HIGHLIGHT

Membaca Gambar, Melihat Tulisan

11 Juni 2012 07:27:31 Dibaca :

Selain judul berita, para pembaca setia KOMPAS pasti sepakat bahwa gambar halaman muka juga mendorong untuk segera membaca beritanya lebih lengkap. Begitu juga kalau menemukan sebuah berita yang tidak sesuai antara ilustrasi gambar dengan isi beritanya, dipastikan banyak yang protes. Tidak di media cetak maupun media online.

Contoh yang sangat mudah adalah ketika ada sebuah judul berita "Sebuah Lokalisasi Digrebek Petugas". Pembaca akan segera mencari gambar dari berita yang dimaksud. Dan biasanya sudah terbayang, bahwa kalau judul berita seperti itu minimal gambar yang ditampilkan adalah sejumlah petugas yang sedang kejar-kejaran dengan mereka yang di razia. Atau minimal sekali gambar para penjaja seks komersial yang dengan busana minim atau bahkan nyaris bugil lagi dimasukkan kedalam truk dalmas. Fantasi pembaca sudah sampai sana.

Kekecewaan agaknya kerap muncul ketika fantasi atas sebuah berita justru bertolak belakang dengan foto atau gambar ilustrasi yang ditampilkan. Misalnya judul yang sama tentang penggerebekan, tapi yang muncul foto sang komandan trantib dengan pakaian lengkap (sama seperti foto alumni). Pembaca akan komentar dalam hati, gak ada foto yang lain po?. Atau mending gak usah dikasih foto sekalian.

Foto atau gambar menjadi sangat penting karena dapat lebih banyak bercerita. Masyarakat di Indonesia saat ini mengalami fenomena Membaca Gambar, Melihat Tulisan. Hal ini pula yang mungkin membuat media televisi cukup digemari. Tidak perlu ada narasi dalam sebuah berita televisi, namun bagi masyarakat melihat visual dan tidak di ulang-ulang saja sudah sangat cukup.

Hal ini juga selayaknya dipahami juga oleh mereka yang seringkali diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar atau pertemuan penting. Dari pengamatan penulis, tidak sedikit pembicara yang memiliki gelar cukup mumpuni namun tidak dapat menyampaikan materi dengan gamblang, menyenangkan dan mudah dipahami. Sebagian besar dari mereka hanya mengandalkan pointer dari pembahasan dimana disitu tertulis berbagai istilah dan harus diterjemahkan lagi ditambah kutipan yang cukup kecil untuk dibaca. Lebih parah lagi jika pertemuan tersebut berupa Focus Discussion Group. Pembicara menyampaikan materi kurang memberi inspirasi, sementara dari peserta tidak mau aktif karena menurut mereka materinya kurang menarik. Hasilnya? hambar.

Untuk membuat materi presentasi yang menarik atau mengikuti kemauan audiens yakni membaca gambar, melihat tulisan, anda tidak harus menjadi orang yang ahli membuat gambar kartun atau semacamnya. Karena saat ini cukup banyak yang bisa membantu anda dan hanya bekerja di belakang layar. Teknologi juga memungkinkan anda untuk bertransaksi atas dasar kepercayaan tanpa harus bertemu langsung. Hasilnya, tentu saja anda akan semakin sering tidak ada dikantor karena dipanggil untuk presentasi sana-sini. Jangan disalah artikan bahwa penulis menawarkan jasa melalui tulisan ini. Namun kalau ada diantara anda yang sengaja menghubungi saya, sudah barang tentu saya tidak bisa menolaknya.

Widhi Setiono

/widioke

Saya bekerja di bidang entertain dan pemberitaan. Ingin membantu sesama dengan apa yang saya miliki. Semangat!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?