Tutut Setyorinie
Tutut Setyorinie Mahasiswa

A muslimah. Author. Novel Reader. Painter. Stargazer. And a public accountant in the future. Amen! | ūü•Ä @tututsety | ‚úČÔłŹ tututsetyorinie@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Pointillism, Mari Mewarnai dengan Titik

16 Juli 2017   12:47 Diperbarui: 16 Juli 2017   20:39 209 19 7
Pointillism, Mari Mewarnai dengan Titik
Pointillism. Sumber: http://www.pocko.com/wp-content/uploads/2014/07/Pointillism-FINALFULL.jpg

Pertama kali saya mendengar kata pointillism yaitu saat kunjungan Kompasiana Visit ke pabrik Faber Castell pada 11 Juli lalu. Saat itu, Faber Castell memperkenalkan lima teknik mewarnai yang terdapat di buku panduan dalam Connector Pen: Patterning, Pointillism, Squiggling, Shading, dan Contouring.

Entah mengapa saya tertarik untuk mencari tahu lebih tentang salah satu teknik yang sangat menarik namun cukup mudah untuk diterapkan, ya, pointillism. Dilihat dari suku katanya, pointillism memiliki makna point atau titik. Menurut hemat saya, pointillism merupakan teknik mewarnai dengan serangakaian titik. Sedangkan dilansir dari Wikipedia, pointillism atau pointilisme adalah salah satu teknik dalam lukisan yang memanipulasi ketidaksensitifan mata dalam meneliti detail kumpulan titik hingga mampu memberikan kesan keberadaan bidang atau warna baru.

Lukisan
Lukisan

Pointillism telah dikenal sejak tahun 1880an. Georges Seurat dianggap sebagai salah satu pelopor kemunculan aliran ini dalam dunia seni perlukisan. Karya Seurat yang berjudul "A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte" menjadi lukisan pointillismpaling terkenal yang dibuatnya selama lebih dari dua tahun. Woah!

Melukis dengan teknik pointillism sangat membutuhkan kesabaran dan disiplin tingkat tinggi. Karena yang biasanya kita dapat langsung mengarsir bebas, kini kita harus membubuhkan titik demi titik dari komposisi warna yang berbeda untuk memenuhi gambar. Pelukis pointillism biasanya memanfaatkan warna-warna primer yang saling ditimpa sehingga menghasilkan warna yang lebih cerah. Hal ini juga berfungsi sebagai ilusi bahwa sang pelukis menggunakan banyak warna dalam lukisannya.

Mari lihat kembali lukisan "A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte". Bila diperbesar, kita akan menemukan bahwa lukisan ini dihasilkan dari titik-titik warna yang berbeda.

A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=IiVL0Nox6T0
A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=IiVL0Nox6T0

Paduan warna ini yang akhirnya membuat lukisan tampak lebih cerah.

Berbekal rasa penasaran dan Connector Pen dari Faber Castell, akhirnya saya pun ikut mencoba untuk mewarnai dengan teknik pointillism ini. Karena saya bukan seorang pelukis andal apalagi pelukis majenun, jadilah saya hanya dapat menggambar beberapa bunga yang seadanya bin apa adanya.

sebelum diwarnai dan connector pen. -dokpri
sebelum diwarnai dan connector pen. -dokpri

Dimulailah teknik membubuhkan titik-titik warna untuk mengisi ruang gambar dengan Connector Pen. Saat ini saya baru percaya kalau Georges Seurat menyelesaikan lukisannya dalam dua tahun, karena teknik pointillism ini memang benar-benar membutuhkan kesabaran dan keteguhan yang luar biasa.

Satu hari kemudian.... Taraaaa!!

sudah diwarnai - Dokpri
sudah diwarnai - Dokpri

Tidak ada apa-apanya dibanding "A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jatte".

Karena kurang puas dengan hasil pertama, maka saya pun melakukan percobaan kedua. Kali ini saya tidak menggunakan Connector Pen, melainkan cat air dan juga pensil yang terdapat penghapus di ujungnya.

cat air dan pensil - dokpri
cat air dan pensil - dokpri

Seperti biasa, pertama-tama saya membuat kerangka gambarnya dahulu dengan pensil. Tidak perlu tebal-tebal, karena nantinya bekas pensil ini akan dihapus. Kali ini, saya mengambil tema buah-buahan A3P: alpukat, anggur, apel, dan pisang. 

sebelum diwarnai - Dokpri
sebelum diwarnai - Dokpri

Dan mulailah proses pewarnaan dengan pointillism. Mengapa saya membutuhkan pensil yang ada penghapus di ujungnya? Ini dikarenakan penghapus itu yang menjadi media pemindahan warna ke dalam gambar.

setengah jadi - Dokpri
setengah jadi - Dokpri

Kalau kalian bisa menggunakan teknik gradasi warna yang baik pasti hasilnya akan bagus sekali. Sayang, saya hanya pelukis amatir yang tidak jago-jago amat memainkan warna. Jadilah hasil akhirnya tampak seperti iniiiii....

sudah jadi - Dokpri
sudah jadi - Dokpri

Tentu masih tidak ada apa-apanya dibanding lukisan Georges Seurat, Affandi, ataupun Vincent Van Gogh. Karena bagi saya, mewarnai bukan hanya tentang seberapa bagus hasilnya, melainkan suatu cara penyaluran emosi dan pemenuhan hasrat yang selama ini hanya tersimpan di kepala. Mewarnai sama seperti dongeng, bukan suatuhal yang dilumrahkan hanya untuk anak kecil. Toh, kita juga membutuhkan "warna" untuk mengisi lembaran hari agar lebih menarik. 

Selamat berkreasi dengan warna!

---

Tutut Setyorinie, 16 Juli 2017