Hary Tanoe, Bicara Satu Kali, Aksinya Seribu Kali

12 Agustus 2017   02:22 Diperbarui: 12 Agustus 2017   02:57 111 0 0
Hary Tanoe, Bicara Satu Kali, Aksinya Seribu Kali
Sumber Gambar: NetizenIndonesia.com

Partai politik (Parpol) adalah wujud gerakan sosial yang dihendaki oleh berbagai kalangan untuk mengakomodir aspirasi dan keinginan publik. Di sini parpol dituntut untuk menjembatani aspirasi yang diamini oleh semua lapisan masyarakat. Maka dari itu, parpol seyoganya terus melindungi dan mengayomi kepentingan yang menyangkut hajat orang banyak.

Tiap-tiap parpol, tentu memiliki visi misi masing-masing untuk menjembatani aspirasi rakyat. Maka, apapun visinya, apapun cita-citanya, idealismenya, tujuannya, dan apapun itu namanya, yang selalu diteriakkan kepada rakyat dalam setiap kampanye, harus direalisasikan, dijalankan dan dikerjakan.

Belakangan justeru berbeda. Sudah tak terhitung partai poliktik maupun oknum-oknum di dalamnya, hanya berteriak kencang saat kampanye, namun diam seribu bahasa dan tanpa aksi ketika jabatan telah dimiliki. Manis retorika, pahit kerja. Begitu kira-kira.

Di sisi lain, selain acuh terhadap aspirasi rakyat, kerjaan partai politik hanya saling sikut dan saling tendang. Berebut jatah dan berebut jabatan. Rakyat dibiarkan, aspirasinya tak didengarkan. Bukan mengayomi kepentingan yang menyangkut hajat orang banyak, tapi mengayomi kebutuhan yang hanya menyangkut hajat partainya sendiri.

Inilah realitas partai politik dan politikus yang terus mengalir tahun demi tahun, pemilu demi pemilu dan rezim demi rezim.

Di tengah kacaunya situasi partai politik dan politikus itulah, lahir sebuah partai baru. Partai yang nyata memberi perubahan. Nyata realisasinya dan dirasakan rakyat. Menampung, mendengarkan dan memberi solusi atas persoalan-persoalan yang membelit rakyat. Ya, partai tersebut yakni Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Partai baru yang menyajikan warna baru dalam kancah perpolitikan nasional. Partai yang tak banyak retorika namun maksimal kerja.

Betul, bahwa Hary Tanoesoedibjo (Hary Tanoe) selaku Ketua Umum, retorikanya memang tak seindah pidato gegap gempita dengan suara gelegar, berteriak "restorasi" ketika di atas mimbar. Tapi boleh diadu dan dibuktikan hasilnya. Kadernya sendiri pun merasa kecewa dengan sikap Ketumnya dan menganggap hanya retorika belaka.

Berbeda dengan Hary Tanoe. Bicara satu kali, aksinya seribu kali. Satu contoh adalah ketika ia meneriakkan sebuah kata-kata yakni, "Kunci keberhasilan Indonesia adalah membangun daerah, memajukan masyarakatnya. Bila masyarakat di daerah maju, daerah akan maju. Indonesia akan lebih cepat menjadi daerah maju."

Bisa dilihat bagaimana "kerja nyata"Partai Perindo yang meski baru seumur jagung dalam merealisasikan kata-kata tersebut. Puluhan ribu gerobak tersebar di berbagai pelosok negeri, ribuan perahu direvitalisasi, koperasi nelayan tersebar di berbagai penjuru, membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), memberi bantuan dana pendidikan kepada mahasiswa dan pelajar, dan masih banyak lainnya yang tak dapat disebutkan satu per satu.

Hary Tanoe adalah sosok pemimpin yang tak banyak retorika, namun aksinya nyata dan terasa. Sekali lagi, bicara satu kali, aksinya seribu kali. Berbeda dengan politisi-politisi lainnya yang hanya membual di depan rakyat, menggadaikan suara rakyat dan acuh terhadap aspirasi rakyat. Rakyat hanya diperjual belikan demi meraih jabatan, tapi ketika jabatan itu berhasil diraih, ia tuli dan tak peduli ketika rakyat sedang merintih.