Auto Stretching Dan Transverse Friction Lebih Baik dari Pada Paraffin Bath dan Transverse Friction

21 Maret 2017 18:42:56 Diperbarui: 21 Maret 2017 18:55:58 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

DEFINISI TRINGER FINGER

Tringer finger (tenosynivitis) adalah adalah suatu peradangan yang melibatkan tendon dan selubungnya yang mengakibatkan pembengkakan dan nyeri beberapa penyebab pengbengkakan ini adalah trauma penggunaan yang berlebihan dari repetitive minor trauma, strain atau infeksi beberapa contoh tenosynovitis adalah deQuervein’s, volar flexor dan trigger finger .

Trigger finger adalah nama yang popular dari kekakuan tendon atau selubung tendon suatu kondisi nyeri pada jari-jari tangan dan jari menjadi kaku apabila ditekukkan atau diluruskan tendon seharusnya lentur dan sebagai pelindung. Jari-jari tangan mempunyai tendon yang berfungsi untuk melakukan gerakan fleksi dan ektensi pada tendon mempunyai lapisan yang menyebabkan pergeseran menjadi mudah, pada tringer fingerproblem-problem dimulai ketika tedon menyempit atau stenosis dan selubung tendon dari konstruksi kadang–kadang membentuk suatu nodule (benjolan) dan tidak dapat lagi bergerak secara bebas dan halus.

ANATOMI TANGAN DAN JARI-JARI

  • Sendi pergelangan tangan dan jari-jari :
  • a. Sendi radio ulnar distal
  • b. Carpus
  • c. Terowongan karpal
  • d. Tangan tengah dan jari-jari
  • Tulang
  • a. Distal phalang
  • b. Phalang tengah
  • c. Phalang proksimal
  • d. Metacarpale
  • Otot-otot pergelangan tangan dan jari-jari.
  • Otot merupakan jaringan yang kegiatannya dapat diatur dan kegiatannya adala berkontraksi, sehingga dengan demikian kerja otot dapat dimanfaatkan untuk memindahkan bagian-bagian skelet, yang berarti bahwa suatu gerakan terjadi, otot-otot lengan bawah dibagi atas tiga kelompok sesuai dengan hubungannya dengan bermacam-macam sendi, perlekatan dan cara kerjanya.
  • Kelompok I terdiri dari otot-otot yang melekat pada radius yang hanya berperan pada gerakan-gerakan tulang-tulang lengan bawah. Kelompok II otot-otot lengan bawah yang terbentang sampai ossa metacarpi dan menghasilkan gerakan pergelangan tangan. Kelompok III terdiri dari otot-otot yag terbentang sampai ke phalanges dan berperan pada gerakan jari-jari.
  • Otot –otot pada pada pergelangan tangan dan jari-jari diantaranya ialah :
  • M. fleksor carpi radialis
  • M. Fleksor carpi ulnaris
  • M. Ektensor carpi ulnaris
  • M. Ektensor carpi radialis longus
  • M. ektensor carpi radialis brevis
  • Mm. interossei Palmaris
  • Mm. interossei dorsalis
  • Mm. lumbricales
  • M. fleksor digitorum superficialis
  • M. Fleksor digitorum profundus
  • M. ektensor digitorum
  • M. Ektensor indicis
  • M. etensor digiti minimi
  • M. flesor pollicis longus
  • Tendon dan selubung tendon
  • Selubung tendon terdiri dari selubung tendon carpale dorsalis, selubung tendon carpale Palmaris dan selubung tendon digitalis Palmaris. Tendon dibungkus oleh selubung synovial yang meluas kelengan bawah pada jarak kurang dari selebar jari proksimal terhadap reticulum flekorum dan kedistal meluas sampai keinsertionya.
  • Tendon synovial merupakan selaput tipis yang tersusun oleh jaringan ikat longgar yang membungkus tendon dan menghasilkancairan pelumas yang dapat memperlicin gerakan pada jari-jari. Selain sebagai pelindung tedon synovial juga dapat berfungsi sebagai katrol.
  • Histologi Tendon
  • Pada tendon dan selubung tendon terdiri dari tiga macam protein utama, yaitu serabut collagen, serabut elastin dan serabut retinakulum.

PATOLOGI TRIGGER FINGER

  • Etiologi trigger finger
  • Penyebab trigger finger tidak terlalu jelas, faktor-faktor yang mempengaruhi bisa dari rheumatoid arthritis, gout, diabetes mellitus dan bisa karena penggunaan tangan yang berlebihan, berulang-ulang atau gerakan jari tangan yang sering misalnya memeras, berkebun, main gitar dan bisa juga karena trauma.”
  • Tanda dan gejala trigger finger
  • Adanya benjolan pada sendi inter phalangea l jari-jari. Terdapat bengkak, apabila jari diluruskan maka akan mengalami locking atau terkunci, maka penderita akan merasakan masalah-masalah seperti timbulnya rasa nyeri, limitasi fungsi , impartmen dan deformitas.
  • Perubahan patologi
  • Trigger finger terjadi apabila tendon dan selubung tendon meradang dan membegkak, maka akan terjadi tekanan pada tunnel (fleksor sheat) akan menyeabkan nyeri dan rasa tidak nyaman pada daerah jari-jari. Akibat adanya peradangan tedon membesar maka ruang antara tendon dan selubung tendon akan menyempit, terjadi rasa tertekan dan mengunci, sehingga jari-jari sulit untuk diluruskan. Dengan adanya rasa nyeri yang hebat, menyebabkan penderita malas atau tidak mau menggerakan jari-jarinya, sehingga terjadi autoimmobilisasi. Efek immobilisasi yang lama akan menyebabkan otot-otot menjadi lemah sehingga menyebabkan kemampuan fungsional tangan menjadi berkurang serta menyebabkan perubahan pada serabut collagen tendon, dimana terjadi penrunan kadar air dan GAG (glikoprotein) sehingga akan menurunkan jarak diantara serabut-serabut dan kemungkinan besat terbentuk abnormal crosslink pada lokasi yang tidak diinginkan diantara serabut-serabut kolagen, hal ini akan mebuat jaringan kurang elastic dan lebih rapuh.

PATOFISIOLOGI FUNGSIONAL TANGAN PADA TRIGGER FINGER

Trigger finger umumnya diikuti dengan gejala pembengkakan dan penurunan fungsi tangan terutama jari-jari karena pasien sering mengeluh nyeri sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya autoimmobilisasi sehingga jari-jari tangan menjadi hypomobile. pada trigger finger selubung tendon mengalami inflamasi yang akan menyebabkan terjadinya penumpukan kolagen kemudian akan timbul jaringan fibrous sehingga mobilitas jaringan akan menurun yang mengakibatkan hypomobile. 

Sedangkan pada saraf saat kondisi trigger finger terjadi inflamsi jaringan sehingga mengakibatkan penurunan propioseptif dan ambang rangsang motorik pada jari-jari tangan menurun, menyebabkan konduktifitas saraf menurun, sehingga efektifitas dan efesiensi gerakan juga menurun. Sedangkan pada sendi jari-jari jika terlalu lama tidak ditangani maka akan terjadi immobilisasi dan akan menyebabkan intra articular adhesion Sehingga jari-jari tangan menjadi hypomobile dan pada sirkulasi yang terjadi pada kasus trigger finger adalah akan eksodasi yang menyebabkan oedema sehingga sirkulasi static kemudian terjadi juga mikrosirkulasi sehingga nutrisi dan O2 pada jaringan berkurang maka megakibatkan penumpukan zat sisa-sisa metabolisme sehingga sirkulasi static yang menyebabkan fleksibilitas terganggu sedangkan pada otot yang terjadi inflamasi akan mengakibatkan fibrous yang menyebabkan tonus otot menurun karena tonus otot menurun kekuatan otot juga akan menurun sehingga kemampuan fungsional tangan juga ikut menurun.

Kemampuan fungsional tangan dapat berkurang pada penderita trigger finger yang disebabkan adanya patologi pada tendon, otot, saraf, sendi dan sirkulasi jaringan disekitar jarijari tangan sehingga secara tidak langsung terjadi immobilisasi karena adanya nyeri pada tangan dan jari-jari hal ini mengakibatkan terjadinya kelemahan otot pada tangan dan jarijari kemudian kemampuan fungsional tangan menjadi berkurang.

Paraffin Bath

  • Pengertian Paraffin Bath
  • Hydro therapy merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang dalam pelaksanaannya memanfaatkan pengaruh suhu, mekanik, chemis dan tekanan dari zat cair. Pada pemanfaatan zat cair media terapi dengan suhu, dijumpai dua kelompok besar yaitu panas dan dingin.pemanfaatan suhu zat cair dapat berupa Cyrotherapy, paraffin bath, contras bath, hot bath, hot pack dll.
  • Paraffin Bath merupakan salah satu metode hydro terapi yang menggunakan paraffin sebagai medianya pada prinsipnya terapi ini merupakan terapi yang memanfatkan suhu yang relative tinggi (panas). Paraffin yang digunakan untuk terapi inin adalah paraffin biasa yang di tambah kan paraffin oil, kemudian dipanaskan hingga meleleh dengan suhu +550 c.
  • Mekanisme paraffin bath terhadap kemampuan fungsional tangan akibat trigger finger
  • Kemampuan fungsional tangan dipengaruhi oleh kekuatan otot, kekuatan otot menjadi lemah dikarenakan adanya nyeri yang menyebabkan auto immobilisasi yang mengakibatkan kekuatan otot berkurang. Nyeri dapat berkurang pada penerapan paraffin bath pada level sesorik, yang diperoleh dari efek panas melalui perbaikan sirkulasi darah dan metabolisme. Pada tahap selanjutnya akan terjadi dilatasi arteriol yang timbul akibat peningkatan metabolisme dalam jaringan serat peningkatan aliran darah kapiler.
  • Dengan peningkatan aliran darah kapiler maka oksigen nutrient, antibody dan leukosit akan meningkat. Maka zat iritan nyeri seperti asam laktat atau algogen dapat terserap kembali sehingga iritasi pada nocisensor menurun dan nyeri berkurang dan akan mengakibatkan mobilitas otot akan membaik yang mengakibatkan bertambahnya motor unit pada otot serta kekuatan otot meningkat kemudian diharapkan kemampuan fungsional tangan meningkat.
  • Panas secara langsung dapat memperbaiki fleksibilitas jaringan ikat, otot, myelin dan kapsul sendi akibat dari menurunnya viskositas jaringan, dengan demikian nyeri regang pada jaringan yang spasme akan menurun mengakibatkan kemampuan fungsional tangan meningkat. Panas secara langsung akan mengakibatkan vasodilatasi yang dapat memperbaiki flesibilitas jaringan ikat, otot, myelin dan kapsul sendi, pada penerapan p a r a ffin b a t h level sensorik yang diperoleh dari efek panas melalui perbaikan sirkulasi darah dan metabolism kemudian akan terjadi arteriol yang timbul akibat peningkatan aliran darah kapiler dan pada saat sirkulasi meningkat maka mobilitas otot akan membaik yang mengakibatkan kekuatan otot membaik secara otomatis kemampuan fungsional tangan meningkat.
  • Transverse Friction
  • Pengertian transverse friction
  • Friction atau deep kompresi merupakan bagian dari manipulasi untuk melepaskan jaringan yang mengalami perlengketan. Dimana dalam pengaplikasiannya berupa gerakan yang berlawanan arah dengan serabut suatu jaringan pada tendon atau ligament, gerakan longitudinal atau melingkar untuk mengurangi spasme otot dan menghilangkan nodulus jaringan lunak.”
  • Transverse frictionmerupakan suatu pemberian stress ritmis secara transversal untuk remodeling struktur kolagen dari jaringan ikat dan kemudian menempatkan kembali kolagen ke dalam susunan longitudinal.
  • Transverse frictionadalah salah satu tehnik massage dengan menggerakkan jaringan superficial diatas jaringan yang lebih dalam dengan menjaga kontak tangan yang kuat dengan kulit, menggunakan gerakan transversal pada daerah yang terbatas. Tekanan yang diberikan adalah tekanan yang dalam dan kuat, sehingga dapat meningkatkan tension pada struktur tersebut sehingga dan mengulur daerah tersebut. Pada kasus t rig g e r fin g e r bentuk transverse friction yang diberikan adalah thumb tenik dimana dilakukan dengan ibu jari dengan gerakan melintag pada daerah yang mengalami penebalan (nodulus).
  • Mekanisme Transverse friction terhadap kemampuan fungsional tangan akibat Trigger finger.
  • Transverse friction bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah, menurunkan rasa nyeri, melepaskan perlengketan jaringan atau mencegah pembentukan jaringan abnormal crosslink. Hal ini dikarenakan pada tendon dan selubung tendon jari-jari mengalami penumpukan kolagen yang menjadi jaringan fibrous akibat inflamasi. Tipe transverse friction yang digunakan pada kasus ini adalah to break adhesion untuk melepaskan perlengketan ab normal crosslink pada jaringan tendon sehingga elastisitas jaringan akan kembali membaik sehingga kemampuan fungsional tangan diharapkan ikut meningkat.
  • Transvers friction juga menghambat zat-zat metabolic sehingga rasa nyeri berkurang yang menyebabkan konduktifitas saraf meningkat yang berpengaruh pada otot serta terjadi peningkatan kerja sensori motor chanel yang akhirnya akan meningkatkan kecepatan reaksi yang berpengaruh pada efektifitas dan elastisitas gerakan jari-jari tangan. Dalam hal ini, fungsi tangan atau prehension akan menjadi lebih baik.
  • DEFINISI AUTO STRETCHING
  • Auto stretching adalah suatu metode penguluran yang biasa dilakukan sendiri oleh pasien setelah diberi instruksi atau latihan terlebih dahulu. Stretching secara aktif meningkatkan fleksibilitas secara aktif dan menguatkan otot agonis. Alasan penerapan teknik ini adalah bahwa kontraksi isotonic yang dilakukan saat autostretching dari otot yang mengalami pemendekan akan menghasilkan otot memajang secara aksimal tanpa perlawanan.
  • Pemberian autostretching memiliki keuntungan tersendiri karena sangat aman dan efektif. Terjadinya injuri sangant sedikit menghasilkan fleksibilitas otot dengan baik dan auto stretching dapat digunakan bagi yang baru mengalami kondisi trigger finger. Agar hasil stretching lebih efektif. Pemberian stretching yang benar dngan slowly, genly dan frequenly. untuk itu penulis memilih auto stretching sebagai intervensi pada kondisi trigger finger.
  • Mekanisme auto stretching terhadap kemampuan fungsional tangan pada trigger finger. Pada trigger finger permasalahan yang timbul adalah terjadinya penurunan elastisitas dan kelenturan pada tendon dan selubung tendon, yang diakibatkan oleh adanya inflamasi dan fibrous sehingga timbul abnormal crosslink yang pada akhirnya timbul penebalan dan pembengkakan dan mempengaruhi jaringan yang ada disekitarnya seperti otot.
  • Autostretching adalah sebagai self stretching karena tipe ini dilakukan sendiri oleh pasien secara aktif, active stretching meningkatkan fleksibilitas secara aktif dan menguatkan otot agonis. Alasan penerapan tehnik ini adalah bahwa kontraksi isotonic yang dilakukan saat auto stretching dari otot yang mengalami pemendekan akan menghasilkan otot memanjang secara maksimal tanpa perlawanan, pemberian auto stretching yang dilakukan secara perlahan dan lembut dapat melepaskan dan merengangkan perlengketan akibat dari abnormal crosslink. Pada saat melakukan auto stretching maka panjang otot dapat dikembalikan dengan mengaktifkan muscle spindle sehingga saat dalam posisi terulur maka muscle spindle akan terbiasa dengan panjang otot yang baru dan memberiakn signal ke medula spinalis dan mengakibatkan meningkatnya stretch reflek dan memberikan panjang otot yang lebih.
  • Pada saat otot melakukan strerch, maka frekuensi aksi potensial serabut afferent dari muscle spindle dan golgi tendon organ meningkat. Saat otot sedang meregang terjadi penguluran panjang sarkomer penuh menyebabkan pelepasan abnormal croslink. Pelepasan ini membuat mikro sirkuler menjadi lancar.
  • Sirkulasi yang lancar memudahkan otot untuk berkontraksi dan terjadi elastisitas jaringan. Ikatan pada fasia dan jaringan kolagen terlepas. Dengan mikrosirkuler lancar menyebabkan zat-zat algogen menurun dan nyeri pun berkurang serta kekuatan otot meningkat di harapkan dengan kekuatan otot meningkat maka kemampuan fungsional tangan juga ikut meningkat.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusif. Kemudian didapatkan sample sebanyak 14 orang dan dilakukan intervensi transverse friction, auto stretching dan paraffin bath yaitu untuk mempelajari fenomena korelasi sebab akibat dengan memberikan perlakuan (intervensi) pada objek penelitian. Dalam metode ini ada pemberian intervensi terhadap suatu variable dan ada monitoring terhadap suatu pemberian efek. Penelitian yang dilakukan yaitu pre-test post test control group design dan bersifat komparatif yaitu untuk membandingkan antara kelompok I yang diberikan transverse frictiondan auto stretching dengan kelompok II yang diberikan paraffin bath dan transverse friction pada penderita trigger finger untuk meningkatkan kemampuan fungsional tangan.

Sebelum dilakukan intervensi kemampuan fungsional tangan diukur dengan dash modifiedQuesionner. Kemudian setelah dilakukan intervensi diukur kembali untuk mendapatkan data akhir. Prosedur pengukuran kemampuan fungsional tangan.

  • Persetujuan: pasien diminta persetujuannya untuk mengikuti penelitian yang akan dilakukan agar pasien dapat kooperatif dalam menjalani pengukuran yang dilakukan oleh fisioterapis
  • Sampel atau pasien diberi penjelasan tentang cara mengisi lembar dash (disability of the arm, shoulder and hand) modified Quesionnaire.
  • Dampingi pasien dalam melakukan aktifitas yang ada dilembar questionnaire agar tidak terjadi kesalahan.
  • Minta pasien untuk melakukan gerakan yang ada pada lembar Quesionnare dan peneliti memberi tanda silang pada angka 1, 2, 3, 4, atau sesuai yang dirasakan pasien.
  • Setelah selesai, hitung jumlah hasil qusionnaire kemudian catat sebagai hasil sebelum intervensi.
  • Setelah 3 kali intervensi, pasien diminta untuk mengisi kembali lembar kuesionnare.
  • Hitung jumlahnya sesudah dilakukan intervensi.
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah klien/pasien pada Instalasi Fisioterapi Rs. Islam Jakarta cempaka putih. Sampel baru diperoleh melalui suatu wawancara serta pemberian questioner yang dibuat berdasarkan criteria inklusif untuk diisi oleh sampel.
  • Tabel 1
  • Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin
  • Jenis Kelamin Kelompok Perlakuan I Kelompok Perlakuan II
  • Jumlah % Jumlah %

WAHYUNI TRI ASTUTI

1610301194

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL kesehatan

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article