Kolom Demi Kolom (3)

20 September 2012 10:16:33 Dibaca :
Kolom Demi Kolom (3)
Rosihan Anwar

ADUH, ini bagian yang sulit karena saya terpaksa harus benar-benar membuka diri. Padahal, saya sejak lama menghindari penulisan model "aku" karena saya beranggapan siapalah saya sampai-sampai  "saya"  harus saya tugaskan sebagai pencerita dalam tulisan. Kalau fiksi, tak masalah. Sebab, aku dalam tulisan bukan aku yang  sebenarnya, melainkan aku fiksi. Namun kalau "saya" dalam tulisan nonfiksi, walah... kok saya kok tak enak hati betul nih. Takut sayanya  dibilang sok tahu, sombong, dan yang paling menyedihkan adalah kalau  ternyata kisah (fakta) saya itu tidak terlalu menarik. Heheee... Yah, itu sih pendapat saya saja yang nggak pe-de beraku-aku dalam tulisan. Nggak usah didenger! Ada banyak tulisan yang sangat bagus  meskipun ditulis dengan sangat personal. Terus terang saya juga termasuk orang yang terpukau dengan gaya tulisan personalnya (alm)  Rosihan Anwar, terutama saat menulis In Memoriam. Ada juga buku yang luar biasa yang best seller yang juga diterbitkan Indepth Publishing berjudul Menulis dengan Telinga karya Adian Saputra. Adian menulis dengan renyah dan enak pengalamannya merintis jalan kepenulisan dengan dengan gaya tutur "saya" ala blog. Kejujuran Adian menulis tentang menulis secara faktual apa yang dia alami sendiri menjadi daya tarik buku ini.

***

Mahap, mahap masih saja nganclong ke mana-mana. Saya segera masuk saja ke topik bagaimana saya membaca dan di antara membaca itu saya berkenalan dengan sebuah jenis tulisan bernama kolom. Sebelumnya saya bilang, agak sebel dengan definisi. Tapi, dengan sangat terpaksa saya comot saja sebuah uraian tentang jenis tulisan jurnalistik yang disebut kolom: Kolom sebagai forum diskusi mempunyai tempat terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi tertentu dan melihat kecendrungannya. Penulisan kolom disertai dengan nama penulisnya dan biasanya ditulis oleh orang luar yang memiliki keahlian sesuai dengan tulisannya. Kolom biasanya bercorak komis,komedis, anekdotis atau humoris, bahkan sarkastis atau bisa satiris. sehingga jenis tulisan ini lebih otonom. Tema kolom bisa sama dengan laporan utama, tapi bisa juga tidak. Dalam koran dikenali kekhususannya karena letak halamannya (editorial page), halaman ini biasanya diletakkan pula tajuk rencana dan opini para tokoh masyarakat yang bisa berbeda nadanya dengan editorial (opposite editorial). Isi kolom bisa bermacam-macam, mulai dari analisa, renungan atau sekadar komentar. Gaya penulisannya pun sangat bebas baik secara humor maupun reflektif. (dicomot dari artikel  di blog Menulis Kreatif, selengkapna klik aja:  "Beberapa Tulisan Jurnalistik") Begitulah kegemaran saya membaca membawa saya mengenal "kolom" setelah sebelumnya sedikit tahu tentang tulisan pada umumnya, cerpen, cerita bersambung, novel, puisi, drama, berita, karangan khas,  artikel, dan esai.

***

Sesuai namanya, kolom ... BERSAMBUNG Baca juga: Kolom Demi Kolom (1) Kolom Demi Kolom (2) Kolom Demi Kolom (4)

Udo Z Karzi

/udozkarzi

Tukang tulis. Lebih suka disebut begitu. Meskipun, jarang-jarang dibaca kompasianer. Hehee... Yang penting nulis aza. Biar nggak kenat-kenut...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?