Sejarah Perjuangan HMI

01 Januari 2013 18:04:25 Dibaca :
Sejarah Perjuangan HMI
-

Sejarah menjadi tidak dikatakan sekedar linear apabila mampu membuat sebuah perubahan kebudayaan ke arah yang lebih beradab (civil society). pada konteks perjuangan dimanapun spirit ini berada, termasuk mainstream spirit perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam, sejarah tetap harus ditafsirkan kembali agar generasi pelanjut tidak keliru memahami realitas sejarah terdahulu, maka tafsiran sejarah tidak hanya dibutuhkan tapi kelak akan dikemas menjadi titik tolak untuk berbuat dan sedikit menghentikan langkah hanya untuk sekedar berdebat dan saling mengklaim akan eksistensi kebenaran kelompoknya masing-masing. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ilmu sejarah adalah suatu pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.  Manfaat dan kegunaan  yang dapat diambil dari kejadian yang telah lampau adalah pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu, dan dengan mempelajari maka dapat diambil hikmah/pelajaran dari peristiwa tersebut.

Ketika berbicara sejarah  bangsa ini maka  kita tidak luput untuk berbicara sejarah perjuangan HMI. Karena sejarah bangsa ini dan sejarah HMI ibarat dua gambar dalam satu kepingan uang logam yang tak dapat dipisahkan. Pada masanya HMI telah berjuang dalam mempertahankan NKRI dan memberantas pemberontakan PKI. pada masa orde baru  HMI bersama pemerintah berjuang bersama dalam membangun bangsa dimana pada masa ini Dinamika sejarah perjuangan HMI selalu di sinkronkan dalam perjuangan bangsa. Pada masa pergolakan pemikiran HMI berusaha memperjuangkan semangat tauhid pembebasan dalam mentransformasikan nilai-nilai keislaman dengan Ca’nur sebagai tokoh pembaharu pergolakan pemikiran islam dengan jargonnya  Islam Yes Partai Islam No. Disamping itu banyak sekali alumni HMI yang tersebar dari angkatan 47 sampai masa reformasi yang mengabdi pada umat dan bangsa ini.

Sejarah telah menorehkan tinta emas tentang perjalanan HMI akan tetapi itu semua hanyalah peristiwa masa lalu yang kini telah menjadi kenangan, jikalau kader HMI sekarang tidak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut. Harus ada pemahaman radikal dalam menelaah peristiwa sejarah dengan pendekatan yang relevan, agar hasil analisisnya itu tajam dan bisa siaktualisasikan untuk kemajuangan HMI yang lebih baik. Kader harus bisa membaca dimana letak relevansi sejarah perjuangan  HMI dalam kondisi umat dan bangsa terkini. Peristiwa sejarah perjuangan HMI haruslah memberikan motivasi, inspirasi dan solusi terhadap kondisi keumataan dan kebangsaan. Maka dari itu kader-kader HMI harus bisa menelaah segala kemungkinan yang ada dalam merealisasikan tujuan HMI.

Dalam merealisasikan tujuan HMI kader harus siap menjadi duta-duta keummatan dan kebangsaan dengan selalu berpegang teguh pada dua komitmen asasi (dua ide dasar kelahiran HMI, yakni:1)Mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.2)Mensyiarkan agama Islam. Kesatuan dari kedua wawasan ini (wawasan kebangsaan dan wawasan ke-Islaman) disebut dengan wawasan integralistik, yakni cara pandang yang utuh melihat bangsa Indonesia terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan sebagai warga Negara dan umat Islam Indonesia.

Tugas dan tanggung jawab itu terimplementasikan melalui kiprah sepak terjang HMI dalam setiap aktifitasnya, dan penilaian terhadap HMI pun senantiasa harus menggunakan tiga prespektif ruang dan waktu sekaligus, yakni past prespective, “present prespective” dan “future prespective”. Prespektif masa lalu adalah sejarah yang harus diambil pelajaran dari dinamika perjuangannya. prespektif sekarang ini menandai semua aktifitas riil HMI dalam menanggapi dinamika kekinian, dan prespektif masa depan dilandasi kenyataan bahwa HMI “hanyalah” organisasi yang menghimpun mahasiswa-mahasiswa yang kiprah konkritnya dalam kehidupan baru akan berlangsung di masa depan.

Ukonpurkonudin S. Hum

/ukonpurkonudin.blogspot.com

Arti Sebuah Nama..... Ketika cahaya hati bertambah bersinar. Cahaya kepalapun menjadi padam. Ketika cahaya hati menjadi sempurna. Cahaya kepala akan kembali berkilau. Hati ialah cerminan jiwa. Sedangkan jiwa adalah ruh. Ruh merupakan sesuatu yang ghaib. Dialah yang maha ghaib. Akal ialah sesuatu yang berharga. Yang dimiliki setiap insan manusia. Yang membedakan antara hak dan batil. Itulah Al-Furqan sebagian dari namanya. Furqon adalah namaku. Quran adalah jalan hidupku Muhamad adah nabi dan imamku Ka’bah adalah kiblat agamaku Allah adalah tuhanku Islam adalah agamaku Aku berserah diri Islam menjadi agama
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?