Humaniora

Musisi Anti-Korupsi

17 Juli 2017   08:00 Diperbarui: 17 Juli 2017   08:36 89 11 1
Musisi Anti-Korupsi
www.youtube.com/watch

Jangankan korupsi, ketika mengetahui harga tiket konsernya kelewat mahal bagi fanssaja, Pearl Jam langsung terjun ke kancah pertempuran, menantang sang penguasa lapak konser di Amerika Serikat, Ticketmaster. Stone Gossard dan Jeff Ament, pendiri banditu, bolak-balik melakoni hearing season di Kongres, mengungkapkan argumen mereka kenapa tiket konser tidak boleh terlalu mahal. Sederhananya, mereka berdiri dan menantang keserakahan dan monopoli Ticketmaster.

Tentu saja Pearl Jam kalah. Dengan lobi-lobi yang dibanjiri fulus (ini dugaan saya saja, sih), Ticketmaster gagah melenggang. Pembuat aturan, pada akhirnya, tunduk pada pemilik modal. Mereka tidak peduli nasib masyarakat akibat keputusan yang mereka buat. Apakah cerita semacam itu terdengar akrab di telinga?

Belakangan ini kita dibuat muntah oleh kelakuan Panitia Angket DPR. Dengan argumen-argumen sampahnya, mereka mencoba meyakinkan publik bahwa koruptor harus dibela dan KPK selayaknya dilumpuhkan. Alamak! Pemikiran macam apa itu?

Di ranah grunge, musik yang saya cintai setengah mati, bukan hanya Pearl Jam yang menjunjung tinggi integritasnya sebagai musisi. Navicula, grunge band asal Bali, tak kalah sangar. Mereka lantang menyuarakan gerakan anti-korupsi dan ajakan untuk mengganyang para maling lewat lagu semacam Mafia Hukum. Simak petikan liriknya: "Mafia hukum... Hukum saja... Karena hukum tak mengenal siapa..."

Lagu itu mereka tulis dalam sebuah proyek bersama Indonesia Corruption Watch. Kala itu, Navicula merasa bahwa yang bikin upaya pemberantasan korupsi kurang berdaya adalah para mafia hukum. Saat ini, lagu tersebut seolah kehilangan separuh kebenarannya. Kita lihat sendiri, bukan hanya mafia hukum yang melindungi para maling, melainkan wakil rakyat yang bergaji gendut di DPR!

Sayangnya, bagaimana pun lantangnya Navicula dan bandlain di Indonesia menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, semua pada akhirnya hanya berhenti sebagai lagu. Palin keren, jadi pergerakan. Sialnya, belakangan ini banyak gerakan semacam itu yang berakhir sebagai aktivitas di social media saja. Tidak berdampak apa-apa di dunia nyata.

Bagaimana supaya perlawanan kita kali ini berdampak? Sepertinya kita harus memutar ulang lagu Bongkarmilik Swami dan melangkahkan kaki. Turun ke jalan dan menyiapkan diri untuk berkelahi. Yuk, kita serang balik para maling!