Wirda Alfiani
Wirda Alfiani

Manusia - Manusia berkelas mengatas-namakan sebuah gelar pendidikan dan karir. itu semua membawa mereka ke level yang lebih tinggi. tetapi kebanyakan dari mereka menghina kaum marjinal. mereka berbicara soal banyak materi, mereka orang besar tetapi tidak berjiwa besar. (dedikasi: manusia angkuh). -WNA, 2 MEI 2017-

Selanjutnya

Tutup

Teruntuk Kekasihku

13 Mei 2017   19:03 Diperbarui: 13 Mei 2017   19:29 65 0 0

3 tahun itu waktu kami bersama (termasuk dalam status tidak jelas). Kalau kamu lupa akan saya hitungkan. Tanggal 24 agustus 2014 kali pertama kita bertemu pada saat itu kamu bawakan novel pesantren impian karya mba asma nadia saya ngefans dengannya pada saat itu. Dan kebetulan itu hari ulang tahun saya jadi saya anggap itu gift dari kamu sebagai teman baru saya.

Kita bertemu lagi pada saat itu juga kamu belikan saya tas ransel yang seharusnya kita ke outlet mba asma nadia di ruko mall depok tapi engga jadi (maaf ya mba hehe) akhirnya saya hanya beli di toko dekat kampus gunadarma.

Setelah pertemuan itu untuk tanggal nya saya lupa kita pernah bertemu dibeberapa tempat di kedai kopi dan di sebuah kosan untuk diskusi, belajar, nonton bareng dll (pada saat dia masih sebagai teman saya).

Setelah melewati itu saya inget tanggal 22 september 2014 adalah hari jadi kita entah secara harfiah disebutnya apa tapi kami sering bersama. Moment besar yang kami masih lewatkan bersama idul adha, dan ulang tahun dia 5 november 2014 saya dan teman-teman saya masih bisa memberikan surprise yang tidak istimewa banget yang tidak spesial banget tapi saya senang bisa melakukan itu.

Kedekatan kami mulai renggang ketika ingin memasuki awal tahun 2015 saya tidak inget tanggal tapi saya inget awal maret 2015 kami menjauh.
 Sejauhnya kami meskipun resmi putus kami masih suka bertemu yang saya sebutkan diatas (status tidak jelas) karena usia kami masih muda dan hubungan kami masih muda pun saya fun aja mungkin sedihnya sedikit.

Kita fokus dengan kehidupan masing-masing sampai akhirnya hubungan kami bersatu kembali pada bulan juni 2016. Sebelum juni pun kami masih bersama saling peduli mengasihi tapi tidak resmi hubungan kami apa. 

Semakin dekat hubungan kami, saya memang tidak cepat percaya tapi sekali lagi saya tidak pernah menemukan bukti aneh, kecuali chitchat kesan centil itupun masih diwajarkan.

Dari awal pacaran saja saya banyak menemukan hal yang pastinya membuat kaget dan bertanya percaya tidak percaya tapi itu terjadi.
 Saya yang memilih untuk menerima segala masalalu nya. Karena saya pun mempunyai masa lalu juga. Kita tidak bisa menuntut sesuatu melebihi batas manusia melainkan kita melihat batas manusia itu sendiri.

Karena sosok sempurna yang kamu ciptakan itu ada di hayalan kamu saja.

Waktu demi waktu kita lewati sampai kami saling berkomitmen untuk menikah rencana yang kami tetapkan akhir 2018 kami resmi pertemuan keluarga. Awal 2019 kami menikah.

Kembali lagi siapapun dapat membuat rencana jika allah belum/tidak mengijinkan apalah daya. Tidak ada yang bisa melawan takdir, melawan garis hidup yang sudah ditetapkan dan tidak bisa menutup kejadian apapun. Saya harus terima dan saya harus jalanin.

 Saya tidak tau seberapa banyak saya dibohongi seberapa lama saya dibohongi. Yang saya tau kesalahan selalu ada pada saya. (saya terima dengan sabar). Akhirnya penghianatan pun terjadi saya selalu sholat istiqarah untuk minta petunjuk. Saya pernah mimpi diselingkuhi, saya mimpi, maaf dimimpi saya saya tidak berpakaian menurut buku tafsir mimpi ( akan ada hal memalukan).

Saya kepikiran tapi saya tetap santai, sudah 2bulan memang kita berantem tapi saya selalu aja sabar atas sikap dia yang selalu ninggalin saya. Dan ternyata 12 mei 2017 lah semuanya terbukti ada sebuah pembelotan. Apa yang harus saya lakukan lagi, kalau bukan terima? Entah terbuat dari apa hati saya ini saya masih bisa memaafkan tapi disinilah puncak klimaks dari hubungan kami. 

Saya tidak mau memikirkan kapan mulai perselingkuhan ini. Yang saya pikir sebelum berantem dia baik. Dan 2bulan ini dia selingkuh! Saya tidak ingin semakin sakit hati karena harus menyatukan kejadian 1 demi 1. Yang terbesit dalam hati saya allah itu baik. Meskipun saya tidak tau kapan hati saya bisa sembuh bahkan sampai detik ini saya masih tidak tau. 

Seberapa rugi nya saya yang harus saya tanggung. Waktu yang saya buang cuma-cuma, sabarnya saya, sakitnya saya. Orang rantau itu justru harus berbuat baik disini. Bukan malah menyakiti orang sini. Maksud saya menulis ini supaya suatu hari nanti saya bisa melihat titik perjuangan saya selesai dan adapun wanita dewasa muda seperti saya dapat menerima dengan ikhlas.