyusrismail.blogspot.co.id/