Pendidikan Islam

27 Mei 2015 11:03:04 Dibaca :




PENDIDIKAN ISLAM


Konsep Dan Teori Pendidikan Islam


Istilah pendidikan dalam konteks islam pada umumnya mengacu pada term al-tarbiyah, al-ta’bid, dan al-ta’lim. Dari tiga terminologi tersebut yang populer digunakan dalam praktik pendidikan islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan al-ta’dib dan al-ta’lim jarang sekali digunakan. Walaupun sebenarnya kedua term tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan islam.


Cita-cita pendidik islam dalam membangun manusia diarahkan pada pendidikan keseimbangan antara rohani dan jasmani, mencekup dimensi yang luas, bersentuhan langsung dengan kawasan duniawi, merembes ke kehidupan akhirat. Pendidikan islam tidak pernah menganakemaskan kepentingan duniawi dengan menganaktirikan kepentingan akhirat. Pendidikan islam lebih menekankan pada keseimbangan dan keserasian perkembangan hidup manusia untuk kepentingan kehidupan di dunia dan di akhirat.


Dalam pandangan islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang di dalamnya diberi kelengkapan-kelengkapan psikologis dan fisik yang memiliki kecenderungan kearah yang baik dan yang buruk. Dalam melalui proses kependidikan, manusia dapat menjadi makhluk yang serba diliputi oleh dorongan nafsu jahat, ingkar, dan kafir terhadap Tuhannya. Hanya melalui proses kepentingan manusia akan dapat dimanusiawikan sebagai hanmba Tuhan yang mampu menaati ajaran agamanya dengan penyerahan diri secara total sesuai ucapan dalam salat: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, seluruh hidup dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”


Manusia sejak ajali adalah manusia. Tetapi yang diusahakan dimanusiakan melalui proses pendidikan itu adalah sikap dan perilakunya agar tidak semacam “serigala” sebagaimana yang pernah diungkapkan orang dewasa – orang tua dalam keluarga –yang taat ajaran agama sangat menentukan dalam pendidikan anak. Dari sini dapat difahami, bahwa “hakikat pendidikan islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.



1. Dasar Pendidikan Islam


Al-Qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama. Al-Qur’an diturunkan untuk kebaikan alam semesta. Ia menjadi way of life umat manusia, khususnya umat islam. Al-Qur’an dan umat islam bagaikan Dwi Tunggal, dalam perspektif kebutuhan. Kapanpun waktunya dan dimanapun umat islam berbeda, selalu menghajatkan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Oleh karena itu, sebagai petunjuk bagi sekalian umat manusia, maka petunjuk Al-Qur’anmencakup jangkauan yang universal, tidak diperuntukkan bagi umat islam saja, tetapi juga bagi mereka yang non muslim. Mendapat tantangan atau tidak petujuk Al-Qur’an tetap berlaku atas manusia dan abadi sepanjang masa.


Al-Qur’an memang sangat menarik perhatian untuk dikaji oleh semua pihak, baik secara berkelompok maupun secara individual. Dari masa ke masa orang tidak akan pernah bosan mempelajarinya dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang untuk dapat memahami kandugannya. Hal ini wajar dilakukan oleh mereka, karena Al-Qur’an adalah sumber tertinggi ajaran islam yang mempunyai pengaruh dalam dimensi yang universal. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa “ Al-Qur’an sejak masa Nabi Muhammad saw. sudah dipelajari para sahabat dengan dengan tujuan memahami kandugan ajarannya. Jadi, usaha untuk memahami kandungan Al-Qur’an yang dilakukan di zaman sekarang adalah kelanjutan dari kegiatan mempelajari Al-Qur’an di masa lalu.


Nabi Muhammad saw. menerima Al-Qur’an secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun. Dalam rentangan masa 23 tahun itu, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Sebagai kitab suci, Al-Qur’an berisi 114 surah dan 6236 ayat. Menurut sebagian para ahli kalimatnya berjumlah 74437, sedangkan hurufnya berjumlah 325345. Tentang jumlah surat dalam Al-Qur’an, golongan syiah berbeda pendapat. Dengan memasukkan dua surat qunut yang dinamai surah Al Khal dan Al Hafd, mereka berpendapat bahwa jumlah surat dalam Al- Qur’an adalah 116 surat.


Sebanyak 114 surah yang terdapat Al-Qur’an itu, nama-nama dan batas-batas tiap-tiap surahnya, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Surah-surah dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:


1) Assab’uththiwaal; maksudnya adalah tujuh surat yang panjang, seperti Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa, Al-‘Araaf, Al-An’aam, Al-Maa’idah, dan Yunus.


2) Almiuun; maksudnya addalah surah-surah yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, yusuf, Mu’min,.


3) Almatsaani;maksudnya adalah surah-surah yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti Al-Anfaal, Al-Hijr.


4) Al Mufashshal; maksudnya adalah surah-surah pendek, seperti Adhdhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-nas.



Dari isi Al-Qur’an itulah terkandung sejumlah ajaran yang perlu dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. Tidak sekedar untuk dibaca untuk mencari berkahnya, dijadikan hiasan dinding rumah, atau dibacakan kepada orang tetapi untuk dijadikan sebagi sumber hukum bagi orang-orang yang hidup dan sebagai hiasan bagi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, Al-Qur’an diturunkan untuk diikuti dan bukan untuk simbol dan ligtimasi formal.


Al-Sunnah adalah sumber hukum islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Al-Sunnah ialah perkataan, perbuatan, ataupun pengakuan Rasul Allah swt. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan Beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Seperti Al-Qur’an Al-Sunnah juga berisi akidah dan syari’ah. Al-Sunnah berisi petunujuk untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa untuk itu Rasulullah menjadi guru dan pendidik utama, beliau mendidik; pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Aqram, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar cara tulis, ketiga dengan mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk islam, semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masyarakat islam.


Ijtihad adalah istilah para fiqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuwan syari’at islam untuk menetapkan/menentukan sesuatu hukum syari’at islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sasaran Ijtihad adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan, yang selalu berkembang. Ijtihad di bidang pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, terasa semakin urgen dan mendesak, tidak saja dibidang materi atau isi, melain juga di bidang sistem dalam arti yang luas.


Baik Al-Qur’an, Al-Sunnah, maupun Ijtihad, adalah sebagai dasar pendidikan islam. Al-Qur’an sebagai dasar pertama pendidikan islam, Al-Sunnah dasar kedua pendidikan islam dan ijtihad sebagai dasar ketiga pendidikan islam. Al-Qur’an adalah petunjuk, tidak hanya bagi umat islam, tetapi juga bagi sekalian umat manusia. Sebagai pedoman dan sebagai dasar pendidikan islam yang pertama, tidak ada keraguan sedikitpun tentang nilai-nilai kebenaran transenden yang dikandungnya.


Demikian juga terdapat Al-Sunnah, sebagai dasar pendidikan islam yang kedua, kebenarannya sangat diyakini oleh umat islam, karena bersumber dari Nabi Muhammad saw. yang bergelar al-amin (orang yang dapat dipercaya). Ijtihad sebagai dasar pendidikan islam yang ketiga dipandang sangat penting dalam menghadapi tuntutan kemajuan di bidang pendidikan dalam segala zaman.


2. Tujuan pendidikan islam


Tujuan dalam proses pendidikan islam adalah idealitas (cita-cita) yang mengandung nilai-nilai islami yang hendak dicapai dalam proses kependidikan yang terdasarkan ajaran islam secara bertahap.


Tujuan dalam pendidikan islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Ahmad D. Marimba, misalnya menyebutkan empat tujuan pendidikan yaitu mengakhiri usaha pendidikan, mengarah usaha pendidikan, sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama, memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Selain tujuan berfungsi untuk mengakhiri dan mengarahkan usaha pendidikan, tetapi juga, menurut Hery Noer Aly, tujuan berfungsi untuk membatasi lingkup usaha pendidikan dan dinamikanya, serta untuk memberi semangat dan dorongan untuk melaksanakan pendidikan.


3. Pendidik dalam pendidikan islam


Dalam pendidikan islam, pendidik bisa dibagi menurut prespektif kelembagaan, yang tersimpul dalam istilah Tri Pusat Pendidikan. Orang tua adalah pendidik dalam keluarga, furu adalah pendidik di sekolah, dan tokoh atau anggota masyarakat adalah pendidik di masyarakat.


4. Anak didik dalam pendidikan islam


Dalam prespektif pendidikan islam, anak didik merupakan subjek dan objek dalam pendidikan. Aktivitas pendidik tidak akan terlaksana tanpa keterlibatan anak didik.


5. Alat pendidikan islam


Alat adalah segala sesuatu atau apa saja yang dapat dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan. Alat berfungsi sebagai perlengkapan, sebagai pembantu mempermudah uaha mencapai tujuan, dan sebagai tujuan. Ada dua macam alat yang biasanya dipakai dalam pendidikan alat (alat non material) dan alat bantu (alat material). Segala sesuatu berupa suruhan, perintah, larangan disebut alat. Sedangkan alat bantu adalah berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide, dan video.


6. Metode pendidikan islam


a) Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya.


b) Anak didik yang berbagai tingkat kematangannya.


c) Situasi yang berbagai keadaannya


d) Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya.


e) Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.





KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?