Muda

Memahami Akar Kebangkitan Nasional, Menjauhkan dari Perpecahan

18 Mei 2017   21:26 Diperbarui: 18 Mei 2017   21:29 70 0 0
Memahami Akar Kebangkitan Nasional, Menjauhkan dari Perpecahan
Bhineka Tunggal Ika - ilmusiana.com

“Berhasil dan tidaknya usaha ini hanya bergantung pada kesungguhan hati kita, bergantung pada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah air di masa depan terletak di tangan kita.”

Kalimat diatas dikatakan oleh dokter Sutomo, penggagas organisasi Boedi Oetomo. Melalui organisasi inilah, kaum muda yang berasal dari kelas menengah ketika itu, berkumpul untuk memberikan kontribusi positif untuk kemerdekaan. Para anggota Boedi Oetomo yang ketika itu didominasi kaum muda, telah berhasil menjadi energi baru bagi lahirnya peradaban Indonesia yang bebas dari penjajahan.

Ada akar utama yang mendasari anak muda Indonesia, yang berani bangkit melawan penjajah ketika itu. Akar yang dimaksud adalah ikatan yang kuat antar personal yang lahir dari pesantren. Melalui pesantrenlah, masyarakat kita itu bisa mendapatkan ilmu. Pesantren ketika itu telah mempersatukan anak muda dari berbagai lapisan. Dan dari situ pula, semangat menjaga persatuan dan kesatuan juga muncul dari pesantren. Bahkan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, juga dimotori oleh para santri.

Kini, Indonesia telah resmi menjadi negara yang berdaulat. Semangat keberagaman telah menyatukan ribuan suku dalam wadah negara kesatuan republik Indonesia. Semangat itulah yang masih dijaga hingga saat ini. Sayangnya, meski Indonesia dibangun berasal dari akar keberagaman, masih saja ada pihak-pihak yang mempersoalkan keberagaman itu sendiri. Keberagaman dimaknai sebagai perbedaan, sedangkan perbedaan dimakanai sebagai persoalan. Kelompok ini sepertinya lupa dengan sejarah negeri ini. Bukankah Indonesia sudah berbeda sejak dulu? Bukankah setiap manusia juga telah berbeda sejak lahir?

Ironisnya, perbedaan itu kemudian dibenturkan dengan sentimen agama. Siapa yang bisa memilih ketika lahir sebagai muslim, Kristen, atau agama yang lain? Siapa yang juga yang bias memilih, lahir menjadi seorang jawa, sunda, atau suku yang lain? Lalu apakah berbeda sejak lahir itu salah? Bukankah pula Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda? Wajar jika Tuhan meminta kepada umat manusia, untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Dengan saling mengenal itulah, kita diharapkan bisa mengerti makna perbedaan itu sendiri.

Karena itu pula, nenek moyang kita telah mengajarkan keramahan, saling menghormati dan menolong antar sesama. Gotong royong merupakan tradisi yang melekat dengan masyarakat Indonesia, apapun sukunya. Toleransi juga merupakan karakter Indonesia, apapun budayanya. Lalu, jika kemudian muncul organisasi intoleran yang mengenalkan kekhilafahan, apakah kita rela membiarkan negara ini menjadi negara konflik? Lihat Suriah. Ketika ISIS berkuasa, juga menerapkan sistem kekhilafahan. Apa yang terjadi? Konflik dimana-mana. Apakah ini tepat jika diterpakan di Indonesia? Tentu saja tidak.

Jika saja kita lebih mengenal akar budaya negeri ini, tentu kita akan menolak segala bentuk intoleransi dan radikalisme. Karena intoleransi akan mendekatkan diri pada terorisme. Fakta yang tidak bisa dibantah, para pelaku terorisme rata-rata didominasi oleh kaum muda. Sebelum akhirnya memutuskan menjadi teroris dan berani melakukan tindakan amaliyah, mereka umumnya telah aktif dalam organisasi intoleran sebelumnya. Itulah bahayanya, ketika bibit intoleransi dan dan radikalisme itu tetap terus dipelihara. Dampak yang akan terjadi bisa merugikan semua pihak.