Makalah Dasar-dasar Pendidikan

18 September 2011 13:46:54 Dibaca :

BAB I


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG


Setiap bangsa di dunia ini menghendaki kemajuan dan kemakmuran, tidak terkecuali bangsa Indonesia, di dalam pembukaan (preambule) UUD 1945 termaktub tujuan bangsa Indonesia diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mau tidak mau hal tersebut harus diperjuangkan melalui pendidikan. Setiap komponen bangsa harus bahu membahu mensukseskan pendidikan di Inonesia, kita seyogyanya berusaha untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar berkualitas dalam rangka mencetak putra-putri bangsa yang berkarakter kuat dan cerdas. Namun pada pelaksanaanya upaya tersebut menemui banyak sekali masalah, diantaranya adalah rendahnya kualitas guru, tidak memenuhinya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas input peserta didik, dan lingkungan sekitar yang tidak mendukung terlaksananya proses KBM secara optimal. Akan tetapi segudang masalah tersebut jangan sampai membuat kita bermalas diri dan pesimis terhadap masa depan dunia pendidikan di Indonesia. Justru sebaliknya, kita harus semakin bersemangat membangun pondasi pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi seluruh anak bangsa.



B. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana karakteristik dan keadaan pendidikan di Indonesia ?


2. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia ?


3. Apa penyebab rendahnya kualitas pendidikan Indonesia ?


4. Apakah solusi bagi permasalahan pendidikan di Indonesia ?



C. TUJUAN PENULISAN


Dengan ditulisnya makalah ini diharapkan akan menjadi sebuah stimulus(rangsangan) bagi pembaca untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonesia, mencari penyebabnya untuk kemudian mencari pemecahan bersama atas masalah pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.












BAB II


PEMBAHASAN



Berikut ini marilah kita ikuti uraian makalah tentang masalah-masalah pendidikan di Indonesia, yang mencoba untuk memadukan gagasan dan fakta agar tercipta pembahasan yang komprehensif dan mudah dipahami untuk mendapatkan tanggapan dari semua pihak.



A. Karakteristik Pendidikan di Indonesia


Pendidikan di Indonesia apabila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan iman dan akhlak mulia, serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Idealnya pendidikan di Indonesia adalah mengedepankan pembentukan sikap peserta didik agar siap untuk belajar baru menguasai IPTEK.


Pola pendidikan di Indonesia juga diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur pancasila yang meliputi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan. Dengan konsentrasi pada penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan peserta didik mampu menghayati apa yang terkandung di dalam pancasila dan mengaktualisasikanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik dalam ruang lingkup nasional maupun multinasional.


Pendidikan di Indonesia mencoba untuk menggunakan student center learning atau pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga menuntut siswa untuk bergerak aktif dalam memperkaya sendiri ilmu pengetahuanya, sedangkan posisi guru hanya sebagai fasilitator.



B. Kualitas Pendidikan di Indonesia


Secara terus terang, memang harus kita akui kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, bagaimana tidak ?. Tiga dekade lalu Negara Malaysia belajar ke Indonesia tentang masalah kependidikan namun kini terbalik, kita yang harus banyak belajar dari mereka tentang kependidikan. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Hampir seluruh faktor pendukung pendidikan di Indonesia mengalami kemunduran atau apabila tidak mau disebut kemunduran, faktor-faktor tersebut mengalami stagnasi, sedangakan tuntutan zaman begitu keras dan cepat dan seluruh bangsa-bangsa lain di dunia telah bergerak ekstra cepat untuk menjadi yang terbaik, akan tetapi bangsa kita masih terus-menerus dihadapkan pada permasalahan klasik yang entah kapan baru bias berakhir. Berikut ini beberapa faktor yang paling dominant mempengaruhi permasalahan pendidikan di Indonesia :






1. Rendahnya kualitas infrastruktur fisik.


Di Indonesia dapat kita jumpai dengan sangat mudah sekolah-sekolah yang atapnya hamper jebol, dindingnya hamper roboh, dan kerusakan fisik lainya. Hal ini terjadi secara hamper menyeluruh yaitu dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, selain kondisi bangunan yang memprihatinkan masih banyak kita jumpai sekolah-sekolah yang belum memilki sarana pendukung pembelajaran seperti perpustakaan, laboratorium bahkan gedung sekolah didirikan diatas lahan orang lain atau lahan sengketa sehingga menganggu kenyamanan KBM siswa apabila sampai terjadi konflik.


Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut, sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62 mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Keadaan yang serupa juga terjadi pada MI, SMP, MTS, SMA, dan SMK.


2. Rendahnya kualitas guru


Yang menjadi permasalahan pokok adalah rendahnya profesionalitas seorang guru dan kemampuanya dalam marencanakan, melakasanakan, dan menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, pelatihan, penelitian, dan pengabdian masyarakat sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003.


Ada yang lebih miris lagi, bahwa berdasarkan penelitian banyak guru di Indonesia yang dikatakan tidak layak mengajar pada tahun 2003 untuk guru SD yang layak mengajar hanya 21,07 % (negeri) dan 29,84 % swasta. Untuk SMP 54,12 % (Negeri) dan 60,99 (swasta), untuk SMA 65,29 % (negeri) dan 64,73 % (swasta).


Tidak mengherankan melihat angka tersebut apabila menilik pada riwayat pendidikan sang guru, karena rata-rata pndidikan mereka adalah D II, masih jarang guru yang memiliki pendidikan S1(khususnya guru SD) apalagi S2 atau S3.



3. Dampak positif dan negatif sertifikasi.


Program sertifikasi bagi guru dan dosen yang digulirkan oleh kementrian pendidikan nasional baru-baru ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan profesioanlitas guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka, memang bagi beberapa kalangan program ini cukup berhasil karena benar-benar mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru, namun tidak dapat kita pungkiri, banyak sekali oknum-oknum guru yang memperoleh sertifikasi dengan cara-cara yang tidak halal, bukan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, alih-alih justru menciptakan masalah baru. Pengeluaran Negara untuk membayar sertifikasi terasa sangat sia-sia apabila hanya untuk mebayar guru bersertifikasi dengan ijazah atau sertifikat palsu. Sedangkan kinerja mereka tidak mengalami peningkatan sama sekali, karena orientasi hanya pada materi (uang).


4. Rendahnya prestasi siswa


Peserta didik di Indonesia pada umumnya memiliki daya kompetisi yang rendah, secara umum pencapaian nilai para siswa Indonesia kalah jauh apabila dibandingkan dengan pelajar-pelajar Malaysia dan Singapura yang notabene masih sau wilayah regional. Dalam hal pembangunan kualitas sumber daya manusia United Nation For Development Program ( UNDP) mencatat Indonesia selalu menduduku posisi dibawah 100 dari 177 negara hingga tahun 2011.


Dalam hal kemampuan membaca siswa-siswi kita juga termasuk kategori yang memprihatinkan, rata-rata skor kemampuan untuk membaca bagi siswa kelas IV SD diberbagai Negara adalah sebagai berikut :








Negara




Skor






Hongkong




75,5






Singapura




74,0






Thailand




65,1






Filipina




52,6






Indonesia




51,7





Tabel : Skor kemampuan membaca beberapa negara



Peringkat Indonesia yang terseok-seok juga bukan hanya pada tataran pendidikan dasar, akan tetapi menyeluruh hingga perguruan tinggi Indonesia juga berada pada rangking yang tidak begitu baik, padahal potensi yang sangat besar sebenarnya ada pada diri bangsa kita.



5. Kurangnya pemerataan pendidikan


Pemerataan pendidikan didukung dengan lokasi yang strategis serta kemauan yang kuat dari pemerintah untuk memeratakan pendidikan di Indonesia, merupakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa di Indonesia khusunya wilayah terpencil atau pedalaman tidak terdapat sekolah, apabila ada sekolah juga dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan ketiadaan tenaga pengajar serta buku-buku pelajaran. Sementara di kota-kota besar dapat dengan mudah kita jumpai sekolah-sekolah yang ber kelas internasional dengan segala fasilitas yang mendukung, maka tidak mengherankan apabila banyak anak-anak kota yang berhasil menyabet medali emas pada ajang olimpiade SAINS tingkat dunia, maka secara positive thinking dapat kita bayangkan tidak menutup kemungkinan anak-anak kita yang berada di pedalaman memiliki potensi yang lebih besar dari mereka yang berada dikota senadainya didukung dengan segala infrastruktur pendidikan yang memadai.



6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan


Indikasi permasalahan ini dapat kita lihat dengan tingginya angka pengangguran di Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak mampu menembus bursa kerja, baik karma faktor rendahnya kompetensi maupun faktor lain yang mengindikasikan pendidikan tidak mampu menjamin atau minimal meberi harapan yang terang bagi para lulusan sekolah atau perguruan tinggi.



7. Mahalnya Biaya Pendidikan


Pendidikan yang murah dan berkualitas tentunya menjadi harapan semua orang, sebenarnya pendidikan di Indonesia apabila dibanding dengan Negara-negara maju yang tidak memakai system free cost education termasuk murah akan tetapi karena rendahnya pengahsilan masyarakat yang memperkuat asumsi kemahalan itu. Memang semenjak digulirkanya program Bantuan Operasional Sekolah(BOS) pada tahun 2009, pembayaran SPP bagi siswa/siswi SD,SMP kecuali RSBI dan SBI telah digratiskan, namun mereka masih harus membeli buku yang mahal untuk bahan penunjang pendidikan, apalagi sekolah RSBI dan SBI yang masih harus membayar pendidikan yang mahal ditambah buku pendidikan yang mahal pula, maka tidak mengherankan apabila muncul opini yang semakin hari semakin banyak di amini oleh masyarakat bahwa pendidikan berkualitas hanya bias dijangkau oleh golongan yang mampu.



8. Beban mata pelajaran yang terlalu berat


Kurikulum di Indonesia terlalu memaksakan siswa untuk menguasai banyak pelajaran secara sekaligus, hal ini tentunya sangat memberatkan siswa karena mereka akan mengalami sebuah fenomena yang kurang menyenangkan, apabila mereka menyukai sebuah mata pelajaran, mereka akan secara intensif mempelajarinya, namun apabila mereka tidak menyukai pelajarn tersebut, mereka akan apatis sehingga nilai mereka anjlok di mata pelajaran tersebut.



9. Ujian Nasional


Setiap tahun siswa-siswi untuk jenjang SD,SMP/MTS,dan SMA/SMK dihadapkan pada sebuah momok yang dianggap menakutkan, banyak diantara mereka yang stress dibuatnya, momok ini adalah ujian nasional, Ujian yang akan menentukan lulus atau tidaknya siswa ini memang sudah dipadukan dengan Ujian Sekolah dengan porsi 60% untuk UN dan 40% Untuk ujian sekolah, akan tetapi, hal ini tetap masih memberatkan siswa yang memiliki fasilitas pendidikan serba terbatas, karena standar pendidikan yang mereka poleh tentu sangat berbeda dengan sekolah yang memiliki fasilitas lengkap. Maka tidak mengherankan apabila banyak sekolah atau oknum pendidkan yang melakukan kecurangan dengan mencari bocoran-bocoran soal atau jawaban UN, hal ini akan semakin memperburuk citra pendidikan di Indonesia.



10. Standarisasi Pendidikan di Indonesia.


Dalam upayanya mewujudkan pendidikan yang berkualitas kementrian pendidikan nasional menggulirkan program akreditasi dan standarisasi sekolah di Indonesia, namun pada pelaksanaanya program ini juga tidak sepi dari masalah yang tak kunjung ada penyelesainya, barangkali masalah ini tidak disadari oleh si empunya gagasan, berdasarkan pengalaman penulis apabila guru-guru disuatu sekolah tengah disibukkan oleh aktifitas untuk mempersiapkan akreditasi, mereka sering sekali meninggalkan tugas utamanya yaitu mengajar, memang system yang digunakan guru untuk mensiasati masalah ini sudah cukup baik untuk menuntut kemandirian siswa, akan tetapi budaya “disuapi” masih tumbuh subur dikalangan siswa/siswi kita. Kelas dibiarkan kosong melompong dan aktifitas belajar siswa tidak diawasi, bukan kemajuan pendidikan yang didapatkan namun penurunan kualitas pendidikan tidak bias ditutup-tutupi terjadi dibeberapa sekolah yang mengalami proses akreditasi ketat.



C. SOLUSI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA.


Begitu pelik dan rumitnya permasalah pendidikan di Indonesia, dibutuhkan keseriusan penanganan dari semua pihak, beberapa langkah yang dapat dilakukan pihak yang berkait dengan masalah pendidikan di Indonesia adalah :



Meningkatkan terus anggaran APBN dan APBD sesuai dengan amanah UUD yaitu


minimal 20% dari anggaran pemerintah sehingga perlahan namun pasti akan terjadi peningkatan kualitas fisik maupun alat penunjang lainya yang mendukung berjalanya proses KBM.



Menggulirkan program sertifikasi guru yang benar-benar selektif dengan penugasan-penugasan yang terpantau, bahwa guru-guru tersebut berhak memperoleh gelar guru professional. Selain itu juga hendaknya mulai dirintis penerapan system reward and punishment bagi seluruh tenaga pendidik, agar daya kompetisi mereka dalam meningkatkan kompetensi tetap terjaga dengan baik.



Memperhatikan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia sejak balita dengan meningkatkan anggaran kesehatan dan program kesehatan masyarakat seperti posyandu, karena dengan pemenuhan gizi yang baik, niscaya akan meningkatkan kecerdasan anak yang nantinya bermuara pada kemampuan anak mengikuti pembelajaran disekolah, selain itu dunia pendidikan di Indonesia hendaknya menumbuhkan minat baca yang besar bagi anak-anak dengan berbagai varian cara, sehingga kompetensi membaca anak Indonesia makin meningkat.



Pemrintah melalaui KEMDIKNAS hendaknya juga mulai meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak yang berada didaerah terpencil, dengan memberikan stimulus bagi para guru dan siswa didaerah terpencil agar mau menyelenggarakan KBM dengan optimak dan giat. Stimulus ini sifatnya juga harus diawasi dan akan dihentikan apabila ada pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.





Sistem pendidikan nasional juga diarahkan bukan hanya untuk mencetak siswa yang memiliki kemampuan kognitif tinggi, akan tetapi juga untuk mencetak generasi yang tangguh terhadap tantangan global, materi kewirausahaan dirasa sangat perlu diajarkan sejak dini, agar jutaan ide kreatif yang dihasilkan putra-putri bangsa bias tersalurkan dengan baik, dengan harapan tidak ada lagi pengangguran dimasa mendatang.



Pemerintah juga seyogyanya meningkatkan penyediaan beasiswa berkeadilan bagi pelajar yang berprestasi dan kurang mampu sehingga mereka dapat menikmati pendidikan dengan baik tanpa harus dipusingkan dengan masalah biaya, agar mereka bias semakin produktif menyumbangkan pemikiranya untuk bangsa dan negara.



Kurikulum pendidikan di Indonesia sebaiknya juga jangan membebani siswa dengan beban yang terlalu berat, yaitu dengan banyaknya mata pelajaran yang harus ditempuh, nampaknya bijak kiranya apabila siswa diberikan kesempatan untuk memilih beberapa mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya agar lebih optimal dalam mengikuti pembelajaran disekolah.



Ujian Nasional memang masih menjadi momok yang menakutkan bagi pelajar SD,SMP dan SMA di Indonesia, namun penulis memiliki saran, sebaiknya ujian nasional cukup dilaksanakan bagi siswa SMP dan SMA saja, karena pemerintah telah menggalakan program wajib belajar 9 tahun, akan menjadi sebuah ironi apabila pemerintah menyuarakan warganya agar berseklolah hingga SMP, namun banyak yang putus ditengah jalan karena tidak lulus Ujian Nasional di Sekolah Dasar.



Program akreditasi sekolah hendaknya juga dirancang sedemikian rupa agar jangan sampai mengganggu aktivitas KBM siswa, karena tujuan pendidikan utamanya adalah mencetak generasi baru yang unggul bukan sekolah yang unggulan, dimana terlahir generasi yang unggul disuatu sekolah, maka sekolah tersebut pasti akan menjadi sekolah unggulan.




BAB III


PENUTUP



A. KESIMPULAN


Pendidikan di Indonesia mau tidak mau harus kita akui masih sangat tertinggal dari negara-negara lain di dunia, di wilayah regional saja seperti ASEAN Indonesia tertinggal dari Malaysia dan Singapura hal ini diakibatkan beberapa faktor yang sangat kompleks dan harus segera ditangani secara serius agar mimpi mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas dapat segera terwujud.



B. SARAN


Pemerintah khususnya kementrian pendidikan nasional harus segera menata den berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan ini, dengan berupaya terus meningkatkan kualitas fisik sekolah maupun kualitas tenaga pengajar dan memformulasikan kurikulum yang tepat bagi pelajar Indonesia.




C. DAFTAR PUSTAKA



Pidarta,Prof,Dr. Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Habib Amin Nurrokhman

/www.habibamin.blogspot.com

Mahasiswa Calon Guru Yang ingin Menjadi Gurunya Calon Guru
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?