Tyas Maulita
Tyas Maulita

Tinggalkan jejak dengan tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight

Menunggu Panen Tembakau

11 Juli 2017   08:05 Diperbarui: 11 Juli 2017   08:15 140 1 0
Menunggu Panen Tembakau
Dokumentasi Pribadi

Lereng Gunung Sumbing di Jawa Tengah, khususnya kawasan Temanggung hingga Wonosobo bagian timur merupakan daerah penghasil tembakau dengan kualitas terbaik.

Musim tanam tembakau telah dimulai sejak Mei lalu. Artinya, musim panen tembakau akan segera tiba, sekira bulan Agustus atau September. Menurut perkiraan, dalam kondisi normal, tembakau memerlukan masa 75 hari hingga 3 bulan hingga panen.

Penulis bukanlah berasal dari keluarga petani tembakau, atau berdomisili di kawasan perkebunan tembakau. Maka yang ingin dibahas bukan soal pembibitan hingga proses pemetikan daun Nicotiana Tabacum ini.

Melainkan, nostalgia dengan fenomena sosial yang terjadi ketika musim panen tiba.

Penduduk lereng gunung akan turun ke pasar-pasar di wilayah kota Wonosobo. Pasar induk, swalayan, dan toko-toko dibanjiri oleh mereka yang baru mendapat rezeki dari hasil panen.

Di masa ini, biasanya mereka membeli pakaian anak-anak, perlengkapan sekolah, hingga pekakas elektronik baru.

Sebagai pedagang barang bekas di pasar induk, bapak penulis turut kecipratan berkah. Di kalangan pedagang-pedagang kecil dan para petani, yang sudah menjadi langganan, tak jarang tembakau berlaku sebagai alat pembayaran.

Kios pun ramai didatangi pelanggan dari kalangan petani yang membayar barang dibeli sebelum masa panen, membeli barang baru, dan tak sedikit yang menyelipkan uang saku pada penulis, yang ketika itu masih anak-anak.

Ketika harga tembakau menurun, intensitas aliran jual beli pun turut terkena imbasnya. Jangankan tambahan uang saku, kadang bapak penulis justru mesti tombok pada pemilik barang jika barang yang dibeli belum dibayar lunas.

Sementara tembakau dalam simpanan juga tidak seberapa tinggi nilainya jika dijual. Begitulah kira-kira isi percakapan petani dan pedagang yang penulis dengar dari balik gorden yang menggantung di pintu.

Melihat keterkaitan antara daun tembakau dengan daur hidup masyarakat demikian, kadang penulis tak bisa menyalahkan bapak-bapak yang melinting kertas sigaret dengan isi tembakau, klembak dan cengkeh dengan tekunnya, lantas klepas-klepus di depan pintu sambil memikirkan jalan melancarkan kembali arus ekonomi rumah tangga.

Bagi mereka 'udud' bukan sumber penyakit, melainkan nafas kehidupan itu sendiri.